•••
Malam itu rumah lebih sepi dari biasanya. Misea sudah tidur, sejak menangis tadi, gadis kecil itu hanya bangun untuk mandi sore, bermain sebentar di ruang depan bersama Meluna, makan malam, lalu tak lama tidur. Sepertinya memang lebih baik begitu.
Kalau Meluna, setelah Misea tertidur, gadis dua puluh tahun itu sekarang ada di kamarnya bersama si bungsu. Dia bermain handphone, sementara Adelra sibuk dengan tugas matematikanya yang tidak kunjung selesai.
Bunyi gesekan beberapa kertas yang lain terdengar dari arah ruang depan rumah sederhana mereka. Di bawah lampu dengan cahaya redup itu Zephira berada. Ia duduk dengan tubuh yang berusaha tegap. Sofa kecil rumah mereka menopangnya.
Jari-jari Zephira mulai memencet tombol-tombol kalkulator dari handphone miliknya dengan mata yang bergantian menatap kearah kertas-kertas rumah sakit itu. Hingga di akhir, ia menatap gelang serta cincin emas yang bertengger cantik di tangan.
Cera, ia berdiri dibalik tembok yang membatasi ruang depan dengan meja makan. Menatap diamnya si sulung dengan semua kebingungannya.
Kak Zephi pasti lagi mikirin tagihan pengobatan Sea yang sekarang makin banyak, batin Cera.
Padahal aku udah berulang kali bilang kalau butuh apapun, aku ada. Cera menghela napas sejenak. Memantapkan diri sebelum akhirnya mendekat.
"Kak Zephi," panggil Cera pelan.
Mendengar suara adiknya, Zephira yang sempat melamun itu langsung dengan cepat tersenyum. Seperti biasa, menganggap semua beban yang bertengger dipundaknya tidak ada.
"Cera, kamu kok belum tidur?"
"Baru jam setengah sembilan, Kak."
Cera ikut duduk di sofa kecil mereka, tepat di kanan Zephira. "Kak Zephi juga, kok belum tidur?"
"Belum bisa. Kakak belum ngantuk."
"Belum ngantuk atau lagi banyak pikiran jadi nggak bisa tidur?" sambung Cera yang membuat Zephira tersenyum kecil.
"Apa sih kamu?" sahut Zephira dengan kekehan.
Cera ikut menyunggingkan senyum kecil setelahnya. Menarik napas kecil sebentar. "Kak."
"Iya?"
"Biayanya mahal sekali ya?"
Zephira menggeleng cepat. "Selayaknya pengobatan aja, Ce. Tapi aman kok, Kakak usahain apapun kalau untuk Sea."
"Misea kan keponakannya Cera ya? Berarti nggak salah dong kalau Cera mau bantu Misea?" sahut Cera.
"Nggak salah, Ce. Kamu kan selalu bantu Sea. Bantu jagain dia, ajak dia main, beliin Sea jajan, beliin Sea mainan baru. Kamu, juga selalu ada kan buat Sea," kata Zephira.
Sebuah gelengan kepala dengan cepatnya Cera peragakan. Gadis itu memegang punggung tangan kanan kakaknya. "Bukan itu, Kak. Cera mau, kalau Cera juga bantu biaya pengobatan Misea. Cera—"
"Cera, nggak. Kamu capek-capek kerja, kamu pakai uang kamu buat dirimu. Kamu beli baju baru, beli makanan enak yang kamu mau. Jalan-jalan kemanapun tempat yang kamu pengen, Ce. Urusan Sea biar Kakak aja. Kakak masih bisa kok."
"Cera tau Kakak bisa. Kak Zephira memang selalu bisa apapun selama ini. Cera tau. Tapi Cera juga mau bantu, Kak." Cera menghentikan ucapannya beberapa detik, lalu suaranya kembali terdengar, "Gimana Cera bisa beli baju baru? Gimana bisa Cera jalan-jalan dan makan enak kalau di sisi lain— keponakan Cera harus nahan rasa sakit dan Kakak— harus kebingungan sendiri memikirkan bagaimana cara meredakannya."
"Tapi Misea biar jadi tanggung jawab Kakak aja, Ce."
"Bahkan seharusnya yang bertanggung jawab atas Misea itu bukan Kakak. Kakak penggantinya. Cera juga boleh dong jadi penggantinya itu?" jelas Cera lagi.
Zephira paham, sangat mengerti maksud Cera. Tapi rasanya, kasihan jika sang adik harus ikut jatuh bersamanya juga. "Aku cuma mau kamu, Luna, dan Delra hidup dengan baik-baik aja, Ce. Aku mau kalian bisa menikmati hidup kalian selayaknya, sebagaimana kalian merencanakan semua dengan baik. Aku cuma mau— kalian bisa hidup untuk diri kalian sendiri."
"Terus bagaimana sama Kakak? Kakak bahkan nggak pernah hidup untuk diri Kakak sendiri." Cera dengan cepat memutus, membuat Zephira bahkan hampir kehilangan semua kosakatanya. "Hidup Kakak hanya selalu dikasih buat Misea, aku, Luna, dan Delra. Kakak hanya terus mikirin kami."