•••
Langit senja mulai pekat terlihat, dengan sedikit gelap yang perlahan tertata. Adzan Maghrib baru saja selesai berkumandang ketika sepeda listrik Zephira memasuki halaman rumah, membelah kesunyian lingkungan yang mulai senyap. Zephira mematikan mesin sepeda listriknya dengan perlahan. Dari belakangnya, Meluna turun sambil merapikan tas selempang yang tergantung dipundak kanannya. Tanpa buang waktu, keduanya melangkah masuk ke rumah, mendorong pintu utama yang ternyata tidak terkunci dari dalam, karena pasti ada Adelra dan Misea yang pulang sejak siang tadi.
"Assalamualaikum," ucap Zephira dan Meluna lirih.
"Wa'alaikumussalam," sahut sebuah suara dari arah ruang depan yang baru Zephira dan Meluna tapaki.
Begitu melangkah masuk lebih jauh, pemandangan pertama yang menyambut mereka adalah Cera. Gadis itu masih duduk meringkuk di atas sofa kecil ruang depan. Belum sempat melepas jaket parasut tebal yang masih membalut tubuhnya, ransel kerjanya masih tersampir di satu bahu, menandakan ia baru saja tiba beberapa menit lalu dan langsung terduduk di sana.
Cera mendongak, matanya yang menyipit karena penat langsung menangkap sosok dua saudarinya yang baru saja masuk. Alisnya bertaut. Sesaat, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sosok lain yang tidak ada.
"Loh kalian berdua aja?" tanya Cera, suaranya terdengar kaget bercampur heran. "Sea sama Delra mana?"
Langkah Zephira dan Meluna langsung terhenti di tempat. Zephira mengerjap, keningnya mengernyit dalam. "Hah? Mereka bukannya udah dari tadi pulang, Ce?"
"Nggak ada, Kak." Cera menggeleng pelan, menegakkan posisi duduknya. "Soalnya pas aku pulang, rumah tuh masih dikunci. Itu aku pakai kunci yang aku bawa. Aku pikir kalian semua ada di florist. Makannya tumben banget Sea sampai jam segini di florist."
Meluna yang berdiri di sebelah Zephira langsung merasakan tenggorokannya tercekat."Tapi tadi aku beneran udah suruh Delra jemput Sea kok, Kak. Udah aku pastiin lagi juga pas jam pulang sekolah. Delra pun juga bilang kalau udah jemput Sea.
Cera menatap Meluna tajam, meminta penjelasan. "Emang hari ini Sea pulang sama Delra? Bukannya biasanya sama kamu, Lun? Kamu masih libur kuliah, kan?"
"Iya, masih kok, Kak." Meluna mulai panik, tangannya meremas tali tas selempangnya erat-erat. "Cuma siang tadi kebetulan florist dapet pesenan banyak banget, dalam jumlah besar. Kak Zephi kewalahan kalau dikerjain sendiri, tapi kalau ditolak ya sayang banget, Kak, apalagi kita lagi butuh banget tambahan buat biaya pengobatan Sea."
Meluna menelan ludah, suaranya mulai bergetar mengingat alasan di balik kerja keras mereka hari ini. "Jadi ya, aku mutusin buat turun tangan, bantuin Kak Zephi siapin semua pesenan di florist dari siang. Nah, pas banget Delra juga lagi ujian dan pulangnya lebih cepet dari biasanya. Jadi aku pikir, ya udah, kenapa nggak sekalian aja aku suruh Delra pulang lewat sekolah Sea terus jemput anak itu?"
Suasana di ruang depan mendadak berubah dingin. Cera yang tadinya bersandar lemas di sofa kini menegakkan punggung sepenuhnya. Panik. Kata itu mendadak menghantam dada Zephira tanpa ampun. Seketika bayangan-bayangan buruk berkelebat di kepalanya. Jam sudah menunjukkan lewat maghrib, dan tidak ada satupun dari kedua anak itu yang menampakkan batang hidung, apalagi memberi kabar.
Bagi Meluna, kepanikan itu langsung bergeser menjadi kemarahan yang dipicu oleh kecemasan. Gadis itu mondar-mandir di dekat pintu, “Ih, Delra ke mana sih? Padahal aku udah bilang langsung bawa Sea pulang.”
