•••
Bau biji kopi yang disangrai memenuhi udara, berpadu dengan suara rintik hujan yang mulai mereda di luar jendela kaca kafe. Suasana sore itu cukup tenang, kontras dengan isi kepala Adelra yang masih menyisakan mendung. Gadis itu duduk di sudut ruangan dengan wajah kusut, mengaduk-aduk cokelat hangat di depannya tanpa minat.
Kursi di seberangnya berderit pelan. Grezana duduk di sana, mengenakan cardigan rajut merah dengan gestur tenang. Ia memperhatikan si bungsu beberapa saat, menangkap bahu yang sedikit turun dan raut wajah yang jauh lebih murung dari wajahnya kemarin.
"Kamu kelihatan beda hari ini, Del," ucap Grezana lembut, memecah keheningan. Suaranya tidak memaksa, terkesan memberi ruang. "Ada masalah apa emang yang mau kamu ceritain?"
Adelra mendengus pelan, menatap cangkirnya sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Semalam aku diomelin sama kakak-kakakku," cicitnya jujur, nada suaranya berubah parau.
Grezana mencondongkan sedikit tubuhnya, mendengarkan penuh perhatian. "Diomelin kenapa, Sayang?"
"Gara-gara aku bawa Sea pergi seharian kemarin," jawab Adelra sambil meremas jemarinya sendiri di atas meja. Ada sedikit nada penyesalan yang terselip di sana.
"Sebenarnya, aku juga sadar sih kalau aku salah. Aku pergi nggak izin, terus pulangnya kemalaman sampai bikin mereka nyariin."
Mendengar pengakuan itu, Grezana mengulas senyum tipis yang menenangkan. "Kalau gitu, wajar kalau mereka marah, Del. Lain kali, kalau mau pergi sama Sea, coba diomongin dan izin dulu sama kakakmu, terutama Kak Zephi. Biar mereka nggak khawatir."
Grezana tertegun sejenak, lalu menambahkan dengan nada heran, "Padahal, kemarin kan aku udah nyuruh kamu buat izin dulu ke Kak Zephi sebelum kita jalan. Kamu bilang ke aku kalau kamu udah izin, ternyata belum ya?"
Adelra meringis kecil, menghindari tatapan Grezana karena merasa tertangkap basah. "Hehehe ... kemarin aku pikir nggak bakal selama itu perginya, Kak. Jadi aku pikir nggak usah izin nggak apa-apa. Eh ternyata baterai hp aku malah habis."
Grezana hanya menggeleng pelan kepala, memakluminya meski ada rasa bersalah yang mencubit hatinya karena ia pun ikut andil dalam kepergian itu. Setelah itu, suasana kembali jeda beberapa saat. Adelra kembali terdiam, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan tatapan kosong.
Grezana yang melihat gelagat itu langsung menangkap bahwa beban pikiran si bungsu belum sepenuhnya tuntas. Ia kembali merendahkan suaranya, menatap lurus ke mata Adelra. "Masih ada yang mengganjal, ya? Cerita aja, Del. Ada yang masih dipikirin?"
Adelra tampak menimbang-nimbang sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya mendongak menatap wanita di depannya.
"Kak, ada yang mau aku ceritain. Hal yang semalaman ini bikin aku kepikiran banget," ucap Adelra lirih.
Grezana langsung menegakkan punggungnya, sorot matanya menajam. "Apa, Del? Cerita aja sama Kakak."
Adelra menelan ludah, dadanya terasa berat. "Aku kepikiran Misea. Aku juga nggak tahu, agak ngerasa bersalah aja sama dia setelah dengar ucapan Kak Luna semalam."
Gadis itu menunduk, menatap pangkuannya. "Ternyata, ada sesuatu yang aku nggak tahu soal dia, Kak Gre."
Mendengar kalimat itu, ketertarikan Grezana langsung meluap. Tubuhnya menegang. Wanita itu reflek mencondongkan seluruh tubuhnya, matanya membelalak lebar dengan binar rasa penasaran yang teramat dalam.
Napasnya seketika tertahan. Seluruh atensinya terkunci sepenuhnya pada wajah Adelra, menunggu kalimat lanjutan yang siap meluncur dari bibir adiknya itu.
"Sesuatu apa, Del?" desak Grezana tidak sabar.
Adelra mendongak, menatap Grezana dengan mata yang berkaca-kaca menahan sesak. "Sea— dia divonis aplastic anemia, Kak."
Aplastic anemia.
Dua kata itu jatuh begitu saja mendarat telak dan menghantam kesadaran Grezana tanpa ampun.
Darah di wajah Greza seolah tersedot habis seketika. Napasnya tercekat di tenggorokan, membuat rongga dadanya terasa sesak luar biasa. Seluruh otot di tubuhnya mendadak kaku, tak mampu digerakkan bahkan untuk sekadar berkedip.
Di balik keterkejutan luar biasa itu, badai penyesalan yang jauh lebih kejam langsung meremukkan batinnya. Ya Tuhan, anakku, batin Greza menjerit.
Ia mengutuk dirinya sendiri dengan ribuan kutukan paling keji. Seluruh organ dalamnya terasa terpuntir oleh rasa bersalah yang teramat pekat.
Bagaimana mungkin ia bisa menyebut dirinya seorang ibu? Sepuluh tahun ia memilih egois, melarikan diri dari rumah dan membiarkan adik-adiknya dan sang anak menanggung beban hidup sendirian. Dan sekarang, ketika takdir mempertemukannya kembali dengan mereka, ia baru tahu bahwa anaknya, Misea, harus menanggung vonis penyakit seberat itu di tubuh mungilnya. Tanpa pelukannya, tanpa penjagaannya, tanpa ia tahu separah apa penderitaan yang disembunyikan adik-adiknya di balik senyum mereka.
"Aku benar-benar nggak tahu apa-apa, Kak," cicit Adelra, suaranya bergetar menahan sisa tangis.
"Kak Luna bilang kemarin, penyakit itu serius. Katanya, sumsum tulangnya nggak bisa produksi sel darah dengan benar, atau semacam itulah. Pokoknya hal buruk yang bikin dia gampang drop."
Adelra memperlihatkan mata yang memerah dan sorot penuh frustrasi. "Selama ini aku cuma tahu Sea itu manja aja, dia cuma sakit biasa. Tapi ternyata, Sea separah itu sakitnya."
Adelra mengusap wajahnya dengan kasar, menyeka sisa air mata di pipinya. "Meskipun aku nggak suka Sea. Tapi aku nggak tega juga liat dia sakit."