Rumah kami tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada dengung linier dari televisi ruang tengah yang menyiarkan berita sore dengan suara penyiar yang berjarak, denting sengit sendok besi menabrak piring keramik, atau derak lantai kayu tua saat seseorang berpindah ruangan. Namun entah sejak kapan, di bawah atap genting yang sama ini, kami bertiga tumbuh dan belajar menjadi tiga orang asing yang paling taat pada aturan tak tertulis.
Kami makan di meja kayu nangka yang sama, bernapas dalam ruang udara yang tak berbeda, tetapi masing-masing membawa duka yang dipagari rapat-rapat. Ayah sibuk melipat kelelahan yang tak pernah ia beri nama. Ibu sibuk membalut kekhawatirannya dalam nada suara yang selalu melengking tinggi—sebuah jeritan halus yang tak pernah benar-benar mengucapkan apa yang sesungguhnya ia butuhkan. Dan aku—aku melatih diriku menjadi anak penurut yang paling paham cara terbaik untuk tidak pernah merepotkan siapa pun.
Di rumah ini, air mata adalah sebuah aib yang tak termaafkan.
"Gitu aja nangis!" kata Ayah suatu sore, tanpa pernah menoleh dari lembar korannya yang berbau tinta kusam dan tembakau murah.
Keluh kesah dianggap sebagai bentuk ketiadaan rasa syukur.
"Ibumu dulu sekolah jalan kaki satu kilometer, tak ada uang saku. Hidupmu sudah enak, bersyukurlah," bisik Ibu tiap kali gerimis turun, meluncur kaku serupa mantra pembungkam yang diulang-ulang.
Di rumah ini, cinta tidak pernah diucapkan; ia dijalankan dingin seperti kewajiban dinas. Ayah tidak pernah memelukku—setidaknya tidak ada dalam lipatan ingatan terkini yang sanggup kupanggil kembali. Namun, ia selalu memastikan rantai sepedaku dilumasi dengan oli hitam dan uang sekolahku dibayar tepat waktu sebelum jatuh tempo. Ibu jarang bertanya bagaimana hariku di sekolah, tetapi ia tahu persis jadwal ulanganku, potongan bajuku yang tak boleh membuatku risih, serta tumpukan pakaian bersih yang terlipat simetris di dalam lemari.
Aku tumbuh dengan meyakini bahwa begitulah cara seluruh dunia bekerja. Dicintai berarti disediakan fasilitas. Perhatian adalah pemenuhan logistik. Selama tidak ada piring yang terbang atau langkah kaki yang angkat dari rumah, kami menganggap segalanya baik-baik saja.
Serpihan Asing di Luar Tembok
Hingga bertahun-tahun kemudian, aku menyadari bahwa aku telah pelan-pelan berjalan pergi dari diriku sendiri. Ada sosok asing berdarah dingin yang menelanku bulat-bulat.
Di luar rumah, aku tampil sebagai manusia dewasa yang normal dan fungsional. Punya pekerjaan berpenghasilan tetap, punya lingkaran pertemanan yang cukup, dan paham betul kapan harus tertawa pada lelucon garing orang lain di kedai kopi. Namun, setiap kali sebuah hubungan merambat mendekati area intim, panik langsung menyergap dari balik dada. Begitu seseorang berusaha melihat lebih jauh ke dalam mataku, aku otomatis mengambil satu langkah mundur—mengunci pintu, menarik diri.