•••
Pintu utama rumah berderit pelan saat didorong terbuka, menampilkan sosok Zephira yang melangkah masuk ke dalam remang ruang depan. Penampilannya benar-benar berantakan, pakaiannya tidak sampai basah kuyup karena ia sempat berteduh di beberapa emperan toko tadi, namun kainnya tetap terasa lepek dan lembap oleh sisa gerimis. Helaian rambutnya menempel acak-acakan di pelipisnya.
Langkah gontainya baru saja melewati ambang pintu ketika suara langkah dari arah dalam menginterupsi kesunyian. Cera muncul dari dalam dan seketika saat itu juga manik matanya membelalak lebar mendapati rupa sang kakak yang tampak begitu mengenaskan.
Cera menghampiri Zephira cepat lalu mengambil alih barang-barang yang dipegangnya untuk ditaruh di atas meja. "Ya Allah, Kak. Kamu dari mana aja? Kok baru pulang? Ini badan kamu juga kok basah gini sih, kamu—"
Belum sempat Cera menyelesaikan kalimat cemasnya, Zephira menyela dengan cepat. Tidak ada isak tangis yang tersisa, tidak ada pula nada tinggi yang meledak-ledak seperti di trotoar tadi. Suaranya lolos begitu saja dari bibirnya.
"Adelra di mana?"
Cera tersentak di tempatnya. Wajah kakaknya itu begitu kaku, datar tanpa ekspresi, dengan tatapan mata nanar yang menatap lurus ke depan tanpa benar-benar memfokuskan pandangan pada apa pun. Aura asing yang dingin dan mencekam langsung menguar dari diri Zephira, membuat bulu kuduk Cera meremang seketika. Ada ketakutan tak beralasan yang tiba-tiba mencengkeram ulu hati Cera, membuatnya merasa seolah sedang berdiri di hadapan orang asing yang mengenakan rupa kakaknya.
"Ada di dalam, Kak," jawab Cera terbata-bata, kerongkongannya mendadak terasa kering. Napasnya tercekat melihat betapa kacaunya Zephira malam ini. "Kenapa Kakak cariin Delra?"
"Suruh dia ke sini."
Kalimat itu diucapkan dengan volume yang rendah, pelan.
"Iya, tapi ada apa, Kak?" Cera memberanikan diri bertanya lagi, meski dadanya bergemuruh hebat dilanda rasa takut.
Bagi Cera, pemandangan ini terasa sangat tidak nyata. Selama hidupnya, Zephira adalah benteng terkuat mereka—pribadi yang selalu hangat, sabar. Namun detik ini, sosok di hadapannya memancarkan sisi yang berbeda.
"Panggil aja, Ce," ulang Zephira, suaranya terdengar semakin hampa, seolah separuh jiwanya tertinggal di luar sana bersama rerintisan hujan. "Aku mau bicara sama dia."
Cera memilih untuk menuruti ucapan kakaknya tanpa banyak tanya lagi. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju bagian dalam rumah untuk memanggil Adelra, sementara Zephira tetap berdiri mematung di tempatnya semula dekat pintu masuk. Tidak ada gerakan berarti dari Zephira, ia hanya berdiri diam dengan tatapan kosong lurus ke depan, membiarkan rasa lelah dan amarah yang tertahan menguasai dirinya dalam keheningan.
Tidak butuh waktu lama bagi Cera untuk kembali. Gadis itu muncul dari dalam bersama Adelra yang berjalan mengekor di belakangnya. Dari raut wajahnya, Adelra terlihat jelas kebingungan namun tetap mempertahankan ekspresi songong dan cuek yang memang sudah menjadi pembawaannya sehari-hari. Begitu sampai di dekat ruang depan, Adelra langsung melontarkan pertanyaan dengan nada santai tanpa beban.
"Kenapa, Kak?" tanya Adelra.
Tanpa disadari, dari sisi lain ruangan, Meluna yang tadinya berada di dalam kamar ikut keluar karena penasaran. Namun, alih-alih berdiri mendekat bersama Cera dan Adelra, Meluna memilih untuk berhenti dan mengintip dari balik tembok pembatas antara koridor kamar dan ruang depan, memantau situasi dengan rasa penasaran yang bercampur cemas.
