Kita Dalam Jarak Doa

Thedreamwriter
Chapter #4

Buku Kedua

•••

"Delra kemana, Lun?"

Cera baru saja sampai dirumah, gadis itu masih sibuk meletakkan flatshoes nya di atas rak sepatu yang ada didekat pintu masuk, setelah mengucapkan salam lebih dulu tadi. Sedangkan Meluna duduk di kursi ruang depan rumah, gadis itu hanya diam sembari menikmati kripik singkong yang ada di meja dengan segelas kopi dingin yang tadi dibelinya.

"Gak tau, Kak. Aku juga baru sampai belum lama tadi."

Cera menghampiri Meluna, duduk di sebelahnya. "Ngopi mulu."

"Pusing banget aku tuh Kak, ngerjain tugas yang nggak kelar-kelar ini."

"Jangan kebanyakan tapi! Over kopi nanti kamu."

Meluna tertawa singkat. "Bahasa apalagi itu Kak Cera."

Setelah menyahutinya dengan tawa singkat, Cera menelisik seisi rumah berukuran sederhana ini. Tampak sepi saja. Seperti hanya ada Meluna dan dirinya di sini.

"Kak Zephi? Sea? Gak ada juga?"

"Sea ada di kamar. Kalau Kak Zephi juga gak ada."

"Ke mana?"

"Sea bilang pergi ke luar. Cuma gak tau ke mananya."

Tidak biasa sekali Zephira keluar di jam-jam seperti ini. Sudah lewat waktu adzan isya lagi. Lalu, adik bungsunya juga. Anak sekolah mana yang belum kembali jam segini?

"Kakak Lun. Bantuin aku dong."

Tak lama terdengar suara si gadis kecil Misea itu dari arah belakang. Gadis yang sudah siap dengan piyama merah jambunya itu berjalan menghampiri mereka dengan sebuah buku gambar dan krayon.

"Eh, Kakak Ce udah pulang." Misea mengucapkannya dengan semangat, ia berlari kecil mendekati Cera dengan senyuman manis.

"Iya. Sea lagi apa?" tanya Cera.

"Ini, Sea lagi ngerjain tugas dari ibu guru." Misea meletakkan buku gambar berukuran A4 serta satu kotak krayon di atas meja. Membuat perhatian Cera maupun Meluna tertuju pada benda itu.

Terlihat, Misea sudah menggambar menggunakan pensilnya di atas kertas berukuran A4. "Wah bagus sekali gambarnya Sea. Ini siapa saja?"

"Ini kita, Kak. Tadi di sekolah, ibu guru kasih tugas untuk gambar anggota keluarga. Katanya ada aku, Mama, dan Papa. Tapi kan keluarga Sea ada Mama Zephi, Kak Cera, Kak Luna, sama Kakak Del. Jadi, Sea gambar kalian."

Cera dan Meluna tersenyum mendengar penuturan kecil Misea.

"Oh iya, Kakak Ce, Kakak Lun. Kenapa Sea tidak ada Papa? Kenapa Mama nggak pernah ajak Sea ketemu Papa?"

Meluna spontan menatap wajah Kakaknya, begitupun Cera, keduanya hanya saling bertatapan, bertukar kebingungan yang sama-sama beratnya.

"Hm ... tadi Sea minta aku untuk bantu apa?" Meluna dengan cepat berusaha mengalihkan ucapan gadis kecil itu.

Misea yang tadi menatap penuh harap, kini hanya tersenyum kecil seakan mengerti bahwa tidak akan ada jawab mengenai pertanyaan itu. "Sea minta bantuin untuk warnain ini, Kak Lun."

"Oh boleh, sini Kakak Lun bantuin ya."

"Sea sukanya warna apa?"

Meluna sebisa mungkin mengalihkan perhatian Misea yang tadi tertuju pada pertanyaan yang jawabannya tidak tau kapan akan di berikan. Sementara Cera hanya diam, menatap Misea yang kini sibuk mewarnai bersama Meluna dengan tatapan sendu. Ada kosong yang tetap berisi dari sudut pandangan Cera sekarang.

Se, kadang Kak Cera mikir, kalau waktunya tiba, kamu bisa nerima semua ini nggak ya? Kamu akan marah sama kita semua atau tidak? Apalagi sama Mamamu. Tapi, Sea harus tau, kalau kita semua sayang Sea. Apalagi Mama Zephi mu itu.

Lihat selengkapnya