Kita Dalam Jarak Doa

Thedreamwriter
Chapter #17

16. Mama Zephi, Mamanya Misea

•••

Matahari siang menyengat di atas kepala, memantulkan panas di aspal depan gerbang SMA tempat Adelra bersekolah. Adelra menyeret langkah kakinya keluar area sekolah, menyampirkan tas ranselnya di satu bahu dengan pandangan lurus ke depan. Ia sama sekali tidak berniat menoleh ke kiri atau kanan, hingga sebuah suara familiar memanggil namanya dan menghentikan langkah Adelra di dekat area halte bus di samping sekolah.

"Delra!"

Adelra menoleh kaku. Di sana, berdiri dengan balutan pakaian rapi dan tas kecil yang tersampir di lengan, Grezana, menatapnya dengan senyuman tipis yang biasa wanita itu berikan. Senyuman yang dulu selalu Adelra balas dengan hangat, namun hari ini, detik ini juga, gadis itu justru merasa mual melihatnya. Bayangan wajah Zephira yang kecewa dan apa yang terjadi pada Misea malam tadi seolah mencabik hatinya saat melihat Grezana.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Adelra langsung membuang muka. Ia kembali melangkahkan kakinya, mengabaikan kehadiran Grezana begitu saja seolah wanita itu tidak pernah ada.

"Del?" Grezana terkesiap, buru-buru mempercepat langkahnya dan mengejar gadis itu lagi. Grezana menyamai langkah Adelra, raut wajahnya menyuratkan kebingungan yang nyata. "Kamu kenapa, Dek? Kakak manggil kok diem aja? Ada apa?"

Adelra terus berjalan cepat, berusaha menghindari pusat perhatian orang-orang di sekitar halte. Rasa amarah yang sejak semalam mengendap di dadanya kini mendidih kembali, membakar tenggorokannya.

Merasa diabaikan total, Grezana akhirnya mengulurkan tangan, menahan lengan Adelra agar gadis itu berhenti. "Del, sebentar. Kamu kenapa sih? Ada apa—"

Dengan gerakan kasar, Adelra mengempaskan tangan Grezana dari lengannya. Gadis itu berbalik badan secara mendadak, menatap wanita di hadapannya dengan mata setajam belati.

"Jangan sentuh aku!" bentak Adelra tajam, suaranya yang meninggi membuat beberapa anak sekolah dan orang yang menunggu bus langsung menoleh ke arah mereka.

Grezana tertegun mundur selangkah. Tangannya yang baru saja dihempas menyebabkan keterkejutan luar biasa yang menghantam dadanya. Wanita itu mengerjap, menatap manik mata sang adik bungsu yang kini memancarkan permusuhan. Jauh berbeda dari Adelra yang kemarin masih menyambutnya dengan hangat.

"Del, kamu kenapa, sih?" Grezana bersuara lirih, kebingungan terpampang jelas di wajah cantiknya yang mulai pucat. "Ada apa? Kok kamu tiba-tiba—"

"Berhenti pura-pura peduli! Aku udah tahu busuknya kamu, Kak!" potong Adelra penuh penekanan, suaranya bergetar hebat menahan isak amarah yang mendesak naik ke tenggorokan. Urat-urat di leher gadis itu menegang. "Berhenti pasang muka polos kayak gak punya salah apa-apa di depan aku!"

"Maksud kamu apa, Dek? Kakak benar-benar nggak ngerti—"

"Aku udah tahu semuanya!" teriak Adelra tepat di depan wajah Grezana, mengabaikan tatapan risih orang-orang sekitar. Pertahankannya runtuh sudah. "Aku udah tahu semuanya, Kak. Aku tahu siapa sebenarnya kamu."

Grezana membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Kamu pikir aku bakal selamanya bodoh?" Adelra tertawa miris, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya yang masih menyisakan sisa lebam akibat tamparan kedua kakaknya semalam.

