Kita Dalam Jarak Doa

Thedreamwriter
Chapter #3

Tokoh Dalam Ceritanya

•••


"Assalamualaikum, Mama!"

Zephira berdiri di halaman depan Florist dengan senyuman manis yang merekah. Menyambut kehadiran putri kecilnya yang baru saja turun dari bus jemputan sekolah yang mengantarnya sampai depan Florist seperti biasanya. Saat berangkat sekolah, Misea lebih sering bersama Meluna atau mungkin Zephira sendiri yang mengantarkannya dengan sebuah sepeda listrik, tapi saat pulang, Misea akan selalu ikut dengan bus jemputan.

"Waalaikumsalam, sayang." Zephira menyambut pelukan Misea dengan hangat. Membiarkan gadis kecil itu menciumi pipinya. 

"Sea kangen."

"Mama juga. Selalu kangen sama anak kecil ini."

"Masuk yuk! Sea ganti baju dulu, Mama udah siapin sphagetti carbonara kesukaan Sea di dalam," ucap Zephira yang langsung disahuti anggukan semangat dari Misea. Tidak butuh waktu lama, Misea langsung menggandeng tangan Zephira, menarik wanita itu agar dengan cepat masuk ke dalam Florist.

Di bagian belakang Florist memang ada beberapa ruangan lain, ruangan yang biasa digunakan untuk beristirahat, dan satu lagi sebuah dapur mini, barangkali mereka lapar, atau hanya sekedar ingin menyeduh susu, teh, atau kopi. 

"Selamat siang, Mbak Ami," ucap Misea, gadis itu menyapa seorang karyawan yang memang sudah ikut bekerja di sini sejak lima tahun terakhir itu.

Ya, Zephira memang mempekerjakan satu karyawan untuk membantunya di sini, bahkan kadang untuk menggantikannya berjaga jikalau dirinya ada kerjaan di luar, atau mungkin jika sedang sibuk dengan urusan anaknya ini. 

"Siang Adek."

"Sea masuk ke dalam dulu ya sama Mama, Sea lapar soalnya mau makan dulu."

"Oke. Selamat makan ya." 

"Mi, titip sebentar ya, saya temenin Sea dulu," kata Zephira. 

"Iya, siap, Bu!"

Setelah membalas ucapan Mbak Ami dengan senyuman manis, Misea kembali ikut dengan Sang Mama untuk segera menuju ke ruang belakang. Sesampainya di sana, Zephira membantu gadis kecilnya untuk mengganti seragam dengan pakaian santai saja, kaos putih dengan motif kupu-kupu di tengah, celana selutut berwarna merah jambu dan tak lupa rambut panjangnya yang diikat buntut kuda. 

"Mama, jepit rambutnya jangan lupa."

"Oh iya, hampir saja Mama lupa, sayang." Zephira meraih jepit rambut kupu-kupu berwarna biru yang tadi ia letakkan di atas meja kecil, Zephira memakaikannya di sisi kanan kepala Misea. 

Keduanya saling menatap, menerbitkan senyuman manis yang sama. "Cantik sekali anak Mama Zephi."

"Iya dong, Mamanya kan cantik."

"Sekarang waktunya makan, soalnya anak Mama ini sudah lapar sekali tau," kata Misea dengan bibir yang ia tekuk kecil. Zephira terkekeh kecil melihat tingkah lucu anaknya itu, kemudian mengusap pelan kepala Misea.

"Let's go!" 


***


"Del liat Del, ini penulis buku favorit lo sama Kak Luna kan ya?"

Adelra yang tadi tengah menikmati segelas es jeruk nya kini beralih menatap layar handphone Jemia yang diarahkan padanya. Tampak penulis anonim kesukaannya dan sang kakak, Meluna, sedang memegang sebuah buku yang belum mereka punya.

"Widih, iya Je. Ada buku baru kan dia? Gila ini mah gue kudu nabung lagi sih."

Adelra selalu bersemangat jika membicarakan tentang penulis anonim kesayangannya itu. Sudah sejak beberapa tahun terakhir ini Adelra memang suka membaca buku-bukunya yang sangat keren. Dan kata Adelra sih, related. Semua sebab buku pertama penulis anonim itu yang Adelra pinjam dari Meluna, buku pertama karyanya yang Adelra baca di umurnya yang baru lima belas tahun saat itu. 

Lihat selengkapnya