Kita Dalam Jarak Doa

Thedreamwriter
Chapter #7

6. Misea?

•••

Zephira berlari menyusuri lorong rumah sakit yang tampak sepi. Dadanya terasa tak karuan sejak tadi. Sejak mendapatkan kabar mengenai Misea dari gurunya di sekolah. Katanya, gadis kecil itu sakit.

Sea, jangan buat Mama panik, batinnya.

Hingga langkah kaki itu terhenti di depan sebuah ruangan. "Permisi, Bu Tara ya?"

"Iya. Ibu Zephira?"

Zephira mengangguk cepat. "Iya, saya Zephira, Mamanya Misea."

"Sebenarnya anak saya kenapa?"

"Tadi Sea pingsan di kelas, Bu. Saya juga tidak tahu. Pagi tadi, dia baik-baik saja. Dia bahkan sempat bermain sama temannya. Makannya langsung saya bawa kesini dan hubungi Ibu."

Zephira menghela napasnya dalam. Meredakan rasa panik yang mematikan itu dari dalam dirinya.

"Sea ada di dalam. Ibu bisa langsung temui saja. Kebetulan saya harus kembali ke sekolah lagi. Tidak apa-apa kalau saya tinggal?" kata guru wanita itu.

"Iya. Terima kasih banyak ya, Bu. Terima kasih sudah bawa Sea ke sini lebih dulu."

"Sama-sama. Saya permisi ya."

Mereka sempat bersalaman, sampai akhirnya guru Misea pergi dari hadapan Zephira. Lalu setelahnya, Zephira dengan perlahan membuka pintu ruangan, melangkah mendekati brankar rumah sakit yang kini di tempati anaknya.

Seorang dokter berdiri di sebelah brankar Misea, sempat melihat kearah Zephira yang mendekat. "Ibu keluarga adik ini?"

"Iya, Dok. Saya Mamanya. Anak saya gimana?" ujar Zephira.

"Tekanan darahnya sangat rendah, dan kadar sel darahnya juga di bawah normal, jauh di bawah yang seharusnya."

"Sel darah? Maksud Dokter, anak saya kekurangan darah?" tanya Zephira.

"Iya, tapi bukan sekadar anemia biasa. Dari hasil pemeriksaan awal, tubuhnya hampir tidak memproduksi sel darah baru, baik sel darah merah, putih, maupun trombosit. Itu sebabnya dia cepat lelah, pucat, dan mudah pingsan."

"Lalu, saya harus apa Dokter? Anak saya akan baik-baik saja kan?"

"Kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk memeriksa sumsum tulangnya, untuk tahu kenapa tubuhnya berhenti memproduksi sel darah. Tanpa itu, kami tidak bisa memastikan penyebab pastinya."

"Tolong lakukan yang terbaik ya, Dok."

"Iya, kemungkinan anak Ibu harus di rawat beberapa hari ini di sini untuk memastikan dia benar-benar pulih, dan untuk melakukan pemeriksaan lanjut."

"Saya tinggal dulu. Mari."

"Terima kasih Dokter."

Jujur, setelah kepergian dokter itu, Zephira makin tak karuan rasanya. Ibu mana yang tidak cemas jika mendengar anaknya tidak baik-baik saja? Zephira mengusap kepala Misea perlahan, sedikit tersenyum perih. "Sea, jangan kenapa-kenapa. Mama sedih loh."

Perlahan, mata gadis kecil itu mulai terbuka, yang pertama muncul selain senyuman kecil adalah suaranya yang memanggil, "Mama."

"Iya sayang. Sea apa yang di rasa? Tubuh Sea ada yang sakit?"

Misea menggeleng pelan. "Sea baik-baik aja, Mama."

"Kalau Sea baik, kenapa Sea ada di sini? Mama khawatir."

"Maafin Sea ya Ma."

Lihat selengkapnya