Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #1

Rumah yang Sunyi Tapi Tidak Sepil #1

Rumah kami tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada suara televisi dari ruang tengah, denting sendok bertemu piring, atau langkah kaki yang berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Tapi sejak aku memahami percakapan dan mampu mengucapkan kata dengan benar, ada hal yang tak pernah lahir di rumah ini, yakni : percakapan yang jujur.

Kami tinggal bersama, makan di meja yang sama, hidup di atap yang sama. Namun masing-masing seperti menyimpan dunia sendiri-sendiri. Ayah sibuk dengan kelelahan yang tak pernah ia ceritakan. Ibu sibuk dengan kekhawatiran yang selalu ia bungkus dalam nada tinggi. Aku sibuk belajar menjadi anak yang patuh dan “tidak merepotkan”.

Di rumah ini, menangis dianggap berlebihan. “Aruna! Gitu aja nangis!,” ucap ayah suatu saat.

Mengeluh berarti lemah.

“Ibumu dulu sekolah gak dapat uang saku, jalan kaki satu kilometer. Hidupmu sungguh enak jadi bersyukurlah” bisik ibuku di suatu sore gerimis itu.

Dan diam adalah cara paling aman untuk bertahan.

Aku tidak tahu cara berekspresi. Aku baru menyadari ada yang ganjil saat tumbuh dewasa, ketika orang-orang segenerasi denganku mulai terbiasa mengucapkan perasaan mereka dengan lancar, sementara aku gagap bahkan untuk sekadar berkata, “Aku capek.” Kalimat itu selalu terasa terlalu berat, seolah mengaku lelah sama saja dengan mengaku kalah.

Ayah tidak pernah memelukku, setidaknya bukan dalam ingatan yang bisa kuingat dengan jelas. Tapi ia selalu memastikan aku berangkat sekolah tepat waktu. Ibu jarang bertanya apa yang kurasakan, tapi ia tahu persis ukuran bajuku, makanan kesukaanku, dan jadwal ulangan. Di rumah ini, cinta tidak pernah diucapkan, hanya dijalankan seperti kewajiban.

Dan aku tumbuh dengan percaya: begitulah seharusnya.

Aku belajar bahwa dicintai berarti disediakan. Bahwa perhatian tidak perlu kata-kata. Bahwa selama tidak ada yang pergi, semuanya baik-baik saja.

Sampai suatu hari, aku mulai pergi—pelan-pelan, dari diriku sendiri.

Lihat selengkapnya