Adelra menunjuk tepat ke dada Grezana dengan jari yang gemetar hebat. "Aku tahu kalau ibu meninggal gara-gara ulah kamu sepuluh tahun lalu. Aku tahu kalau kamu perempuan yang kabur ninggalin keluarga kita karena kesalahan yang kamu buat sendiri."

"Delra—" Grezana mencoba membuka suara, wajahnya memucat pasi kehilangan seluruh warnanya.

"Jangan ngomong apa-apa lagi!" Adelra semakin tersulut emosi, suaranya pecah menahan sesak yang meremukkan rongga dadanya.

"Dan yang paling gila, kamu adalah orang yang ninggalin Misea begitu aja di tangan Kak Zephi. Kamu yang ngehancurin hidup kita, kamu yang bikin Kak Zephi babak belur nanggung beban sendirian selama sepuluh tahun, dan kamu juga yang bikin waktu aku sama Kak Zephi rusak cuma karena kebodohan dan kesalahpahaman aku sendiri."

Grezana menggeleng pelan, bibirnya bergetar hebat. "N-nggak, Dek. Aku bisa jelasin semuanya."

"Mau jelasin apa? Apa kurang jelas kalau memang kamu yang udah hancurin hidup kita? Dan sekarang, Kakak seenaknya datang lagi seolah nggak ada apa-apa. Kakak tahu apa akibat dari kemunculan kamu ini? Kakak tau kalau rumah kita makin berantakan setelah kamu datang dan karena aku terlalu bodoh untuk percaya sama kamu?"

Grezana tertegun, dadanya bergemuruh hebat mendengar rentetan kalimat penuh racun itu. "Delra, dengar dulu penjelasan Kakak. Kakak tahu Kakak salah, Kakak tahu, Kakak—"

"Kakak mau tahu seberapa hancurnya keluarga kita sekarang gara-gara munculnya kamu? Aku berantem sama kakak-kakakku. Aku nuduh Kak Zephi atas semua kesalahan yang kamu perbuat, dan— Misea masuk rumah sakit. Anak kandung yang kamu buang itu drop dan masuk IGD semalam gara-gara dia dengar sendiri semua pertengkaran kita, gara-gara dia tahu kalau kamu—ibu kandungnya— orang yang udah buang dia."

Angin siang yang panas di sekitar halte itu mendadak terasa membeku.

Grezana terperangah. Seluruh dunia di sekelilingnya seolah runtuh dalam sepersekian detik. Matanya membelalak lebar, menatap kosong pada sang adik yang kini terengah-engah menahan tangis. Kata rumah sakit dan Misea berputar-putar mengerikan di dalam kepalanya, menghancurkan sisa-sisa kesadaran wanita itu hingga tak mampu lagi menopang kakinya sendiri.

Tanpa menunggu sepatah kata pun lagi, Adelra berbalik badan dengan kasar. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan area halte dengan langkah lebar. Ia tidak peduli lagi pada tatapan orang-orang, tidak peduli pada keringat dingin yang bercampur dengan air mata di pipinya. Yang ia tahu, dadanya teramat sakit dan ia ingin segera melarikan diri dari kenyataan yang baru saja ia tumpahkan sendiri.

Di tempatnya berdiri, Grezana bagaikan disambar petir di siang bolong.

Kakinya terasa terpaku di atas aspal, kehilangan seluruh tenaga untuk sekadar digerakkan menyusul sang adik. Dunia seolah berhenti berputar, menyisakan denging nyaring yang menghantam gendang telinganya bertubi-tubi. Kalimat-kalimat tajam Adelra terus berputar, bergema mengiris-iris rongga dadanya tanpa ampun.

Misea masuk rumah sakit. Anak kandung yang kamu buang itu drop.

Pikirannya berkecamuk, bercabang memikirkan banyak kemungkinan. Juga bersemayam rasa bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Diam ditempat yang seharusnya, atau memaksa datang kesana dengan sambutan amarah dari keempat adiknya?

•••

Lihat selengkapnya