•••
Dua minggu telah berlalu sejak hari di mana vonis dokter berikan pada Misea. Misea kini sudah dibawa pulang. Sudah beberapa hari ini juga Misea mulai sekolah lagi, sudah juga kembali ke kamar kesayangannya dan Zephira di rumah, dengan seprai berwarna pastel dan boneka-boneka yang berjajar rapi di atas nakas. Meskipun, itu tidak berarti semuanya sudah baik-baik saja. Jadwal kontrol mingguan ke rumah sakit tetap akan menjadi rutinitas Misea setelahnya.
Pintu depan terbuka, menyisakan derit pelan yang memecah keheningan rumah. Misea melangkah masuk dengan sisa energinya, ia memegang satu paper bag kecil berisi salad buah yang tadi Meluna belikan di jalan pulang. Begitu sampai di ruang tamu, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa, menghela napas panjang seolah perjalanan dari sekolah sangatlah melelahkan.
Hari ini Misea berangkat dan pulang sekolah bersama Meluna. Sebab, sejak seminggu lalu Meluna memang sedang libur semester. Kalau Cera sudah berangkat sejak pagi untuk bekerja di bakery seperti biasa. Adelra sekolah, dan Zephira ... dia menjaga florist seperti hari-hari biasanya.
"Capek banget, Kak Luna," keluh Misea. Ia meletakkan paper bag yang dipegangnya di atas meja, lalu menatap Meluna dengan mata yang tampak sayu.
Meluna yang baru saja menutup pintu, segera menghampiri. Ia mengusap bahu Misea dengan lembut. "Iya, Sayang. Istirahat dulu ya? Mau Kak Luna ambilin minum?"
Misea menggeleng pelan. Ia menunjuk paper bag yang tadi dirinya bawa selama perjalanan pulang, sebuah wadah berisi salad buah yang dibeli di toko depan sekolah. "Nggak mau minum. Mau itu aja. Kak Luna tolong bukain buat Sea, ya?"
Meluna tersenyum tipis, "Oke, Bos Kecil. Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana!"
Meluna mengambil paper bag itu dan melangkah ke arah dapur. Ia memperhatikan salad buah yang dibelinya, potongan apel, anggur, dan melon yang dibalut saus mayones serta keju parut. Belakangan ini napsu makan Misea sedang naik-turun. Jadi jika Misea meminta sesuatu yang ingin dia makan, pasti dibelikan, selagi itu tidak bertolak belakang dengan kebutuhannya.
Setelah menyiapkan semuanya dengan rapi, Meluna kembali ke ruang tamu. Misea masih di posisi yang sama, duduk bersandar, menatap kosong ke arah layar televisi yang mati.
"Nih, salad buah untuk Misea," ucap Meluna sembari meletakkan mangkuk itu di atas meja kecil di depan Misea. Ia duduk di samping keponakannya, lalu mulai mengaduk salad itu agar sausnya merata.
Misea menegakkan duduknya sedikit, matanya berbinar meski bibirnya tampak pucat. "Wah, kejunya banyak! Makasih, Kak Luna."
"Sama-sama. Pelan-pelan makannya, jangan sampai keselek," ingat Meluna sambil menyodorkan sendok pertama pada Misea.
Misea menerima suapan itu dengan lahap. "Enak. Mama Zephi pasti suka kalau aku makan banyak, kan, Kak?"
"Pasti dong. Mama pasti senang banget kalau lihat kamu makannya pinter," jawab Meluna.
"Oh iya, tadi di sekolah ada kabar seru nggak? Katanya kemarin ada tugas bikin prakarya ya? Kamu bikin apa?"
Misea langsung antusias. Matanya yang tadinya agak redup kini berbinar, melupakan rasa penatnya. "Iya! Aku bikin figura foto dari stik es krim, Kak. Aku hias pakai stiker bunga-bunga yang Mama beliin."
"Wah, pasti bagus banget. Ada nggak figuranya? Kak Luna mau lihat dong."
"Aku bawa pulang kok!" Misea menunjuk tas sekolahnya dengan dagu. "Tadi aku masukin ke saku depan tas biar nggak rusak."
"Boleh Kak Luna lihat?"
Misea mengangguk semangat. Dengan bantuan Meluna, ia menarik keluar figura kecil berwarna cokelat kayu yang dihiasi stiker bunga-bunga kecil. Figura itu Misea isi dengan foto kecilnya bersama sang mama, Zephira.
"Cantik sekali," puji Meluna tulus. "Ini mau ditaruh di mana? Di meja belajar atau di samping tempat tidur?"
"Di samping tempat tidur Mama Zephi aja, biar kalau Mama capek kerja, Mama bisa lihat foto kita," jawab Misea polos.
Meluna terdiam sejenak. Ia melihat figura itu, lalu menatap Misea yang tampak begitu bahagia hanya dengan keberhasilan kecilnya di sekolah. Di tengah segala ketidakpastian yang mereka hadapi, keinginan Misea hanya sesederhana itu—memberikan sesuatu yang bisa membuat mamanya tersenyum.
"Ide bagus. Mama Zephi pasti bakal senang banget lihat ini pas pulang nanti," ucap Meluna lembut.
Misea tersenyum lebar, lalu kembali menyuap potongan melon ke mulutnya.
"Habis makan saladnya, Sea ganti baju dulu ya?" ujar Meluna.
"Mandinya nanti sore aja ya, Kak Luna."
"Iya sayang. Ganti seragamnya sama baju santai aja. Abis itu kita siap-siap bobo siang."
Mendengar ucapan Meluna, Misea menggeleng cepat. Gadis itu seakan tidak mengiyakan apa yang tantenya ucapkan. "Nggak mau, Kak Luna. Sea nggak mau bobo siang, Sea mau menggambar aja."
"Loh, Sea nggak ingat kata Mama Zephi tadi pagi? Abis pulang sekolah harus istirahat." Meluna mengusap kepala samping kanan Misea perlahan, menatap sendu gadis kecil yang masih lahap menikmati salad buahnya.
"Menggambar kan nggak capek, Kak. Cuma duduk aja di sini. Ya? Nanti kalau udah ngantuk, baru bobo," ujar Misea dengan cerewetnya itu.