•••
Semenjak pertengkaran malam itu, suasana rumah terasa lebih sepi, lebih canggung, bahkan nyamannya pun seperti menghilang perlahan. Zephira mungkin biasa saja, kelihatannya. Dia masih sering mengajak Adelra berbicara, ya, jika memang harus.
Sementara itu, berbeda dengan Meluna yang terkesan mendiami Adelra belakangan ini. Padahal keduanya setiap hari pasti bertemu lebih intens, karena, mereka tidur sekamar bukan?
"Misea beneran mau berangkat sekolah? Kalau kurang enak badan, nggak perlu sekolah hari ini gak apa-apa kok, Nak. Nanti Mama izin ke gurunya Sea," ucap Zephira. Wanita itu berlutut di lantai, tepat di hadapan Misea yang kini duduk di pinggiran kasur.
Gadis sepuluh tahun itu tersenyum kecil, mengangguk pelan. "Sea baik aja kok, Ma. Sea mau sekolah. Soalnya hari ini ada kelas menggambar. Sea nggak sabar banget."
Zephira menghela napasnya perlahan, ia pegang tangan Misea, mengelusnya, "Ya sudah. Tapi janji, kalau nanti Sea merasa kurang sehat, bilang sama ibu guru untuk izin ya, nanti telepon Mama, biar Mama yang jemput Sea," jelas Zephira yang diangguki oleh Misea.
Tunggu, tapi ada yang terasa berbeda dengan penampilan Mamanya pagi ini. Biasanya kalau pagi-pagi seperti ini, Zephira masih menggunakan piyamanya, atau, dengan celana selutut dan kaos oversize seperti biasa.
"Mama mau ke mana? Kok sudah rapih sekali."
Zephira sudah rapih, dengan celana bahan putih, dan kemeja garis-garis biru nya itu. "Mama mau ada kerjaan di luar hari ini sayang. Jadi, sekalian saja, Mama yang antar Sea ke sekolah gimana? Tapi kita naik bus. Mau?"
Wajah Misea terlihat sangat bersemangat, gadis kecil itu berteriak senang. "Mauuuu, Sea mau banget, Ma. Yeayy, berangkat sama Mama Zephi," ucap Misea, terakhir, ia memajukan tubuhnya, memeluk tubuh sang Mama di hadapannya itu.
"Terima kasih, Sea sayang Mama Zephi selamanya."
"Sama-sama, sayang. I love you, more."
Zephira melepaskan pelukan mereka, "Lebih baik sekarang kita sarapan dulu bareng Kakak-kakak di depan, soalnya naik bus pasti lama, supaya Sea tidak telat."
"Ayo Mama!"
Misea turun dari kasur, menggandeng tangan kiri Zephira. Sementara Zephira lebih dulu menggantungkan tas selempangnya di pundak kanan, dan tas ransel sekolah Misea di genggaman tangan kanannya.
Keduanya keluar, menuju kearah ruang makan untuk menghampiri adik-adik Zephira yang sepertinya sudah siap di sana.
"Pagi Kak Cera, Kak Luna," ucap Misea, ia berlari kecil menuju kursi di ruang makan sederhana mereka.
"Pagi juga anak cantik," sahut Cera dan Meluna bersamaan.
"Kamu udah siap banget ya mau sekolah?" sahut Meluna, tangannya mencubit pelan pipi kiri Misea.
"Siap banget, Kak Lun. Apalagi hari ini Mama Zephi yang antar Sea ke sekolah."
Cera dengan sepontan menatap kearah kakaknya itu. "Loh Kak, mau ke mana emangnya?"
"Aku ada kerjaan di luar Ce. Mau ketemuan sama penulis yang minta naskahnya aku editin," ucap Zephira yang kini menarik sebuah kursi untuk duduk.
Setelah duduk di kursinya, Zephira sadar ada sesuatu yang terasa kurang. Kursi sebelah Meluna masih kosong, seharusnya yang kosong hanya kursi di kanannya saja. "Delra mana?" tanya Zephira.
Meluna hanya mengedikan bahu, lalu lanjut makan saja. Sementara Cera yang tadi sedang meneguk air di gelas, kini menatap Zephira perlahan.
"Masih di kamar, Kak."
"Udah bangun kan tapi? Takutnya kesiangan loh. Dia kan harus sekolah."
"Peduli amat sih, Kak. Kayak dia mikirin kamu aja," ketus Meluna.
"Luna. Udah ah, nggak usah diperpanjang gitu," sahut Zephira.
Zephira menoleh kearah kamar Adelra dan Meluna yang masih tertutup rapat pintunya. Lalu mengalihkan pandangan pada Misea sekejap. "Mama mau samperin Kakak Del dulu. Sea tunggu sebentar ya!"
"Iya, Ma."
Setelah meminta izin sekejap pada gadis kecilnya, Zephira bangkit dari kursi, berjalan perlahan menghampiri Adelra yang katanya masih di kamar.
Saat pintu kamar terbuka, gadis tujuh belas tahun itu tengah duduk di kursi yang mana di hadapannya ada meja kecil berisi beberapa perlengkapan wajahnya dan Meluna, serta sebuah cermin berukuran sedang. Adelra terlihat merapihkan rambutnya dengan sisir.
"Del, makan dulu!"
Adelra tak menoleh, dia hanya menatap wajah kakaknya dari pantulan cermin saja. Sebab, cermin mengarah langsung pada pintu masuk. "Delra makan di kantin aja nanti."
"Kakak udah masak, uangnya nanti bisa buat kamu beliin yang lain kan? Makan dulu aja!"
"Nggak lapar."
Sudah tiga hari ini memang, Adelra terkesan menjauh, bukan menjauh yang bagaimana, lebih pada ... menghindar saja. Terlebih dengannya dan ... Meluna. Sebab Meluna yang terlihat sangat memusuhinya.
"Kakak siapin bekal aja ya buat makan di sekolah."
"Nggak usah, Kak."
"Kakak siapin," ucap Zephira tak mau kalah, wanita itu menutup kembali pintu kamar setelah mengucapkan kalimat terakhir. Dengan cepat, Zephira menuju kearah dapur lalu kembali ke meja makan dengan membawa sebuah kotak bekal berwarna biru.
Cera, Meluna, dan Misea terheran melihat Zephira yang tampak sibuk sendiri memasukkan nasi serta lauk ke dalam kotak bekal tersebut.
"Bekal Sea kan sudah Mama siapin tadi. Itu buat siapa?" tanya Misea dengan wajah polosnya.
"Ini buat Kakak Del, sayang."
"Oh Kakak Del sekarang mau bawa bekal juga ya, Ma kayak Sea?"
Zephira mengangguk dan tersenyum manis. "Iya sayang."
"Kalau anaknya nggak mau makan biarin aja kenapa sih, Kak? Ngelunjak lama-lama kalau dibaikin terus. Sekali-kali dibiarin, biar sadar diri," ucap Meluna, nada bicaranya terdengar sangat kesal.