Kita Dalam Jarak Doa

Thedreamwriter
Chapter #20

19. Doa Di Penghujung Malam

•••

Suara engsel pintu ruang pemulihan yang terbuka lebar terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi mereka yang menunggu di koridor. Dokter Bedah Utama melangkah keluar dengan bahu terkulai dan pandangan menunduk, disikuti jajaran perawat yang mematung tanpa kata.Tidak ada kalimat apapun yang terucap. Tidak ada senyum lega. Hanya keheningan pekat yang mendadak melumpuhkan udara di koridor rumah sakit itu.

Cera adalah yang pertama menyadari arti tatapan sang dokter. Kakinya mendadak kehilangan seluas pijakan, gemetar hebat sebelum akhirnya ambruk berlutut di atas lantai keramik yang dingin. Tangannya mencengkeram dadanya sendiri, mencoba meredam sesak luar biasa yang memukul parunya.

Menatap reaksi spontan kakaknya, Meluna yang sadar setelahnya. Dia tak bertanya satu patah katapun, tangis histerisnya yang langsung tumpah tanpa aba-aba.

"AAAAKH NGGAK— NGGAK BOLEH KAK ZEPHI," teriak Meluna histeris, suaranya serak, gemetar hebat, gadis itu baru memukul-mukul wajahnya sendiri untuk berusaha sadar dan bangkit dari sesuatu yang ia anggap mimpi buruk.

Adelra yang mulai terisak pun perlahan meraih tubuh sang kakak, memeluk Meluna erat, mencoba menenangkan gadis itu disaat dirinya sendiri tak mengenal tenang.

"Kak Zephira ...." ujar Meluna melengking.

Cera berjongkok sendirian, tubuhnya bersandar pada dinding rumah sakit. Dia benar-benar tidak bisa berdiri dengan tegak, seluruh tubuhnya terlalu lemas harus menerima semua kejadian ini. Hanya Cera yang tidak histeris diantara ketiga adik-adik Zephira ini. Dia benar-benar menangis dengan menahan segala suara yang membuat dadanya penuh dan sesak.

Kakak? Kak Zephira kenapa pergi? Cera sama siapa, Kak? batin Cera dengan tatapan kosongnya. Dunia Cera seakan hanya berisi suara batinnya sendiri, teriakan Meluna dan isak tangis Adelra terasa samar untuknya.

"KAK ZEPHI, AKU MAU KETEMU KAK ZEPHI, DEL!" Meluna yang paling histeris itu langsung mendorong Adelra menjauh, ia terobos pintu ruang operasi untuk menemui kakaknya di dalam.

"Kak— Kak Luna!" Adelra memanggilnya, ia sempat menoleh sekejap, menatap kakaknya, Cera yang menangis dalam diam, lalu kembali pada langkah untuk mengejar kepergian Meluna.

Cera mencoba berdiri, merangkak memegang lantai dingin rumah sakit. Beralih memegang dinding sebagai tumpuan. Tubuhnya selemas itu, seperti semua tulang yang ia punya melunak seketika.

Dengan langkah gontai, ia kuatkan dirinya untuk berjalan mengekori kepergian kedua adiknya itu. Memasuki ruangan yang baru saja memeluk jiwa kakaknya untuk tak kembali. Tangisnya benar-benar tumpah terisak saat melihat Zephira yang terbaring pucat dengan kain yang sudah menutupi perempuan itu sampai sebatas leher.

"Kak Zephi."

Cera memperhatikan kedua adiknya dari ujung ranjang yang Zephira tempati. Sementara Meluna dan Adelra memeluk Zephira dari kedua sisi. Di kanan, Meluna memeluknya, di kiri, Adelra menempelkan wajahnya ke wajah samping Zephira.

"Kak Zephi bukan pembohong kan? Kak Zephi bilang bakalan baik-baik aja dan pulang kerumah sama-sama. Kenapa Kak Zephi malah pulang ke rumah yang lain?" oceh Meluna.

Isak tangis Meluna sangat menyesakkan sekali. "Jangan begini Kak! Nggak lucu Kak Zephi!"

"Luna nggak bisa. Luna harus bilang apa sama Sea kalau Mamanya nggak bisa Luna selamatin?"

"Luna nggak bisa, Kak."

Suara Meluna makin lama melambat dan lirih, "Jangan, Kak!"

