•••
"Kakak, beneran Kak Greza? Ini bukan mimpi, kan?" Adelra bertanya dengan mata yang berkaca-kaca, penuh binar kebahagiaan.
Grezana tersenyum tipis, mengusap puncak kepala Adelra dengan penuh kasih. "Iya, Del. Ini Kakak. Maaf ya, Kakak baru bisa nemuin kamu sekarang."
Selepas pertemuan mengejutkan tadi, Grezana mengajak Adelra untuk menepi sejenak ke sebuah toko kopi kecil yang tenang di dekat area sekolah. Adelra masih tak bisa melepaskan genggaman tangannya dari lengan Grezana, seolah takut jika ia melepaskannya, sang kakak akan menghilang kembali.
"Kakak ke mana aja selama ini?" Adelra mulai meluapkan banyak pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalanya.
"Kakak tinggal di mana? Kenapa nggak pernah kasih kabar? Kita semua nungguin Kakak."
Grezana menarik napas panjang, merangkai alasan yang sudah ia siapkan agar tidak membuat Adelra curiga. "Kakak ada, Del. Kakak sempat kerja dan pindah-pindah tempat tinggal di luar kota. Banyak hal yang harus Kakak selesaikan di sana, dan baru beberapa waktu ini Kakak memutuskan untuk balik ke Jakarta karena pindah tugas kerja. Kakak baru banget sampai, belum sempat juga cari tahu rumah kalian sekarang di mana atau cari cara hubungi kalian."
Berbohong, lagi-lagi Grezana melakukannya untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya.
Benar memang jika beberapa tahun lalu, tepatnya setelah pergi dari rumah, Grezana sempat pergi ke luar kota ikut dengan Felani yang memang bekerja. Grezana juga baru kembali ke Jakarta lagi setelah namanya sebagai Mireya benar-benar besar, tiga tahun setelah penjualan buku pertamanya meledak.
"Maaf ya, Dek."
Adelra mengangguk-angguk kecil, meski hatinya masih menyimpan seribu tanya, ia terlalu senang sampai tak punya waktu untuk bertanya lebih jauh. "Iya, Kak. Aku kangen banget. Kakak tahu nggak, aku selalu mikir, kapan ya Kakak pulang?"
Grezana hanya bisa tersenyum getir menanggapi ucapan itu. Sebenarnya, pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan murni. Grezana menghabiskan malam dengan menebak-nebak. Ia tahu Adelra dulu masih duduk di bangku sekolah dasar saat ia pergi, dan jika dihitung, Adelra memang seharusnya masih sekolah, dan satu-satunya SMA yang paling dekat dengan rumah lama mereka hanyalah sekolah ini. Ia hanya memberanikan diri menunggu di depan gerbang, berharap tebakannya benar. Ternyata, takdir memang membawanya tepat pada sasaran yang ia cari.
Gerbang sekolah Adelra baru saja dibuka lebar, melepaskan gelombang siswa yang berhamburan keluar. Adelra, dengan seragam yang masih melekat rapi di tubuhnya berjalan pelan sambil menyampirkan tas di bahu. Matanya menyapu suasana di seberang jalan, hingga langkahnya terhenti secara tiba-tiba.
Beberapa langkah dari gerbang sekolah, di bawah naungan pohon rindang, berdiri seorang wanita yang mengenakan cardigan panjang dan kacamata hitam. Meski penampilannya jauh lebih dewasa, Adelra mengenali gurat wajah itu dalam sekejap. Jantungnya berdegup kencang, antara percaya dan tidak. Itu Grezana. Kakak sulungnya yang menghilang satu dekade lalu, sosok yang selalu muncul dalam mimpinya namun tak pernah nyata.
Adelra benar-benar mengingat jelas wajah seorang Grezana Mireille sejak terakhir kali bertemu dengannya diumur tujuh tahun kala itu.
Adelra setengah berlari menghampiri, senyum lebar yang tulus merekah di wajahnya. "Kak Greza?" suaranya sedikit bergetar, namun penuh kelegaan.
Wanita itu tersenyum kecil. Saat kacamata hitamnya diturunkan, mata yang serupa dengan miliknya itu menatap Adelra dengan perasaan campur aduk. Grezana tampak kaget melihat betapa tinggi dan dewasa adik bungsunya sekarang. Wajah Adelra benar-benar tidak berubah, dia hanya— semakin cantik dan tegas. Tanpa banyak bicara, Grezana merentangkan tangan, membiarkan Adelra menghambur ke pelukannya. Sebuah pelukan yang sudah sepuluh tahun tertunda.
"Ayo pulang, Kak! Kakak kan sekarang sudah di sini. Kakak-kakak yang lain, Kak Zephi, Kak Luna, Kak Cera, pasti kangen banget sama Kak Greza," ujar Adelra dengan antusiasme yang meluap-luap. Ia sudah membayangkan raut wajah kakak-kakaknya saat ia membawa pulang sosok yang selama ini hilang.
Namun, alih-alih menunjukkan binar bahagia atau bergegas bangkit, Grezana justru terdiam. Senyumnya pudar, berganti dengan raut murung yang dalam. Bahunya merosot, seolah beban berat baru saja menindihnya. Keheningan itu terasa ganjil, membuat senyum di wajah Adelra perlahan menghilang.
Melihat Grezana yang justru tampak enggan, Adelra memiringkan kepalanya, dahi gadis remaja itu berkerut heran. "Kenapa, Kak? Kok Kakak kayak nggak senang gitu aku ajak pulang ke rumah?"
Grezana menatap cangkir kopinya yang sudah tidak berasap, suaranya terdengar berat dan ragu. "Aku—kayaknya nggak bisa pulang ke rumah, Del. Kayaknya juga—"
Belum sempat Grezana menyelesaikan kalimatnya, Adelra memotong dengan nada yang terdengar seperti sebuah pernyataan penuh keyakinan. "Karena Kak Zephira ya? Kakak pasti masih marah dan kecewa ya sama dia?"
Grezana tersentak. Ia mengangkat wajahnya, menatap Adelra dengan kening berkerut dalam. "Maksud kamu, Del?"
Adelra mengembuskan napas panjang, tatapannya kini berubah menjadi sinis, mencerminkan kebencian yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Iya. Kakak pasti masih marah karena Kak Zephira punya anak itu, kan? Kak Greza pasti belum maafin kelakuan Kak Zephira sepuluh tahun lalu sampai akhirnya ada Misea di rumah kita. Pasti Kakak pergi karena mereka kan?"
Dunia di sekitar Grezana seakan berputar hebat. Jantungnya berpacu karena keterkejutan yang luar biasa. Grezana terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Adelra tidak tahu siapa sebenarnya Misea. Ia mengira kebencian Zephira padanya, seperti saat mereka bertemu di supermarket juga dirasakan oleh adik-adiknya yang lain, termasuk Adelra.