Seketika itu juga, puncak ketegangan pecah. Tanpa ada aba-aba, peringatan, ataupun jawaban atas pertanyaan Adelra, tangan Zephira melayang dengan cepat dan mendarat telak di pipi Adelra.
Suara tamparan itu menggema cukup keras di ruang tengah yang sunyi. Cera langsung terkesiap kaget sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar tak percaya dengan apa baru saja ia saksikan. Dari balik tembok, Meluna tersentak hebat, tubuhnya menegang kaku dengan napas tertahan melihat kekerasan yang baru saja dilakukan oleh kakaknya sendiri.
Benturan telak itu meninggalkan jejak kemerahan yang langsung mencuat di kulit putih Adelra. Napas gadis itu tercekat di tenggorokan, kepalanya terhempas ke samping akibat hantaman tangan sang kakak. Untuk beberapa detik, Adelra membeku di tempatnya, menatap lurus ke lantai dengan mata yang membelalak lebar. Rasa perih di pipinya tertutup sepenuhnya oleh gelombang keterkejutan yang menghantam rongga dadanya. Tidak pernah seumur hidupnya, Zephira, sosok yang selama ini menjadi pelindung sekaligus figur ibu bagi mereka, mengangkat tangan untuk memukulnya.
Melihat adegan itu, Cera langsung bergerak dengan gerakan panik yang teramat sangat. Gadis itu maju beberapa langkah, menerobos jarak yang memisahkan mereka, lalu mencengkeram bahu Adelra dan menarik adiknya mundur ke belakang agar menjauh dari jangkauan Zephira. Napas Cera memburu hebat, dadanya naik turun dengan mata yang berkaca-kaca menatap sang kakak sulung tidak percaya.
"Kak Zephi, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba nampar Delra?" suara Cera bergetar hebat, sarat akan ketakutan dan protes keras atas tindakan di luar batas yang baru saja terjadi.
Alih-alih melunak atau menunjukkan penyesalan, Zephira tetap berdiri tegak dengan tatapan mata yang menyala tajam. Napasnya memburu, sementara tangannya yang tadi dipakai untuk melayangkan tamparan masih terkepal erat di sisi tubuhnya.
"Kamu tanya sama adik kamu, apa yang habis dia lakuin?" desis Zephira dingin.
Kalimat itu langsung menyulut sumbu emosi Adelra yang memang pendek. Rasa sakit di pipinya seketika berubah menjadi kobaran amarah yang membakar habis sisa kesabarannya. Didorong oleh rasa tidak terima dan sifat songongnya yang mendadak meledak, Adelra menepis kasar tangan Cera dari bahunya, lalu maju menantang dengan suara yang meninggi, nyaris berteriak.
"Apa, Kak? Apa emang yang habis aku lakuin sampai Kakak nampar aku, hah? Apa?" teriak Adelra, urat-urat di lehernya menegang, menatap tajam mata Zephira tanpa ada secercah pun rasa takut.
"Apa maksud kamu ceritain banyak hal ke Kak Greza? Apa maksudnya?" bentak Zephira, suaranya pecah menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. "Apa kurang jelas saat semalam aku bilang untuk simpan soal Misea di antara kita aja? Apa nggak cukup kamu udah tahu itu?"
Mendengar nama Grezana disebut dengan nada penuh tuduhan, Adelra justru mendengus sinis. Alih-alih merasa bersalah, gadis itu malah mengangkat dagunya semakin tinggi, membalas tatapan Zephira dengan seringai menantang.
"Oh, kamu ketemu Kak Greza? Ya terus apa masalahnya kalau Kak Greza tahu?" sergah Adelra sengit, tidak mau kalah. "Kata Kakak kan cuma keluarga kita aja yang boleh tahu. Kak Greza keluarga kita kan? Lalu apa yang salah?"
Suasana di ruang tengah itu mendadak jadi jauh lebih panas. Cera yang berdiri di antara mereka semakin lemas, menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan yang mulai melenceng ke arah yang berbahaya.