"Luna nggak bisa tanpa Kak Zephi. Kak Zephira ... bangun." Tangisnya kembali pecah, menggeru-geru tak terbantahkan. Benar-benar suaranya selara itu. Meluna merasa dirinya seperti lebur bersama nyawa Zephira hari ini. Kakak yang selalu membantunya, yang tak pernah bilang tidak.

"Gimana Luna bisa lanjutin hidup Luna tanpa Kakak? Kak ... selama sepuluh tahun Luna punya Kakak, lalu sekarang gimana? Luna belum bisa, nggak akan pernah bisa, Kak," ujarnya menyayat.

"Kak Zephira ... Meluna hancur ...."

Cera memejamkan matanya, kata demi kata yang Meluna ucapkan seperti telah mewakili segala perasaannya. Air matanya jatuh terus tak berhenti. Ia ingin sekali se histeris itu, tapi rasanya dia ingkar pada janjinya untuk menjaga adik-adik jika melakukan itu.

"Delra janji sayang sama Sea. Delra juga janji jaga dia bareng-bareng sama Kakak mulai sekarang. Tapi Delra maunya sama Kakak juga. Bukan ditinggalin kayak gini."

Kini Adelra yang bersuara. Relung dadanya terasa penuh dengan beban yang jauh lebih berat dibanding biasanya. Ia tahu, selama sepuluh tahun hubungannya dengan Zephira benar-benar berjarak.

"Kenapa saat semuanya membaik— Delra harus terima kenyataan kalau Delra nggak lagi punya Kak Zephi di hidup Delra?"

Tangisnya menggeru juga, rasa sesal yang jauh mendominasi di dalam dadanya. "Adelra minta maaf Kak Zephira. Adelra udah jahat. Adelra udah buat Kakak nangis terus. Adelra— Kak, nggak bisa. Delra nggak bisa, tolong bangun Kak Zephira ...."

Ada seseorang yang tak bisa histeris karena semua terlalu memukul akal sehatnya. Grezana, si sulung yang sebenarnya. Dia berdiri di ambang pintu. Tak mendekat, tidak berteriak, bahkan tidak memeluk Zephira. Air matanya menetes, tapi badannya terasa kaku sangking tak percaya dengan semua yang terjadi.

Kenapa dulu aku begitu membenci kamu, Zeph? Padahal— aku tahu, kamu orang yang selalu bahagia untuk semua bahagia aku. Maaf, aku terlalu egois untuk selalu iri dengan semua hal yang kamu dapat, batin Grezana.

Kalau saja aku bisa lebih dewasa saat itu. Membiarkan kamu bahagia, mungkin semuanya tidak akan pernah jadi seperti ini. Keluarga kita tidak hancur, Ibu tidak meninggal malam itu, dan adik-adik nggak kehilangan kamu hari ini. Maaf Zephira, aku minta maaf.

Grezana masih diam di tempatnya, menangis tanpa suara dengan dada yang naik turun dengan cepat. Semuanya benar-benar menyesakkan. Pertemuan setelah sepuluh tahun itu ternyata diwarnai oleh kehilangan lagi.

"Seharusnya aku memang nggak perlu menemui kalian. Aku salah," lirih Grezana yang hanya bisa dia dengar sendiri.

Ia ingin melangkah. Ia ingin merengkuh Zephira dan meminta maaf. Namun kakinya seolah terpatri di lantai, dihantam oleh rasa bersalah dan kesadaran mengerikan bahwa pelindung utama mereka telah pergi selamanya—dan ia, dengan segala kekuatannya, tetap gagal menyelamatkannya.

"Lun, Delra, udah Dek. Kasihan Kak Zephi kalau kalian begini. Udah, ya?" ujar Cera, ia mendekat, berdiri di sisi Meluna, mengusap kepalanya serta pundak Adelra dari sisi ini.

"Tapi Kak Cera—"

"Kakak tau, Lun. Tapi ada yang butuh kita untuk tetap di sini. Ada Misea yang Kak Zephira titipin. Balas semua kebaikan Kak Zephi dengan jagain Sea ya?" kata Cera. Dengan sekuat mungkin dia mencoba memberikan pengertian pada kedua adiknya.

