•••
"Mama, jepit rambut Sea yang kupu-kupu itu di mana?"
Gadis kecil berseragam sekolah dasar itu berteriak dari dalam kamarnya. Tak lama ia muncul, berlari kecil dengan tekukan wajah yang tampak menggemaskan.
"Ma?" ucapnya sembari menatap heran ke seisi rumah.
"Kenapa sih? Teriak-teriak mulu kerjaannya."
Misea Aurene, namanya. Panggilannya Sea, sebentar lagi, sepuluh tahun. Ia menoleh, mendapati seorang gadis tujuh tahun lebih tua darinya datang, dengan seragam putih abu yang juga sudah sama rapihnya.
"Kakak Del, Mama mana?"
Gadis berperawakan agak laki itu hanya mengedikkan bahunya cepat, kemudian berlalu, berjalan melewati Misea begitu saja. "Nggak tahu."
"Ih aku tanyain jawabannya begitu sih."
"Aku nggak tahu, Misea jelek. Kamu cari sendiri lah. Itukan Mama kamu," ucapnya. Dia Adelra Saphara, gadis tujuh belas tahun, si anak bungsu yang kerjaannya tak lain tak bukan adalah adu mulut dengan si cucu pertama ini. Misea biasa memanggil Adelra dengan sebutan Kakak Del. Sebab sebagai Tante, gadis tujuh belas tahun ini sangat menolak dipanggil serupa. Adelra merasa, dirinya masih sangat muda untuk dipanggil Tante.
"MAMA!"
"Jangan teriak-teriak, Misea!"
"Abisan Mamaku gak jawab-jawab. Sea kan butuh Mama."
Adelra sempat menoleh lagi, menatap Misea agak jengah. "Nggak semua hal kamu harus minta tolong terus sama Mamamu. Jangan ngerepotin deh, Se!"
Selalu seperti itu memang. Adelra tidak suka Misea, katanya.
"Ada apa sih? Masih pagi udah ribut aja, heran deh." Tak lama, setelah keributan kecil yang memang biasa Misea dan Adelra buat, si kakak kedua itu mesti datang, muncul begitu saja dari kamarnya dengan gelas kosong ditangan.
Cera Allysia, manusia dua puluh dua tahun yang tampaknya tak akan pernah tua. Wajah menggemaskan itu masih tercetak jelas di sana. Cera perlahan menghampiri Misea yang tengah menatapnya bingung.
"Ada apa Sea?"
"Mamaku mana?"
"Duh aku juga nggak tahu lagi, Se. Baru banget juga keluar kamar, nggak liat Mama kamu ke mana? Apa mungkin—"
"Assalamu'alaikum."
Ketiganya menoleh bersamaan kearah pintu rumah yang memang langsung terlihat dari sini, karena hanya dibatasi tembok samping saja.
"Waalaikumsalam. Nah itu Mama kamu."
Misea dengan cepat berlari, menghampiri seorang wanita dua puluh sembilan tahun yang berdiri di depan pintu rumah dengan tentengan kresek hitam di tangannya.
"Mamaaa!"
"Kenapa sayang?"