Kita Dalam Jarak Doa

Thedreamwriter
Chapter #19

18. Bintang Dihati Misea

•••

Sudah lima hari Misea terbaring di ruang rawat dengan selang infus yang menjadi saksi bisu betapa rapuhnya tubuh anak berumur sepuluh tahun itu. Besok adalah hari penentuan—jadwal operasi transplantasi sumsum tulang. Sebelum ketegangan esok hari merayap masuk, hari-hari sebelumnya telah diisi oleh badai emosi yang tidak kalah berat.

Hari di mana Zephira menceritakan mengenai donor ini pada Grezana, juga adalah hari dimana Zephira harus memberitahu niatnya ini pada ketiga adiknya, Cera, Meluna, dan Adelra. Keputusan itu tidak disambut dengan persetujuan, melainkan penolakan keras yang langsung menghantam. Ketiga adiknya langsung membelalak, menggeleng kuat-kuat, bahkan sempat bersitegang. Mereka bersikeras meminta Zephira mencari opsi donor lain di luar sana, menolak opsi paling mungkin yang Zephira berikan.

Namun, Zephira dengan segala ketenangan yang tersisa memeluk mereka satu per satu. Zephira menggenggam tangan Cera yang dingin, mengusap punggung Meluna yang terisak, dan menatap Adelra yang berapi-api dengan lekat-lekat. Dengan perlahan ia memberikan pengertian. Zephira meyakinkan mereka bahwa keputusan ini diambil karena rasa cinta yang sudah terlalu utuh.

Zephira memeluk erat ketiga adiknya, membisikkan bahwa Tuhan Maha Baik dan semuanya akan baik-baik saja, entah bagaimana bentuk takdir yang akan menuliskan akhir cerita mereka nanti. Pelukan itu akhirnya melunturkan amarah, menggantinya dengan air mata keikhlasan yang teramat berat.

Ketiga adiknya yakin bahwa kakak tertua yang mereka punya selama sepuluh tahun ini akan baik-baik saja, seperti yang Zephira yakini juga. Lalu, bagi Misea sendiri, gadis kecil itu tidak tahu bahwa Zephira lah yang akan menjadi pendonornya. Zephira tidak ingin Misea sendiri merasa bersalah atau bahkan menolaknya juga.

Kini, malam yang hangat tiba. Di dalam kamar rawat, Misea menatap jendela dengan mata berbinar, lalu mendongak menatap wanita yang selama ini menjadi dunianya.

"Mama. Keluar sebentar, yuk? Sea bosan banget di dalam terus. Mau lihat bintang dari taman," ujar Misea.

Zephira yang tengah merapikan beberapa baju Misea yang baru saja diganti itu tersenyum. "Dingin loh, nak di depan nanti."

"Kan kalau dingin, Sea tinggal minta peluk Mama aja. Pasti hangat," kata Misea yang mencoba merayu.

"Ya sudah, sebentar saja ya." Zephira merapikan selimut tipis yang menutupi kaki anaknya sebelum mengangguk. Dengan bantuan kursi roda, Zephira membawa Misea turun ke taman rumah sakit yang tampak sepi.

Misea ingin turun dari kursi roda dan ikut duduk di kursi taman juga bersama Zephira. Namun, Zephira malah mengangkat pelan tubuh Misea yang kian ringan, lalu mendudukkan anak itu di pangkuannya di atas bangku taman panjang. Zephira melingkarkan kedua lengannya erat-erat ke tubuh Misea.

"Udah, begini aja. Biar angin malamnya nggak langsung kena anak Mama," bisik Zephira lembut, menyandarkan kepala Misea di bahunya.

Keduanya menengadah, menatap langit malam yang kebetulan malam ini bertabur kerlip bintang yang bertebaran. Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain deru angin malam yang bergesek dengan daun-daun.

"Mama," panggil Misea.

"Iya?"

Gadis kecil itu menoleh, menatap lekat mata Zephira dari jarak yang begitu dekat. "Kenapa bukan Mama aja ya yang ngelahirin Sea?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, dan sukses membuat napas Zephira tertahan sepersekian detik. Ada nyeri yang tiba-tiba menusuk ulu hati Zephira, tapi ia segera menutupinya dengan senyuman tipis.

"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?" tanya Zephira balik, suaranya bergetar tipis, lalu mendaratkan ciuman singkat di puncak kepala Misea.

Zephira mengeratkan dekapannya, menahan air mata yang mendesak di pelupuk matanya. Ia mengecup pelipis Misea lebih lama. "Kan Mama sudah bilang sama Sea, meskipun bukan Mama yang melahirkan Misea, tapi kamu sudah menjadi milik Mama, anaknya Mama, sejak detik pertama Mama peluk kamu di pelukan Mama," bisik Zephira tulus.

"Takdir mungkin tidak menulis nama Mama sebagai orang yang mengandung dan melahirkan kamu, tapi takdir memilih Mama buat jadi orang yang terus memeluk dan yang paling sayang sama kamu di dunia ini. Itu jauh lebih cukup, kan?"

Misea mengangguk pelan. Ia memutar sedikit posisinya, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Zephira, yang selalu berhasil memberinya rasa aman.

"Mama tahu nggak?"

"Apa, sayang?"

"Beberapa malam ini, pas Sea nggak bisa tidur. Sea selalu berdoa sama Tuhan—" ucap Misea polos, jemarinya meremas ujung kain baju Zephira.

