•••
"Gak usah ngaco, Kak!" Suara Zephira sontak meninggi, mencelos dari celah bibirnya yang bergetar hebat. Ia membuang muka sesaat, mendengus keras untuk menepis akal sehat yang menolak mentah-mentah pengakuan tersebut.
Bagi Zephira, ini hanyalah cara konyol Grezana setelah sekian lama menghilang dan tiba-tiba muncul kembali di kehidupan mereka.
Grezana hanya menghela napas tipis, mencoba meredam ketegangan di antara mereka, lalu menatap manik mata adiknya lekat-lekat dengan sorot penuh kehati-hatian.
"Aku gak lagi bercanda, Zeph," jawab Grezana lembut, kontras dengan napas Zephira yang mulai memburu. "Buat apa aku bohong soal hal kayak gini?"
"Buat apa? Justru itu yang harusnya aku tanyain ke Kakak." Zephira mendesis tajam, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia menatap sosok di hadapannya dengan kilat amarah yang bercampur baur dengan ketidakpercayaan. "Setelah pergi sepuluh tahun, sekarang kamu kembali cuma mau main-main sama aku?"
"Bukannya main-main, Zephira. Aku serius." Grezana mencoba melangkah lebih dekat, namun Zephira langsung mundur selangkah, menolak jarak yang dekat di antara mereka. "Dengerin penjelasan aku dulu. Semua ini cara aku buat bisa kembali dekat sama kalian."
"Dekat?" potong Zephira cepat, tawa sarkas lolos begitu saja dari bibirnya, terdengar getir dan menyayat.
"Dengan cara mendekati aku lewat jalur kayak gini? Pura-pura jadi klien, ngikutin alur kerjaku, cuma demi rencana konyol Kakak buat masuk lagi ke kehidupan kita? Padahal jelas-jelas aku udah bilang ke Kakak buat jangan pernah nemuin kita lagi."
Di balik gelombang amarah yang meledak-ledak itu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Zephira sebenarnya merasakan keanehan yang menyiksa pada dirinya sendiri. Ada sisi egois dalam dirinya yang sebetulnya merindukan keutuhan keluarga mereka, menginginkan agar semuanya kembali seperti sediakala tanpa ada dinding pembatas. Namun, setiap kali ia berhadapan langsung dengan Grezana, rasa marah, kecewa, dan kesal selalu mendominasi, menenggelamkan segala bentuk kerinduan yang ada. Luka itu terlalu nyata untuk disembuhkan dengan cara manipulatif seperti ini.
Melihat adiknya semakin tersulut emosi, Grezana mencoba menahan diri, berniat menjelaskan niat sebenarnya. "Zeph, bukan itu, maksud—"
"Udah, nggak usah dilanjutin!" sergah Zephira tandas. Ia sudah terlanjur kesal dan muak dengan segala drama ini.
Dengan gerakan kasar, Zephira langsung menyambar ponsel dan buku catatannya, memasukkannya serampangan ke dalam tas selempangnya, lalu menutup laptopnya dengan cepat.
"Kita batalin pertemuan kita. Mulai hari ini, kontrak kerja sama kita juga batal!" suara Zephira tajam. "Urus sendiri naskah kamu atau cari editor lain! Soal penalti karena pembatalan sepihak dari pihak editor, tenang aja. Aku siap bayar uang penaltinya sesuai dengan nominal yang tertera di kontrak kita!"
Tanpa menunggu sepatah kata pun lagi atau memberi kesempatan bagi Grezana untuk menahan atau menjelaskan, Zephira langsung memutar tubuhnya. Ia melangkah pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan meja kafe itu dengan dada yang naik-turun menahan sesak.
Grezana yang terkejut tentu tidak tinggal diam. Ia langsung berlari kecil mengejar langkah adiknya yang semakin menjauh.
Langit kota mendung menggantung rendah dengan warna kelabu pekat yang menyelimuti seluruh penjuru jalanan. Angin sore bertiup lebih kencang, menerbangkan helai rambut Zephira dan menghantarkan hawa dingin yang menusuk kulit. Di sepanjang trotoar yang dipadati oleh deretan toko dan kafe bernuansa modern itu, langkah kaki keduanya beradu cepat di antara keramaian orang-orang yang sibuk berteduh atau bergegas pulang menghindari hujan yang siap tumpah kapan saja.
"Zephira, tunggu! Jangan jalan cepet-cepet, dengerin aku dulu!" seru Grezana sambil terus mempercepat langkahnya, berusaha memangkas jarak di antara mereka di trotoar yang agak lengang.
Zephira mengabaikannya, semakin mempercepat ayunan kakinya, menulikan telinga dari panggilan-panggilan sang kakak. Ia ingin segera pergi dari sana, melepaskan diri dari rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.
Namun, beberapa langkah di depan, saat Grezana berhasil memperkecil jarak mereka, wanita itu menarik napas dalam-dalam lalu bersuara sedikit lebih keras di tengah deru angin sore.
"Aku tahu kamu lagi butuh semua uang itu, Zeph! Misea butuh biaya besar untuk pengobatan dan perawatan rutinnya kan? Apa kamu nggak sayang, kalau uang sebanyak itu malah kamu pakai cuma buat bayar penalti kontrak ke aku?"
Langkah kaki Zephira seketika terhenti total.
Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Zephira mendadak kaku tak bergerak. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke depan dengan napas yang tercekat di tenggorokan. Kepalanya menoleh patah-patah ke arah Grezana, dipenuhi oleh gelombang keterkejutan yang teramat sangat.
Bagaimana— bagaimana bisa Kak Greza tahu soal kondisi Misea dan biaya pengobatannya? pikir Zephira, jiwanya mendadak kosong seketika.
Seketika itu juga, Zephira menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah sang kakak yang berdiri beberapa meter di belakangnya. Di bawah langit sore yang semakin pekat dan angin mendung yang berembus kencang menerbangkan helai rambut mereka, Grezana langsung mempercepat langkahnya, berjalan tergesa-gesa menghampiri adiknya di tengah trotoar yang basah oleh gerimis tipis yang mulai turun perlahan.
Mereka kini berdiri saling berhadapan, terpisahkan jarak yang begitu dekat namun terasa sangat jauh. Zephira menatap wanita di hadapannya dengan sorot mata setajam belati, penuh ketidakpercayaan dan amarah yang siap meledak kapan saja.
"Maksud kamu apa, Kak?" suara Zephira bergetar hebat, mencelos di antara deru napasnya yang memburu. "Apa maksud kamu ngomong begitu? Tahu apa kamu?"