Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #3

Bahagia yang Tidak Pernah Diajarkan

Aku tumbuh tanpa kamus untuk membaca perasaanku sendiri.

Marah sering kusangka lelah.

Sedih kusebut capek.

Takut kusebut masuk angin.

Semua rasa punya nama pengganti yang lebih aman—lebih sopan—lebih bisa diterima. Aku belajar menyederhanakan batin agar tidak merepotkan siapa pun, termasuk diriku sendiri. Mungkin terutama diriku sendiri.

Suatu sore di kampus, aku duduk di kantin bersama seorang teman kuliah dari jurusan psikologi. Namanya Rani. Rambutnya dikuncir sederhana, matanya tajam tapi hangat. Ia sering jadi tempat curhat teman-teman lain, mungkin karena cara bicaranya yang tenang, penuh perhatian, dan tidak menghakimi.

“Aku perhatiin kamu jarang cerita soal perasaan,” katanya sambil menyeruput teh hangat.

Aku tertawa kecil, mencoba menutup perasaan yang mulai menebal. “Emang perlu ya? Kan nggak semua orang harus tahu isi kepala kita.”

Rani menatapku lama, menunggu. Lalu tersenyum tipis, tapi matanya tetap serius. “Itu namanya emotional suppression. Penekanan emosi. Kamu kayak… sengaja nutup pintu biar orang nggak lihat.”

Aku mengernyit. “Kenapa harus dibuka? Kalau ditutup kan lebih aman.”

“Justru itu masalahnya,” jawabnya pelan. “Kelihatan kuat dari luar, tapi di dalam bisa kosong. Orang lain susah masuk, kamu sendiri pun susah keluar.”

Aku diam. Suara riuh mahasiswa lain di kantin terasa jauh, seperti menyingkir memberi ruang bagi kata-kata itu untuk masuk.

“Kalau terus ditahan,” lanjut Rani, “hubungan jadi dingin. Orang dekatmu bingung, karena kamu nggak pernah benar-benar berbagi. Kamu pikir kamu melindungi mereka, padahal kamu malah menjauh.”

Aku menunduk, memainkan sendok di tangan. “Aku cuma nggak mau bikin orang repot.”

Rani tersenyum, kali ini lebih lembut, seperti ia memegang kepingan kaca rapuh di tangannya. “Kadang, berbagi itu bukan merepotkan. Itu justru bikin orang merasa dekat. Menangis bukan kelemahan. Itu bahasa tubuh yang kehabisan kata.”

Kalimat itu menancap dalam. Aku tidak langsung menjawab. Ada bagian diriku yang ingin membantah, tapi ada juga bagian lain yang diam-diam mengakui kebenarannya. Sejak percakapan itu, aku mulai sadar: aku tidak pernah benar-benar diajari cara membuka ruang untuk merasa. Aku hanya diajari cara menutup rapat-rapat.

----

Saat remaja, tubuhku berubah lebih cepat daripada keberanianku mengenali apa yang terjadi di dalam kepala. Aku menjalani hari-hari seperti daftar tugas: bangun, sekolah, pulang, belajar, tidur. Hidup terasa seperti antrean panjang yang harus diikuti dengan tertib. Tidak boleh menyerobot. Tidak boleh bertanya kenapa antrean ini bergerak lambat. Tidak boleh keluar barisan.

Yang aku dapatkan harus didapatkan melalui jalan yang telah ditetapkan. Tidak jalan lain.

Orang-orang memujiku.

“Anaknya mandiri.”

“Kelihatan dewasa.”

“Nggak manja.”

Lihat selengkapnya