Cerita perkuliahanku tidak banyak menggoreskan kisah manis seperti sebagaimana aku SMA dulu. Karena dari awal masuk perkuliahan, aku seperti ditempa oleh ribuan balok yang akan membentukku menjadi manusia. Tugas-tugas itu datang secara tidak wajar, rasanya tidak ada hari tanpa tugas perkuliahan. Kisah persahabatanku juga terjalin sewajarnya, begitu pula dengan kisah cinta yang kubatasi. Sebab aku tidak mau kesalahanku terulang dua kali sama seperti ketika Adul menyatakan cinta.
Libur panjang juga tidak terlalu berkesan manis. Biasanya ku habiskan dengan mengunjungi orang tuaku yang berada di Jakarta, atau mengikuti seminar-seminar, membantu beberapa kating dalam proyek freelance-nya, membuat komik strip yang kusebar di sosial media, atau sekadar bertemu lagi dengan Adul dan Toma untuk melepas rindu.
Kedekatan aku dan Toma semakin lengket, karena Adul yang membawa Toma kembali ke dalam persahabatan aku dan Adul. Mereka kuliah di tempat yang sama dan sering menghabiskan waktu bersama, terlebih mereka yang satu kelompok ketika OSPEK. Maka dari itu mereka cukup dekat seperti aku dan Adul yang dulu. Hanya saja mereka memasuki fakultas yang berbeda, Adul memasuki Fakultas Hukum sedang Toma memasuki Fakultas Kedokteran.
“Lo dari kapan dah, Dek lepas behelnya?” tanya Adul menyeruput minuman pesanannya.
Hari libur panjang kenaikan tingkat kini sedang berlangsung, sehingga aku maupun Toma dan Adul mendapat libur panjang. Untuk melepas penat dari kebisingan tugas-tugas, kami setuju untuk berkumpul dan berbincang-bincang bersama di sebuah cafe daerah Kemang.
“Yang terakhir kita ketemuan besoknya gue ke dokter gigi,” jawabku
“Dek, lo gak ketemu Bone sama Jali disana?” tanya Adul membungkamku cukup lama.
“Bone masuk ITB?” tanyaku pada akhirnya.
“Iya, kalau gak salah dia di STEI, terus kalo Jali di FTTM,” jawab Adul datar.
Aku hanya ber-oh panjang mengangguk berusaha meredam gejolak hatiku.
“Lo gak ketemu mereka?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. “Nggak, ITB ‘kan luas.”
Adul berdecak. “Lo pikir UGM luasnya kayak SMP 49 yang kalau kesenggol dikit langsung sampai kanten? Gue aja yang beda jurusan sama Toma bisa ketemu.”
Aku terkekeh mendengar cibiran itu. Sampai Toma mengalihkan pembicaraan aku dan Adul.
“Eh, Dek. Gambar lo bagus deh,” kata Toma masih menyusuri sosial media keduaku yang aku khususkan untuk strip komik yang kubuat.
“Ya, dia jurusannya FSRD, pasti gambarnya bagus lah, Ma,” kata Adul menjawab.
“Maksud gue, sayang gitu kalau lo kendepin disini aja,” kelak Toma.
“Itu gue share di Ig, Ma. Berarti gak gue kendepin,” jawabku santai.
“Iya, lagian likes-nya udah banyak gitu. Tandanya gak di kendepin sama Adek,” kata Adul ikut nimbrung yang mendapat hantaman di bahu dari Toma.
“Maksud gue, sayang aja gitu. Gambar lo kayak gini ‘kan bisa dapat likes jauh lebih banyak. Kenapa lo gak coba bikin komik kayak di webtoon? Atau lo nerbitin komik cetak lo aja?”
“Ah, nyusahin gue, Ma. Lagian gue merasa gak usah buru-buru, biarkan karakter komik gue tumbuh pada waktunya,” kataku sok puitis yang mendapat olokan dari Adul.
“Anjay banget bahasa lo, Dek,” kata Adul yang membuat aku terkekeh. “Anak senja lo dasar.”