•••
"Kamu beneran gak apa-apa kalau bantu aku siap-siap dulu, Ce? Nanti telat gak ke Bakery nya?"
Zephira terlihat tengah sibuk merapihkan beberapa perlengkapan untuk membuka Florist hari ini. Bunga-bunga segar baru saja datang ke toko. Sementara Cera ikut untuk membantu kakaknya lebih dulu. "Nggak apa-apa, Kak Zephi. Santai aja."
"Ini mau taruh di mana, Kak?" Cera memegang beberapa bunga tulip putih di tangannya.
"Di sebelah sana aja, dia biasanya aku taruh di paling depan."
"Oke." Cera menaruh bunga tulip putih tadi ke tempat yang Zephira tunjukan. Dilihatnya, bunga tulip putih ini lebih banyak dari bunga-bunga lainnya hari ini.
"Kak, tulip putihnya banyak banget hari ini."
"Iya, semalam aku dapat pesenan buket bunga tulip putih untuk hari ini. Makannya aku minta kamu buat pisahin dulu aja," kata Zephira. Wanita itu masih sibuk menata beberapa perlengkapannya untuk merangkai buket itu.
Setelah semuanya siap, Zephira membuka toko bunga yang di beri nama Mère Botanique, oleh Ibu mereka dulu. Mère yang berarti Ibu, dan Botanique adalah tumbuhan, yang mana dapat di artikan jika tumbuhan-tumbuhan di sini tumbuh dengan kasih sayang dari seorang Ibu, ya Ibu mereka, ibaratnya seperti itu.
Tapi itu dulu.
Kini, namanya berubah, dengan harapan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan seperti menandakan jika Florist ini sudah pindah tangan. Florarie Zeph, Florarie berarti toko bunga dalam bahasa Rumania, dan Zeph di ambil dari nama Zephira.
Anggap saja, dia sedang mencoba membangunkan tempat yang tadinya sudah mati itu. Melanjutkan impian ibunya yang tak sempat besar.
Zephira sudah membalik papan close dengan tulisan open di baliknya. Menandakan jika toko bunga ini sudah kembali buka dan siapapun dapat membelinya.
"Ibu pasti senang banget kalau liat Florist nya sekarang sudah lebih baik, lebih bagus dari sebelumnya," ucap Cera, matanya menatap sekeliling toko bunga.
"Iya, Ce. Ibu kan sayang banget sama Florist ini."
"Iya, dulu, kamu sama— dia kan yang suka bantu ibu di sini."
Zephira tersenyum kecil. "Gak usah di bahas Ce."
Cera mengangguk, gadis itu mengusap pundak kakaknya perlahan. "Maaf ya, Kak. Tapi, Kakak udah gak kepikiran soal Delra tadi kan?"
"Aku gak bisa nyalahin dia juga, Ce. Delra juga gak tau yang terjadi sebenarnya kayak apa kan?" ucap Zephira.
"Kenapa kamu gak cerita sama dia? Delra udah cukup besar untuk tau itu."
"Kamu lihat Delra yang begitu, apa kamu percaya kalau setelah dia tau, semuanya tetap masih terjaga?"
Cera menghela napas pelan. Benar juga. Tidak ada rahasia yang bisa diharapkan tetap utuh jika seorang Adelra Saphara tau. "Benar juga sih kamu, Kak. Tapi— Delra akan tetap anggap semua salah kamu. Dan terus benci Misea seperti itu."
"Kita punya ikatan darah, Ce. Aku yakin Delra akan tetap sayang Sea. Terlepas dia akan terus anggap aku yang salah."