•••
"Kak ...."
Zephira mencoba tersenyum dengan sebuah anggukan kepala cepat. "Nggak apa-apa, Ce. Sea baik-baik aja kok."
Cera tatap wajah penuh luka sang kakak. Bukan Zephira memang jika tidak berpura-pura. Semua berharap Misea akan baik-baik saja, namun kenyataan yang ada sekarang sebaliknya. Zephira, hanya sedang membohongi dirinya untuk beberapa saat.
Air mata itu terus turun tanpa celah, berkali-kali Zephira coba hapus, tapi berkali-kali juga turun lagi. Akhirnya iya menyerah untuk terlihat baik-baik saja. Zephira dengan cepat menutup seluruh wajahnya, mengeluarkan tangis terisak yang sudah ia tahan sejak tadi, sejak diagnosa dokter untuk Misea terucap.
Ini mungkin memang bukan pertama kalinya Cera melihat Zephira menangis, tapi ini pertama kalinya, Zephira benar-benar terlihat hancur.
"Misea ... Nak, maafin Mama," lirih Zephira disela tangisnya. Ia tatap lorong kosong di sepanjang matanya memandang. Dadanya naik turun menahan sesak yang berlebihan.
"Ada Cera, Kak. Ada Luna, ada Delra juga, kita semua jagain Sea sama-sama ya?" ucap Cera.
Mendengar itu, Zephira mengangguk. Kepalanya menoleh ke arah Cera yang sejak tadi berdiri di samping kanannya. "Misea punya kita, Ce. Misea akan baik-baik aja."
"Pasti, Kak."
"Kakak, ibu yang sangat kuat. Yang terbaik untuk Misea," ucap Cera lirih, jemarinya tak berhenti mengusap bahu Zephira yang masih bergetar hebat.
Zephira tertawa getir disela isakannya, suara itu terdengar parau dan menyayat. "Ibu mana yang kuat kalau tahu anaknya nggak baik-baik aja, Ce?"
Cera terdiam, hatinya seperti diremas mendengar pertanyaan retoris yang menyakitkan itu.
"Aku takut, Ce," lanjut Zephira, suaranya kini berbisik, hampir tak terdengar di antara kebisingan lorong rumah sakit yang samar.
"Aku takut kalau nanti waktunya habis. Aku takut nggak punya banyak waktu lagi untuk sama Sea. Sementara aku belum sempat kasih tahu semuanya, semua yang seharusnya Misea tahu."
Zephira kembali menunduk, membiarkan air matanya jatuh tanpa berusaha menahannya lagi. "Tiap kali liat dia tidur, aku merasa seperti sedang mencuri waktu dari takdir. Aku merasa— ada yang seharusnya aku katakan sama dia, tapi aku kubur, kubur terus."
Cera menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya. Ia tidak ingin membiarkan kakaknya larut lebih jauh dalam rasa bersalah. "Kak, dengerin aku. Akan selalu ada waktu dimana yang sudah seharusnya Sea tahu akan dia tahu. Tapi mungkin memang belum sekarang."
"Jangan pernah berpikir kamu gagal, Kak. Sepuluh tahun aku lihat gimana kamu sangat mencintai Misea Aurene, menjaga Misea seperti kamu menjaga nyawamu sendiri, bahkan lebih dari itu. Misea, nggak butuh ibu yang sempurna. Dia cuma butuh Kak Zephi. Dia butuh pelukan Kakak, suara Kakak, dan keberadaan Kakak. Itu satu-satunya yang akan membuat dia kuat nanti."
Zephira menatap adiknya dengan pandangan kosong, mencoba mencerna kata-kata itu. "Udah terlalu banyak rahasia yang aku sembunyiin dari Sea, Ce. Bahkan untuk penyakit ini. Aku rasanya nggak tega."
"Sepertinya memang lebih baik aku—"
"Nggak. Kita punya waktu, kita bisa pikirin ini baik-baik sambil mencari yang cocok."
"Kemungkinannya kecil, Ce. Kalau bukan dari keluarga dari mana lagi? Dan aku—"
"Dan kamu orang yang paling berharga untuk Misea, Kak. Kita punya banyak cara. Jangan gegabah! Cera bantu, Kak," ucap Cera meyakinkan.
Zephira masih sesenggukan, "Tapi, gimana kalau Sea nggak punya banyak waktu?" ucap Zephira dengan suara getar yang lirih.
Cera menggeleng kuat, memegang kedua pundak kakaknya untuk meyakinkan. "Nggak. Misea, Kak Zephira, dan kita semua punya banyak waktu. Kita cari jalannya sama-sama ya?"
"Hapus air matanya, Kak. Misea pasti nungguin Kakak. Kalau dia liat Kakak hancur begini, dia bakal ngerasa sedih. Kakak nggak mau Sea sedih kan?"
Zephira menggeleng pelan, meski bibirnya masih terkatup rapat.
"Kita masuk sekarang ya? Temuin dia," ajak Cera sambil menepuk pelan punggung kakaknya.
"Luna juga masih ada di kamar rawat Sea. Kita temuin mereka sekarang ya, tunjukin kalau Kakak baik-baik saja, setidaknya untuk hari ini. Bisa?"
Zephira memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan kembali serpihan kekuatannya yang tersisa. Ia mengangguk pelan, lalu berdiri tegak meski kakinya terasa berat. "Ayo!" gumam Zephira, suaranya kini sedikit lebih stabil meski masih menyisakan nada lelah yang mendalam.
Zephira dan Cera melangkah beriringan menyusuri koridor yang dingin. Suara detak sepatu mereka di atas lantai keramik seolah menjadi pengiring detak jantung Zephira yang masih tidak karuan. Sepanjang jalan, Zephira berkali-kali menarik napas dalam, membasuh wajahnya dengan telapak tangan, memastikan tidak ada lagi jejak air mata yang tertinggal. Dia harus menjadi tameng, dia harus menjadi dunia yang utuh bagi Misea.
Begitu pintu kamar rawat terbuka, suasana di dalam ruangan kontras dengan ketegangan di luar. Misea sudah duduk bersandar di ranjangnya, tampak sedikit lebih cerah meski wajahnya masih pucat. Di sisi kanan ranjang, Meluna duduk di kursi, sibuk menggerak-gerakkan boneka kelinci putih milik Misea seolah kelinci itu sedang bercerita.
Suara Meluna terdengar ceria, diselingi tawa kecil Misea. Begitu menyadari Zephira dan Cera masuk ke dalam ruangan, Misea dengan cepat mengalihkan pandangan pada dunianya itu.
"Mama Zephi!" seru Misea seketika, saat matanya menangkap sosok Zephira. Sinar matanya seolah menyala, rasa sakit yang menyanderanya beberapa saat lalu seakan melepas karena kehadiran sang mama.