"Sea minta ke Tuhan, kalau Mama Zephi harus jadi Mamanya Sea selamanya." Misea mendongak, menatap wajah Zephira dengan mata berbinar penuh harap khas anak sepuluh tahun.

"Iya, sayang. Mama akan selalu ada di sini," bisik Zephira lembut, suaranya serak. "Anak Mama harus sembuh, ya. Harus sehat dan hidup bahagia."

Misea mengangguk mantap, lalu kembali memeluk pinggang Zephira erat-erat. Beberapa saat kemudian, ia kembali mendongak, menatap lurus ke arah taburan bintang di langit luas.

Angin malam berhembus lebih kencang, menerbangkan ujung rambut Zephira. Ia menatap bintang paling terang di hadapan mereka, lalu menunduk menatap wajah Misea yang mulai kelihatan mengantuk di pangkuannya.

"Sea," panggil Zephira dengan suara yang lembut, nyaris seperti bisikan angin.

"Iya, Ma?" gumam Misea, matanya sudah setengah terpejam menikmati kehangatan pelukan itu.

Zephira mendongak lagi, menatap langit malam dengan senyuman paling tulus. "Kamu lihat bintang yang paling terang di sana?" tanya Zephira sambil menunjuk satu titik cahaya di langit.

Misea membuka matanya, mengikuti arah telunjuk Zephira. "Iya, kelihatan. Kenapa emangnya Ma?"

Zephira menunduk lagi, menatap manik mata Misea lekat-lekat seolah ingin merekam setiap detail wajah anak itu ke dalam ingatannya.

"Kalau suatu hari nanti, entah kapan, kamu ngerasa malam lagi dingin atau bahkan jika kamu merasa dunia lagi nggak adil sama kamu. Jangan pernah ngerasa sendiri, ya ..." bisik Zephira, suaranya begitu tenang namun menyayat hati. "... karena Mama akan selalu ada bersama Sea seperti bintang-bintang itu."

Misea yang tadinya setengah mengantuk langsung mengerjap bingung, kepalanya mendongak menatap Zephira dengan dahi berkerut. "Mama nggak perlu jadi bintang, Mama kan akan selalu ada sama Misea."

Zephira tersenyum, menyapukan ibu jarinya dengan lembut di pipi Misea. "Mama juga maunya begitu, Nak. Tapi kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi sama hidup kita. Apapun itu, jika Mama nggak bisa lagi Sea lihat dalam bentuk diri Mama. Sea hanya cukup mendongak ke langit malam. Cari bintang yang paling terang sinarnya. Itu adalah Mama yang menjaga Sea dalam bentuk lain, meskipun dari jauh."

"Mama selamanya akan selalu jadi bintang yang paling terang buat Sea. Dan Mama akan selalu ada di sini aja ya, lihat bintang itu berdua sama Sea," protes Misea cepat.

Mendengar kepolosan Misea yang sama sekali tidak tahu bahwa orang yang akan berada di ruang operasi esok hari adalah wanita yang sedang memeluknya saat ini, hati Zephira terasa diremas kuat-kuat.

"Mama jangan bicara aneh-aneh ya. Sea mau sama Mama terus." Melihat bibir kecil Misea yang bergetar menahan tangis, Zephira langsung merengkuh tubuh anak itu semakin erat, mendekapnya ke dadanya seolah ingin menyatukan detak jantung mereka.

"Iya, maaf, ya. Mama cuma berandai-andai, sayang," bujuk Zephira lembut, menahan isak tangisnya sendiri di balik senyum yang ia paksakan. "Mama cuma mau Sea tahu, kalau apa pun yang terjadi, kamu harus ingat satu hal, Mama sayang banget sama kamu. Lebih dari apa pun di dunia ini."

Misea membenamkan wajahnya di dada Zephira, merasa aman kembali setelah mendengar bujukan itu. Sementara itu, Zephira terus mengelus punggung kecil tersebut sambil membiarkan tatapannya terpaku pada langit malam—menitipkan seluruh doa, cinta, dan sisa napasnya pada bintang-bintang yang bersaksi di atas sana.

•••

Pagi menyambut seluruh penghuni rumah sakit dengan bias cahaya yang menembus celah jendela koridor. Suasana di lantai rawat inap terasa begitu senyap, dibalut ketegangan yang pekat. Semuanya terasa bergerak lambat.

Sesuai rencana yang diatur demi melindungi anak itu, Misea telah lebih dulu dibawa ke ruang isolasi khusus dalam pengaruh obat penenang. Bocah sepuluh tahun itu tertidur lelap, tidak tahu-menahu bahwa seseorang yang akan merelakan sumsum tulangnya adalah wanita yang paling ia cintai di dunia ini.

Kini, giliran Zephira. Wanita itu berbaring pasrah di atas brankar dorong rumah sakit. Gaun pasien khusus operasi berwarna biru muda membalut tubuhnya, membuat wajahnya tampak semakin pucat di bawah pijar lampu koridor. Di samping kiri dan kanannya, ada Cera, Meluna, dan Adelra yang berjalan mendampingi dengan raut cemas.

"Kak Zephi ...." suara Meluna tercekat, jemarinya yang dingin menggenggam erat sisi brankar sekuat tenaga, seolah takut jika ia melepaskannya, wanita itu akan terbang melayang bersama angin. "Kakak janji harus baik-baik aja ya?"

Lihat selengkapnya