Sebelum melancong ke Bandung, aku berniat melepas kawat gigiku. Selain karena gigiku yang sudah rapih, aku juga terlalu malas untuk pulang-pergi dari Jakarta Bandung hanya untuk kontrol. Sebelum benar-benar pergi, aku dan Adul berencana bertemu untuk merayakan kelulusan kami berdua. Sebab, kurang dari dua minggu lagi aku akan berangkat ke Bandung dan Adul yang melancong ke Jogja.
Esok pagi setelah pengumuman SBMPTN, ponselku berdering berkali-kali. Begitu kulihat nama Adul yang tertera meneleponku tiada henti. Masih dengan senyum yang menyungging dan lamanan internet pengumuman kelulusan SBMPTN yang masih terbuka pada laptopku, aku menjawab panggilan tersebut. Namun, belum sempat ku ucapkan halo atau salam pembuka, suara Adul menggelegar dalam riangnya.
“Dek, gue keterima di UGM,” katanya memberitahukan berita bahagian yang membuncah diantara kita.
“Gue juga,” kataku senyumku semakin lebar hingga rentetan gigiku terlihat.
“Lo keterima dimana? Yang di UNDIP atau ITB?” tanya dengan nada suara yang benar-benar gembira.
“Gue keterima di ITB,” kataku diselingi tawa.
Adul ikut tertawa dibalik teleponnya. “Demi apa? Demi apa.”
“Sumpah,” jawabku mengacungkan dua jari yang tentu tidak dilihat oleh Adul.
“Ketemuan yuk ‘kan nanti kita bakal pisah kota,” ajaknya sedikit ada keraguan dalam suaranya.
“Boleh,” kataku tanpa ragu.
“Yaudah lo rapih-rapih deh, nanti jam 12 gue jemput,” katanya yang ku ‘iya-kan’ dan mengakhiri perbincangan kami berdua.
Sesampainya Adul di rumahku, senyumnya masih terukir dan menyapa kedua orang tuaku. Namun, ketika bertemu denganku kami sama-sama tersenyum lebar dalu melakukan salaman khusus yang kami ciptakan. Saling bergandengan tangan berjingkat-jingkat memutar menyerukan “Kita dapat PTN,” bersama-sama sambil tertawa. Memang terkesan heboh dan norak, tetapi siapa yang tidak bahagia mendapatkan perguruan tinggi negeri, apa lagi setelah menerjang badai yang begitu dahsyatnya. Rasanya belajar kami yang sampai mati itu tidaklah sia-sia.
Setelah pertemuan heboh di rumahku, kami memutuskan untuk pergi ke kedai kopi dekat sekolah SMA kami. Sekaligus menyapa dan melapor pada wali kelas kami perihal diterimanya kami di perguruan tinggi negeri agar masuk kedalam data murid-murid yang masuk PTN untuk sekolah. Kami duduk dekat jendela kaca besar kedai kopi tersebut. Setelah memesan kudapan kami, barulah kami berbincang-bincang.
Tentang nostalgia setahun kebelakang, bagaimana kami yang belajar tiada henti itu, bagaimana uang kami yang habis karena membeli buku soal-soal SBMPTN walaupun sudah dapat dari tempat bimbingan belajarnya Adul. Bagaimana tentang cairan merah yang tiba-tiba menetes pada hidung karena kelelahan. Cerita kami merembet kemana-mana, hingga menyisakan tawa lalu kembali lagi bercerita tidak ada henti-hentinya.