Kita Dalam Jarak Doa

Thedreamwriter
Chapter #10

9. Menipu Waktu

•••

Zephira yang baru sampai di rumah langsung buru-buru menaruh barang belanjaannya di dekat meja makan. Kakinya dengan cepat melangkah ke dalam kamarnya dan Misea.

"Assalamualaikum," ucap Zephira saat pintu kamar terbuka. Tampak Meluna yang kini duduk diatas kasur sembari mengusap-usap punggung Misea. Sedangkan gadis kecil itu masih sesenggukan, dengan wajah yang memerah gemas.

"Waalaikumsalam."

"Sea," ujar Zephira yang kini mendekat. Perempuan ini berlutut di samping tempat tidur, tepat dihadapan Misea.

"Mama," rengek Misea pelan.

"Sea kenapa sayang? Apa yang dirasa, Nak?" Zephira bertanya sembari mengusap-usap wajah gadis kecilnya yang basah.

Misea yang masih sesenggukan itu berbicara dengan terbata-bata. Matanya lugu menatap Zephira. "Tadi— Sea kan bobo. Tap—pi, tapi Sea— bangun. Perut Sea nggak enak. Sea— ajak Kak Luna ke kamar mandi. Ter—us muntah."

Aduan itu kecil tapi terasa nyeri di dada Zephira saat mendengarnya. "Iya-iya, Mama mengerti. Nggak apa-apa sayang, mungkin karena Misea kan baru sembuh ya. Nggak apa-apa."

"Sini peluk Mamanya dulu!" Zephira beranjak untuk duduk di sisi kanan Misea, meraih gadis kecil itu untuk ia rengkuh tubuhnya perlahan. Sementara akhirnya Misea memilih untuk duduk dipangkuan Zephira.

"Sea mau dipangku Mama aja."

"Iya, sini sayang sama Mama."

Misea menyandarkan kepalanya pada dada sang mama, mendusel disana. Seperti sudah menemukan tempat yang nyaman dan aman untuknya, lalu Zephira sibuk mengusap-usap kepala sang putri dengan sesekali mencium kepala Misea.

"Sea masih ngantuk tidak?"

"Iya."

"Kalau masih ngantuk, Sea bobo lagi aja, Mama temenin di sini ya?" kata Zephira.

Misea mendongak, menatap sendu Zephira. "Nanti Misea muntah lagi gimana? Nanti— kalau kena Mama gimana?"

"Nggak apa-apa, Nak. Kan nanti Mama bisa ganti baju. Yang penting sekarang Misea bobo aja kalau masih ngantuk. Semoga abis ini nggak muntah lagi ya," tutur Zephira menenangkan.

Zephira tersenyum kecil pada Misea yang masih menatapnya, "Tadi perutnya sudah di usap-usap sama minyak angin kan sama Kak Luna."

"Sudah, Ma. Tadi Kak Luna sudah usap-usap perut Sea. Sekarang sudah hangat. Lebih hangat lagi karena dipeluk Mama."

"Ya sudah kalau begitu. Bobo lagi ya, Nak."

"Iya, Ma."

Meluna diam, tapi bibirnya mengukir sebuah senyum kecil yang tampak seperti rasa kagum tanpa ujung.

Bagi Meluna, jika hanya ada satu orang yang berhak untuk Misea sebut dengan sebutan Mama, memang hanya Zephira orangnya. Mungkin memang bukan Zephira yang melahirkan Misea, tapi Zephira lah orang yang selalu ada di sisi Misea. Zephira orang yang dulu menggantikannya popok, yang selalu siap terjaga setiap malam hanya untuk membuatkan Misea susu hangat saat dia terjaga, atau bahkan hanya sekedar untuk menenangkan Misea.

Zephira lah orang yang selalu ada untuk mengusap perut Misea saat sakit, saat kembung. Atau sesederhana, Zephira lah yang ada untuk mengusap air mata Misea saat dia menangis. Bagi Meluna, itu benar-benar penerimaan yang tak semua orang bisa berikan.

Bahkan bisa saja Zephira membenci Misea, berlaku jahat padanya, sebagaimana rasa sakit terlalu bertubi-tubi diberikan oleh manusia yang sudah melahirkan Misea.

Tapi tak pernah sedikitpun itu Zephira lakukan. Zephira benar-benar membalas semua rasa sakitnya dengan kasih sayang yang sangat luas untuk Misea.

Lihat selengkapnya