“Gimana kalau Delra bawa Sea ke tempat balapannya itu, Kak? Gimana kalau Delra …”
"Sttt … Meluna.,” potong Zephira tegas, meski suaranya sendiri terdengar gemetar hebat.
"Jangan ngomong yang enggak-enggak, Lun!" racaunya, jemarinya sibuk merogoh saku jaket, kembali mendial nomor Adelra untuk kesekian kalinya. Nada sambung yang panjang dan kosong tanpa balasan kembali menghantam telinganya, membuat lututnya terasa lemas seketika.
"Bukannya berburuk sangka, Kak. Tapi bocah bandel kayak Adelra emang kudu dicurigain. Ini udah jam segini, dan Delra sama sekali gak ngasih kabar."
Cera yang melihat kedua saudarinya mulai kehilangan kendali hanya bisa terduduk kaku di sofa, terjepit di antara kepanikan luar biasa dan fakta bahwa dua anggota keluarga mereka kini entah berada di mana di tengah gelapnya malam kota Jakarta.
Meluna berdiri mondar-mandir di dekat pintu, jemarinya mencengkeram erat ponselnya. Rasa bersalah mulai menghantam dadanya dengan keras. Bola matanya memanas, tetapi ia menahan mati-matian air mata yang mendesak keluar. Ia sadar, air mata tidak akan menyelesaikan masalah.
"Ini salah aku," gumam Meluna pelan, namun cukup jelas terdengar di ruangan yang sunyi itu. Ia berhenti melangkah, menatap lurus ke arah lantai dengan rahang mengeras menahan penyesalan. "Seharusnya tadi aku nggak nyuruh Delra buat jemput Sea ...."
Beberapa menit berikutnya berlalu dalam kesunyian yang kian menyesakkan. Zephira tidak berhenti menempelkan ponselnya ke telinga, terus-menerus mendial nomor Adelra meski jawaban yang didapat hanyalah suara operator yang menyatakan nomor tersebut tidak aktif. Jarum jam dinding seolah berputar terlalu lambat, menambah beban di pundak mereka bertiga. Nada yang monoton terdengar menyakitkan di antara keheningan rumah. Tidak ada jawaban. Sekali lagi ia menekan tombol panggil, lalu menjauhkan ponsel itu dari telinga.
“Aku harus cari mereka,” ucap Zephira. “Ce, aku pinjam motor kamu ya,” sambungnya. Zephira dengan cepat meraih kunci motor Cera yang adiknya itu letakkan di atas meja.
Cera langsung berdiri menyusul, “Cera temenin, Kak.”
"Aku juga," timpal Meluna, ikut bergegas.
“Kamu di rumah aja, Lun. Kamu jaga di rumah kalau mereka tiba-tiba pulang. Kabarin aku sama Kak Zephira nanti,” ujar Cera.
Zephira dan Cera sudah siap untuk melangkah keluar dan mencari kedua anak-anak itu. Namun, baru saja tangan Cera akan meraih gagang pintu, seseorang lebih dulu membukanya dari luar.
Pintu terbuka lebar. Keduanya sontak menghentikan langkah, menahan napas secara bersamaan.
Dari balik pintu, sosok Adelra berdiri dengan seragam dan ranselnya yang masih lengkap, sementara di sampingnya, Misea melangkah masuk dengan wajah berseri-seri. Senyum lebar terkembang di bibir anak itu, matanya berbinar cerah, sama sekali tidak menyadari badai kepanikan yang baru saja meluluhlantakkan rumah ini.
"Assalamualaikum," ucap Adelra dan Misea hampir bersamaan.
"Wa'alaikumussalam," sahut Zephira, Cera, dan Meluna kompak, suara mereka terdengar tercekat di tenggorokan, antara kaget, lega, dan masih diliputi kebingungan luar biasa.
Belum sempat siapa pun bernapas lega, Misea langsung berlari kecil menghampiri Zephira. Anak itu merentangkan tangan dengan riang. Begitu juga dengan Zephira, melihat Misea berdiri di depannya dalam keadaan utuh dan tersenyum lebar, pertahanan Zephira runtuh seketika. Tanpa memedulikan rasa penatnya, wanita itu langsung berlutut di lantai, merentangkan tangan lebar-lebar dan mendekap tubuh mungil putrinya erat-erat seolah takut anak itu akan hilang lagi.
"Mama Zephi, Sea pulang!" seru Misea riang dalam dekapan.