Kita Dalam Jarak Doa

Thedreamwriter
Chapter #18

17. Mengusahakan Dari Titik Awal

•••

Koridor bangsal anak sore itu lengang. Zephira baru saja menutup pintu kamar rawat Misea dengan sangat perlahan. Namun, baru dua langkah ia menjauh dari pintu, langkah kakinya terhenti mendadak.

Di ujung koridor, berdiri seorang wanita dengan tatapan sendu layunya.

Grezana. Wanita itu berjalan mendekati Zephira perlahan. "Zephi," bisik Grezana. Suaranya parau, pecah, dan nyaris tenggelam di udara.

Zephira mematung. Tatapannya menajam seketika. Ketakutan dalam pikirannya beberapa hari ini terjadi juga. Zephira sempat berpikir jika Grezana tidak akan kesini, karena sudah beberapa hari sejak pertama kali Misea dirawat wanita itu tidak kunjung nampak. Apalagi saat Adelra memberitahukan bahwa ia tidak sengaja memberitahu perihal Misea pada Grezana.

"Mau apa lagi kamu ke sini, Kak?" tanya Zephira dingin. Suaranya datar.

Grezana menggeleng cepat, air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. Ia mengambil satu langkah lebih dekat, lalu tanpa ragu merendahkan tubuhnya—berlutut di atas lantai koridor rumah sakit yang dingin tepat di hadapan Zephira. Zephira dibuat kaget karenanya.

"Zephi, tolong, aku mohon," ujar Grezana pecah, kedua tangannya terangkat mengatup di dada, memohon dengan sangat iba. "Aku cuma mau lihat Misea, sebentar aja, Zephi. Aku tahu aku salah, aku tahu aku jahat, aku tahu aku nggak pantas disebut ibu. Tapi tolong, izinkan aku lihat anakku. Sekali ini saja."

Zephira mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih. Zephira memang masih marah, luka dihatinya terasa permanen dan tidak tahu bagaimana untuk sembuh. Namun, melihat Grezana bersimpuh di depannya, Zephira masih memiliki perasaan tidak tega. Bagaimanapun, wanita ini adalah kakaknya.

"Bangun, Kak! Kamu nggak perlu sampai berlutut begini." Zephira berbicara datar. Hanya berbicara, tidak ada uluran tangan yang ikut membantu Grezana berdiri.

Perlahan, Grezana bangkit. Tubuhnya masih tampak bergetar karena tangisnya. "Aku menyesal, Zeph. Demi Tuhan aku menyesali tiap detik dalam hidupku. Beberapa hari ini aku mencoba untuk tenang, untuk tidak kemari karena aku tahu kalian pasti nggak memperbolehkan aku ada di sini. Tapi ternyata aku nggak bisa, Zeph. Aku mau lihat anakku. Tolong, Zephi, biarkan aku lihat keadaan Misea. Aku cuma mau memastikan dia baik-baik aja, aku mohon."

Zephira memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibir bawahnya erat-erat. Kata-kata kasar dan pengusiran sudah berada di ujung lidahnya. Ia ingin sekali menendang rasa bersalah Grezana jauh-jauh dari tempat ini.

Namun, ingatan Zephira melayang pada percakapannya dengan Misea hari itu. Pada kepolosan anak itu yang berusaha mencerna situasi, pada janji yang ia tanamkan pada Misea untuk tidak menanam dendam dan belajar menerima pertemuan ini tanpa beban.

"Karena Mama cuma ingin Sea bisa hidup dengan semestinya, dengan bahagia selayaknya anak-anak seusia Sea, tanpa ada beban atau rasa benci yang menggerogoti hati Sea."

Zephira memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas panjang, menahan sesak yang meremukkan dadanya, lalu menghembuskannya perlahan. "Aku izinin Kakak masuk," kata Zephira tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Grezana.

"Tapi tolong, Kak. Jangan bicarakan hal-hal yang akan bikin Misea semakin bingung! Jangan paksa dia untuk mengerti apapun! Cukup untuk bertemu saja dan terima apapun reaksinya nanti. Beri dia waktu untuk mencerna semua ini."

