•••
Langit hari itu dinaungi awan kelam yang menggantung rendah, seolah meratapi pelepasan terakhir Zephira ke pangkuan bumi. Suasana pemakaman diliputi keheningan yang mencekam, hanya diselingi gesekan dedaunan pepohonan dan hembusan angin dingin yang berembus perlahan.
Aroma tanah basah berbaur pekat dengan wangi kelopak mawar serta melati yang akan tersebar di sekeliling liang lahat. Di atas papan kayu yang menutup peristirahatan terakhir itu, gumpalan-gumpalan tanah merah dijatuhkan satu per satu, bergetar pelan sebelum perlahan menimbun selamanya sosok yang selama ini menjadi pelindung utama di dalam keluarga mereka.
Keempat bersaudara itu berdiri berjejer di tepi makam dalam balutan pakaian serba hitam. Cera berdiri paling depan dengan dagu terangkat tegar meski kedua matanya sembap, meremas erat bingkai foto Zephira di dadanya. Di sebelahnya, Meluna menggenggam jemari Adelra yang menyembunyikan wajahnya di balik bahu sang kakak, menahan isakan agar tidak memecah keheningan. Sementara Grezana berdiri sedikit menyendiri di barisan belakang, menatap hampa gundukan tanah yang kian meninggi dengan dada yang bergemuruh oleh rasa bersalah yang tak akan pernah bisa ia bayar.
Di atas gundukan tanah merah yang masih basah dan bertabur bunga segar, batu nisan bertuliskan nama Zephira Aluna itu kini berdiri kaku. Saat ustadz memimpin doa, keempatnya menyatukan telapak tangan di dada, memanjatkan bisikan-bisikan terakhir yang bergema riuh di dalam kepala mereka masing-masing.
Grezana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Matanya terpejam rapat, menahan sesak yang meremukkan dadanya.
Maafin aku, Zephi, bisik Grezana di dalam hatinya, diiringi linangan air mata yang menetes ke atas tanah.
Aku terlambat untuk pulang dan kamu memilih pergi lebih dulu. Istirahat yang tenang ya, Dek. Jangan cemas lagi, kali ini Kakak janji akan ikut menjaga adik-adik dan Misea untuk kamu. Sampai jumpa lagi, Zephira.
Lalu, Cera menatap nisan itu dengan pandangan yang dalam namun dipaksa tegar. Tangannya yang memeluk bingkai foto makin mengerat.
Tugas Kakak sudah selesai. Terima kasih sudah berjuang sejauh ini dan menyerahkan tongkat estafet ini ke Cera. Jangan khawatirkan rumah kita lagi! Cera yang akan pegang kendali sekarang. Selamat jalan, Kak Zephi, Cera sayang banget sama Kakak, batin Cera.
Sementara itu, Meluna dan Adelra saling menautkan jemari, menyalurkan sisa kekuatan yang mereka miliki.
Kak Zephi, makasih ya udah kasih nyawa Kakak buat Sea. Senang bisa jadi adiknya Kakak, tunggu kita di sana ya, Kak. Meluna sayang banget sama Kak Zephira, gumam Meluna dalam hatinya, membiarkan dadanya bergetar oleh duka.
Adelra menyandarkan keningnya di bahu Meluna, menyapu air matanya yang tak kunjung reda. Pasti di sana udah nggak sakit lagi kan, Kak Zephi? Kangen aku pasti bakal banyak banget buat Kakak. Tapi aku bakal berusaha kuat. Kak Zephi ... sampai bertemu lagi nanti.
Usai aminkan doa bersama, keheningan kembali membungkus pemakaman itu. Mereka menyapu nisan kayu itu untuk terakhir kalinya, mengumpulkan sisa ketegaran sebelum melangkah balik, meninggalkan separuh jiwa mereka di bawah tanah, demi menyongsong keponakan kecil mereka yang masih menunggu di rumah sakit.
Namun saat melangkah meninggalkan area pemakaman, Cera mendadak menghentikan posisinya tepat di depan Grezana. "Kamu pulang ke rumah kamu aja, Kak Gre," ujar Cera pelan namun dingin.
"Jangan ikut ke rumah sakit!"
Grezana terpaku. Wajahnya yang sembap mendongak menatap Cera, lalu beralih ke Meluna dan Adelra yang hanya diam. "Cera, tolong. Aku cuma mau lihat keadaan Misea sebentar."
"Nggak sekarang," potong Cera cepat, menatap lurus mata kakaknya.
Grezana membisu. Tenggorokannya terasa seperti tercekik. Tanpa sanggup membalas sepatah kata pun, Grezana hanya mampu mengangguk pelan, membiarkan berton-ton rasa bersalah kembali mengimpit pundaknya.
Setelah percakapan terakhir itu. Ketiganya bergegas ke rumah sakit dengan ojek mobil. Hanya butuh waktu setengah jam bagi ketiga bersaudara itu untuk tiba. Di area kamar mandi rumah sakit, mereka membasuh wajah, mengusap sisa sembap, dan memoles senyum terbaik yang sanggup mereka rakit.
Melangkah menyusuri lorong menuju unit PICU, mereka mengenakan gaun pelindung steril berwarna biru muda. Pintu bergeser pelan, menyambut mereka dengan embusan angin beraroma antiseptik dan hawa dingin yang menusuk kulit.
