Aku tidak ingat kapan pertama kali aku belajar menahan tangis. Tidak ada tanggal yang bisa kutunjuk, tidak ada peristiwa besar yang layak dikenang. Yang ada hanya potongan-potongan kecil, seperti serpihan kaca—berkilat sebentar saat terkena cahaya, lalu menghilang ditelan bayangan. Ingatan itu datang seperti matahari pagi yang malu-malu: muncul sejenak, lalu kembali ditelan mendung pekat.
Tangisku pernah dianggap berisik.
“Sudah, jangan cengeng.”
“Anak kuat itu nggak nangis.”
Kalimat-kalimat itu meluncur tanpa nada tinggi, tanpa kemarahan. Justru itulah yang membuatnya terus melekat dan terasa final. Tenang. Datar. Seolah itu bukan teguran, melainkan rumus matematika untuk hidup yang harus kuhafal. Aku tidak dimarahi karena menangis; aku diarahkan. Dibetulkan. Seperti ada cara yang benar untuk menjadi anak, dan caraku waktu itu jelas keliru.
Suatu sore, lututku berdarah karena jatuh dari sepeda. Roda depan tergelincir di kerikil, remnya tidak bekerja dengan baik, membuat tubuhku terpelanting ringan, lalu dunia sejenak terasa miring. Aku pulang menuntun sepeda dengan rintih yang kutahan di tenggorokan. Rantai sepeda berderit setiap kali roda diputar, seolah ikut mengadukan sakit yang tak berani kusuarakan.
Aku duduk di lantai teras yang dingin, menahan perih yang menjalar dari kulit ke tulang. Darah menetes pelan, membentuk noda kecil di ubin. Bau karbol dari dalam rumah bercampur dengan aroma tanah basah sisa hujan. Angin sore membawa suara anak-anak lain yang masih bermain di ujung gang—tawa mereka ringan, melayang-layang, seolah tidak ada apa pun yang perlu ditahan.
Pintu terbuka.
Ibu berdiri di ambang, menatap lututku sekilas, lalu sepeda yang tergeletak di sampingku.
“Kenapa itu?” tanyanya, nadanya datar, seperti menanyakan jam pulang.
“Jatuh, Bu,” jawabku pelan.
Ia mendekat, jongkok sebentar, memperhatikan luka itu tanpa menyentuhnya. Alisnya berkerut tipis, bukan karena panik, melainkan menghitung.
“Main sepeda ngebut lagi, ya?” katanya.
Aku menggeleng. “Remnya nggak pakem.”
Ibu menghela napas pendek. “Sudah sering dibilang dicek dulu. Kamu tuh kalau disuruh dengerin, susah.”
Ia berdiri, lalu masuk ke dalam rumah. Aku tetap duduk, lututku berdenyut mengikuti detak jantung. Beberapa saat kemudian, ibu kembali membawa baskom kecil berisi air hangat, kapas, dan botol antiseptik.
“Ke sini,” katanya singkat.
Aku mendekat. Ia memegang kakiku dengan satu tangan, tangannya dingin, gerakannya cekatan. Kapas dicelup, diperas, lalu ditempelkan ke luka. Rasa perih menyambar, membuat bahuku menegang.
“Jangan ditarik,” katanya, melihat tubuhku refleks menjauh.
“Perih, Bu,” ucapku lirih.
“Namanya juga luka,” jawabnya cepat. “Kalau nggak perih, nggak sembuh.”
Ia menggosok luka itu sedikit lebih keras. Mataku panas, air mata menggenang. Aku menatap ke samping, ke dinding rumah yang catnya mengelupas.
“Sudah, jangan lebay,” katanya lagi. “Cuma segitu. Laki-laki harus kuat.”
Aku mengangguk, meski tenggorokanku tercekat. Tangis itu kutelan pelan-pelan, seperti menelan obat pahit tanpa air. Ibu lalu mengoleskan obat, menempelkan kain kasa, dan membalutnya rapi.
“Besok jangan main dulu,” katanya sambil merapikan perban. “Nanti tambah parah.”
Ia berdiri, membereskan peralatan, lalu berjalan kembali ke dalam rumah.