Aku tidak ingat kapan pertama kali aku belajar menahan tangis. Tidak ada tanggal merah di kalender yang bisa kutunjuk, tidak ada peristiwa megah yang perlu diabadikan dengan monumen. Yang tersisa dalam ingatan hanyalah serpihan-serpihan kecil—seperti pecahan kaca kusam yang berkilat sebentar diterpa cahaya senja, lalu hilang ditelan bayangan pekat.
Tangisku di rumah ini tidak pernah disambut teriakan histeris atau tamparan keras. Kemarahan di bawah atap kami dihantarkan dengan nada yang amat datar.
"Sudah, jangan cengeng."
"Anak kuat itu tidak menangis. Kamu anak laki-laki."
Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja tanpa beban—tenang, dingin, dan nyaris tanpa gelombang emosi. Justru karena ketiadaan emosi itulah mereka dengan cepat meresap menjadi doktrin. Seolah itu bukan sekadar teguran orang tua kepada anaknya, melainkan rumus pasti untuk bertahan hidup di dunia. Aku tidak pernah merasa sedang dimarahi karena menangis; aku merasa sedang dikoreksi dari sebuah kesalahan teknis. Seperti ada cetakan baku tentang bagaimana seorang anak harus bersikap, dan caraku merespons rasa sakit jelas dianggap sebagai cacat produksi.
Bau Karbol dan Sepeda Rusak
Suatu sore di usia delapan tahun, lututku berdarah karena jatuh dari sepeda. Roda depan tergelincir di atas kerikil tajam, remnya yang aus tak sanggup menahan beban, dan tubuh kecilku terpelanting serupa kertas ditiup angin kencang. Aku pulang menuntun sepeda tua itu dengan rintihan yang kukunci rapat-rapat di pangkal tenggorokan. Rantai sepeda berderit miring di setiap putaran roda, seolah ikut mengadukan rasa sakit yang tak berani kulepaskan.
Aku duduk di atas ubin teras yang dingin. Darah segar menetes pelan dari lukaku, membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang dihisap semen. Bau karbol dari lantai dalam rumah bercampur kental dengan aroma tanah basah sisa gerimis sore. Dari ujung gang, tawa anak-anak lain melayang-layang di udara—ringan, renyah, dan tanpa beban, seolah dunia tak pernah menuntut apa-apa dari mereka.
Pintu depan terdorong terbuka dengan gerakan pelan yang terukur, seakan ada standar prosedur operasional untuk memutar gagangnya. Ibu berdiri di ambang pintu. Matanya menatap lututku sekilas, lalu beralih dingin pada sepeda yang tergeletak di pelataran.
"Kenapa itu?" tanyanya datar, serupa petugas yang menanyakan jam kedatangan bus.
"Jatuh dari sepeda, Bu," bisikku.
Ia mendekat, berjongkok di hadapanku tanpa sedikit pun menyentuh kulitku. Alisnya berkerut tipis—bukan karena panik melihat darah, melainkan sedang kalkulasi dan menghitung kecerobohanku.
"Main sepeda ngebut lagi, ya?"
Aku menggeleng pelan. "Remnya tidak pakem."