•••
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Kak Zeph, dari mana? Sea nyariin kamu loh." Suara Cera terdengar setelah Zephira memasuki rumah sederhana mereka.
Perempuan itu menghela napas pelan, "Aku nyamperin Delra tadi, tapi anaknya tetap nggak mau pulang, Ce."
"Hah? Delra di mana emangnya? Aku nanya Luna juga dia nggak tahu tadi," kata Cera, dengan keningnya yang ia kerutkan, gadis ini juga bingung ke mana adik bungsunya itu pergi?
"Aku tadi dapat kabar dari temennya. Delra ikut balapan lagi di tempat biasa, Ce. Aku kesana dengan maksud mau ajak dia pulang, tapi ya, kayak biasanya aja, kamu kenal kan adekmu itu gimana?"
Cera menggeleng cepat. Memang tidak perlu heran lagi dengan kelakuan manusia aneh satu itu. Bukan Adelra namanya kalau tidak bikin masalah. "Di mana tempatnya? Biar Cera yang ke sana."
"Gak usah, Ce, nanti—"
"Kak, Cera mau samperin dia. Kak Zephi temuin Sea aja dulu, temenin dia tidur. Delra biar Cera yang urus," kata Cera dengan tegasnya.
"Tapi udah malam Ce."
"Cera ajak Luna." Cera yang belum sempat mengganti pakaian dan hanya melepas hoodie nya saja tadi, langsung kembali meraih benda itu yang masih ada di atas sofa, "Luna, ikut aku ayo!"
"Ce, jangan teriak-teriak! Tunggu sini, aku yang panggilin Luna."
"Ya sudah. Bilang Luna aku tunggu di depan."
Cera bergegas kearah depan, mengambil kunci motornya dari atas meja, sedangkan kakaknya, Zephira, berjalan kearah kamar Meluna untuk memanggil adiknya itu.
Tapi, saat sampai di kamar Meluna, dia tidak menemukan adiknya. "Lun?"
"Luna," katanya pelan, saat matanya sudah menangkap keberadaan Meluna, yang ternyata kini berada di dalam kamar Zephira bersama Misea.
"Mama!"
Zephira tersenyum mendengar panggilan manis itu terucap. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar, mendekati ranjang dan duduk di atas kasur, berhadapan dengan Meluna yang menatapnya bingung.
"Mama ke mana? Sea kan nyariin Mama," kata Misea, gadis kecil itu mendekat kearah Zephira, duduk di pangkuannya.
"Maaf ya sayang, Mama lama tinggalin Sea nya."
"Mama nggak pergi lagi kan?"
"Nggak kok. Abis ini Mama mau temenin Sea tidur. Ya?"
Misea, gadis kecil itu tersenyum senang. Memeluk tubuh Mamanya dan mendusel manja. "Yeayy, tidur sama Mama Zephi. Ayo!"
"Iya. Tapi Mama izin sebentar dulu ya, Mama mau bicara sama Kak Luna dulu. Sebentar saja."
Bibir Misea sedikit menekuk, "Ya sudah deh. Sea tunggu Mama di sini ya."
"Iya sayang, Sea tunggu Mama sebentar ya." Zephira mengelus lembut kepala putri kecilnya. Perlahan pula gadis kecil itu turun dari pangkuan Zephira.
Meluna masih menatapnya heran. "Kenapa sih, Kak?"
"Sini dulu!" Zephira menarik tangan Meluna, kearah dekat dengan pintu kamar, sedikit menjauh dari anak kecil itu. "Temenin Cera buat jemput Delra ya? Udah malam soalnya, bahaya kalau dia sendirian."
"Emang Delra ke mana? Masih belum pulang juga?"
"Belum. Dia ikut balapan lagi. Tadi aku udah kesana, tapi tetap dia nggak mau pulang. Aku masih mau maksa, tapi tadi Sea chat aku pakai hp kamu kan? Aku nggak bisa tinggalin Sea lama-lama, makannya aku buru-buru pulang tadi," jelas Zephira.
Meluna mengangguk pelan, "Iya, Luna temenin Kak Cera. Kakak jaga rumah saja sama Sea."
"Bandel banget punya adek satu doang, ngeribetin," dumel Meluna dengan wajah kesalnya.
Zephira hanya tersenyum kecil, tertawa pelan sembari mengusap punggung adiknya. "Yang sabar. Kita bicarain pelan-pelan nanti."
"Ya sudah. Luna berangkat dulu Kak."
"Hati-hati ya. Kabarin aku kalau ada apa-apa!"