Grezana menyapu air matanya dengan cepat menggunakan punggung tangannya, mengangguk berkali-kali dengan penuh rasa syukur. "Iya. Iya, Zephi. Aku janji. Aku janji nggak akan bikin Misea tertekan. Terima kasih, Zephira."

Grezana perlahan berjalan dengan kakinya yang masih gemetar.

Zephira tidak membalas ucapan terima kasih itu. Ia hanya bergeser sedikit, membukakan sedikit celah pintu kamar rawat, lalu membelakangi Grezana—enggan menatap wanita itu lebih lama lagi.

Sepeninggal Grezana yang melangkah masuk. Zephira tidak beranjak jauh. Ia memilih berdiri di lorong, tepat di sisi dinding luar yang berdampingan dengan jendela kaca kamar rawat Misea. Gorden putih di dalam tidak sepenuhnya tertutup rapat, menyisakan sebuah celah sempit selebar telapak tangan yang memberikan pandangan lurus langsung ke dalam ruangan.

Dari balik kaca dingin itu, Zephira mengamati.

Di dalam sana, Grezana berdiri kaku di dekat ranjang. Wanita itu tampak menahan isak tangisnya, merendahkan diri dengan gestur penuh sesal. Sementara itu, di atas ranjang rumah sakit, Misea menoleh perlahan. Ada ketegangan sekilas di wajah pucat anak itu. Zephira dapat melihatnya dengan jelas bagaimana Misea bereaksi dengan perlahan.

Namun, alih-alih meledak dalam amarah atau menolak mentah-mentah seperti yang dikhawatirkan, Misea tampak mengingat sesuatu. Mengingat pesan yang pernah ditanamkan Zephira padanya. Anak itu menarik napas panjang, lalu mengendurkan bahunya. Ia menatap Grezana dengan tenang, cukup diam dan cukup mendengarkan kehadiran wanita itu.

Melihat pemandangan itu dari luar, Zephira hanya tersenyum kecil.

"Anak pintar," gumam Zephira lirih. "Kamu bener-bener dengerin kata Mama, ya. Kamu lebih hebat dari yang Mama bayangkan, Nak."

Menatap interaksi kecil dari Grezana dan Misea di dalam sana, seketika gelombang perdebatan batin yang hebat berkecamuk di dalam kepala Zephira.

"Biar aku saja. Biar tubuh aku yang membantu Misea sembuh. Kak Greza memang ibu kandungnya, aku bisa saja meminta dia yang menjadi pendonor. Tapi rasanya, aku nggak mau membiarkan Misea berhutang budi pada seseorang yang udah ninggalin dia."

Ia tahu risiko lain dari operasi pengambilan sumsum tulang bukan hal sepele. Ada rasa sakit luar biasa dan kemungkinan komplikasi yang mengintai tubuhnya. Tapi keyakinannya jauh lebih besar. Zephira yakin Misea akan sembuh total setelah ini. Dan seandainya takdir terburuk terjadi, seandainya tubuhnya sendiri melemah atau bahkan tidak selamat setelah operasi, Zephira merasa ia sudah ikhlas. Bahkan meskipun jika ia tidak bisa ada di dekat Misea lagi dan Grezana mengambil alih tempatnya.

"Kalaupun nantinya aku nggak selamat, setidaknya aku bisa menyelamatkan Misea lebih dulu." Air mata Zephira akhirnya menetes lolos, membasahi pipinya tanpa suara.

Zephira menarik napas panjang, memejamkan matanya rapat-rapat untuk meredam badai di dadanya.

"Gimana pun marahnya aku sama kamu, Kak, selama Misea bisa hidup, sehat, dan bahagia. Sekarang aku nggak peduli lagi sama posisiku," gumam Zephira dalam hatinya, menatap sekali lagi ke arah Misea di balik kaca.

Lihat selengkapnya