Di balik dinding kaca tebal pembatas lorong steril, sesosok tubuh mungil tampak terbaring menyandar pada tumpukan bantal putih. Di atas ranjang itu, Misea masih terlihat lemas dengan selang oksigen terpasang halus di bawah hidungnya.
Awalnya Misea hanya terdiam, tatapan matanya yang sayu menatap langit-langit ruangan yang serba putih. Namun, begitu manik matanya bergulir dan menangkap tiga sosok familiar di sebalik dinding kaca, binar di matanya perlahan hidup kembali. Bibir mungilnya yang pucat menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman polos yang seketika disambut senyum paling manis dari Cera, Meluna, dan Adelra di luar sana.
Mereka saling melempar senyum di balik sekat dingin itu, seolah tak ada beban berat yang tengah menghimpit dada.
Namun, senyum di wajah Misea tidak bertahan lama. Dahinya berkerut halus. Matanya yang membulat tampak bergerak menyisir lorong di belakang ketiga tantenya, mencari satu sosok yang tak kunjung kelihatan. Keraguan terpancar jelas dari raut wajahnya. Mengapa hanya ada mereka bertiga? Ke mana mamanya?
Misea menggerakkan bibirnya. Suara pelannya yang serak tertahan rapat oleh dinding kaca tebal kedap udara, tetapi artikulasi bibirnya terbaca sangat jelas oleh mereka bertiga.
"Mama mana?"
Pertanyaan sederhana itu seperti hantaman keras yang membuat senyum Meluna dan Adelra goyah seketika. Sebelum rasa panik mereka tertangkap oleh mata polos Misea, tangan mungil anak itu terangkat lemas, mengayun pelan memberi isyarat agar mereka segera masuk.
Meluna menyenggol lengan Cera pelan, berbisik lembut. "Kak Cera aja yang masuk duluan. Kan Kakak dari kemarin habis operasi belum sempat ketemu dan pegang Sea sama sekali."
"Tapi kalian nggak ikut?" tanya Cera ragu, menoleh pada kedua adiknya.
"Nanti kita gantian, Kak," timpal Meluna sambil memaksakan senyum tipis, meski matanya tak bisa berbohong.
Adelra mengangguk cepat setuju, menggenggam jemari Meluna erat-erat untuk menguatkan satu sama lain.
Cera menatap kedua adiknya sejenak, lalu mengangguk pelan. Memang benar, sejak prosedur medis kemarin selesai hingga urusan pemakaman Zephira tadi, ia belum menyentuh keponakannya itu. Cera menarik napas panjang, merapikan gaun medisnya, lalu mendorong pintu untuk melangkah masuk menemui Misea.
Pintu bergeser terbuka dengan desisan halus. Cera melangkah masuk ke dalam ruang steril, membiarkan aroma antiseptik yang tajam menyambut indra penciumannya. Setiap pijakan kakinya terasa berat, seolah membawa berton-ton rasa duka yang harus disembunyikan rapat-rapat di balik senyuman.
Misea menoleh cepat saat mendengar langkah mendekat. Wajah mungilnya yang pucat seketika dihiasi binar bahagia. "Kak Cera," panggilnya dengan suara amat pelan dan agak serak, tertahan oleh selang oksigen yang melingkar di pipinya.
"Hai, Sayang," bisik Cera lembut. Ia menarik kursi samping ranjang, lalu duduk dan menggenggam jemari mungil Misea yang terasa dingin. Usapan hangat Cera terasa begitu hati-hati, seolah takut menyakiti tubuh rapuh di hadapannya.
Misea mengerucutkan bibirnya sedikit, menatap Cera dengan pandangan menuntut yang polos. "Kak Cera ke mana aja? Kok baru kelihatan? Sea dari tadi sendirian di sini, sepi."
Dada Cera berdenyut nyeri mendengarnya, namun matanya tetap memancarkan kehangatan tanpa cela. Ia mengusap dahi Misea dengan lembut. "Maaf ya, Sayang. Kak Cera kemarin ada urusan sebentar yang nggak bisa ditinggal. Tapi sekarang Kak Cera udah di sini, kok. Nggak sendirian lagi, ya?"
Misea mengangguk pelan, tapi pandangan matanya tak lantas menetap. Manik bulatnya kembali bergerak melintasi bahu Cera, menatap ke arah sekat kaca tempat Meluna dan Adelra berdiri melambaikan tangan, lalu menyisir setiap sudut ruangan yang hampa.
"Mama mana, Kak?" tanya Misea lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih pelan, hampir tenggelam di antara bunyi bip monitor jantung. "Kenapa Mama nggak kelihatan dari kemarin? Biasanya Mama yang nemenin Sea. Mama tidur di sebelah Sea, usap-usap kepala Sea."
Tenggorokan Cera serasa tercekat. Pertanyaan itu menghantam ulu hatinya dengan telak, memaksa air mata menggenang di sudut matanya. Namun, dengan sekuat tenaga Cera menahannya, mempertahankan senyum paling menenangkan di bibirnya.
Cera mengusap pipi Misea dengan punggung jarinya, membelai lembut penuh kasih sayang. "Mama lagi ada urusan penting hari ini, Sea. Mama harus ketemu klien dulu, sekalian urus beberapa keperluan rumah sakit buat pemulihan Sea nanti."
"Klien?" ulang Misea polos, dahi kecilnya berkerut halus.