Meluna dan Adelra bangkit, melepaskan Zephira dari dekapan. Kedua gadis itu menatap Cera dengan mata sembab. Di titik itulah Cera tersenyum meskipun bibirnya bergetar. Gadis itu merentangkan kedua tangannya, bersedia memeluk kedua adiknya itu.

"Masih ada aku. Kak Cera yang jagain kalian sekarang, ya?"

Tanpa menunggu lama, Meluna dan Adelra menghampiri Cera. Menyambut rentangan tangan itu dengan pelukan. Ketiganya saling mendekap erat. Cera memeluk kedua adiknya tanpa celah sedikitpun. Membiarkan mereka menangis deras di pundaknya, sementara mata Cera kini menatap lekat tubuh kaku kakaknya, Zephira.

Cera jagain, Kak. Cera di sini buat Luna, Delra, dan Misea. Cera janji.

Berat, Kak. Karena selama sepuluh tahun Cera punya Kakak untuk Cera ngadu. Cera nggak tahu setelah ini Cera harus ngadu ke mana lagi kalau Cera bingung dan sedih.

Cera menarik napasnya yang berat, lalu mengembuskan dari mulut. Kedua tangannya masih sibuk mengusap-usap punggung adik-adiknya.

"Cera ikhlas, Kak Zephira. Kakak boleh pergi. Cera yang jagain mereka sekarang. Cera janji. Janji lebih bahagia di sana ya, Kak?" ujar Cera setelahnya.

•••

Suara dengung halus filter udara dan denting ritmis infusion pump menjadi hal pertama yang menyapa indra pendengaran Misea saat kesadarannya perlahan kembali. Tubuhnya terasa begitu berat, dan tenggorokannya kering. Kelopak matanya yang mungil bergetar pelan, membuka sedikit demi sedikit menyesuaikan dengan silau lampu ruangan yang serba putih.

Pandangan Misea yang semula kabur perlahan memfokus. Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah dinding kaca transparan yang membatasi ruang steril itu dengan koridor luar.

Di balik kaca tebal itu, berdiri seorang wanita.

Baju pasien wanita itu tampak bersih, wajahnya terlihat amat bersinar dan tenang. Wanita itu berdiri mematung di sana, menatap Misea dengan binar mata yang begitu hangat. Bibirnya mengukir senyum paling manis yang pernah Misea saksikan, lalu perlahan mengangkat tangannya—melambaikan jemarinya pelan ke arah Misea.

Misea tersenyum tipis di balik masker oksigennya. Dengan sisa tenaganya, bibir kecilnya bergetar membisikkan satu nama.

"Mama Zephi ...."

Suara yang amat pelan itu rupanya tertangkap oleh pendengaran seorang perawat yang sejak tadi berada di sana untuk memantau kantung transfusi sel punca yang menetes perlahan ke dalam jalur infus Misea.

Suster itu langsung menghampiri sisi brankar Misea dengan binar mata yang membelalak kaget sekaligus lega.

"Adek ... kamu sudah bangun?" tanya Suster itu lembut.

Atensi Misea terdistraksi sejenak. Ia menoleh perlahan ke arah perawat tersebut, lalu matanya kembali melirik ke arah dinding kaca transparan di depannya. Matanya yang polos menatap sang perawat dengan bingung.

"Suster," bisik Misea polos, suaranya parau. "Itu Mamanya Sea kenapa nggak dibolehin masuk? Kenapa Mama cuma berdiri di luar?"

Gerakan tangan suster yang sedang merapikan selang infus seketika terhenti kaku.

Jantung perawat itu serasa berhenti berdetak. Seluruh tenaga medis di lantai itu sudah mendengar kabar duka yang baru terjadi beberapa puluh menit lalu di Recovery Room. Zephira, donor sekaligus ibu dari anak ini, telah dinyatakan meninggal dunia.

Tenggorokan perawat itu mendadak tercekat hebat. Ia menatap wajah polos Misea yang menunggu jawaban dengan mata kecilnya yang penuh harapan. Suster itu menarik napas panjang yang bergetar, berusaha keras menahan panas di sudut matanya agar air matanya tidak jatuh di depan pasien kecil ini.

Suster itu memaksakan sebuah senyuman paling lembut yang ia bisa, menepuk pelan tangan Misea.

"Misea harus di sini dulu, ya," tutur suster itu dengan suara yang ditahan agar tidak pecah. "Mamanya belum boleh masuk."

Lihat selengkapnya