Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #3

Bahagia yang Tidak Pernah Diajarkan

Aku tumbuh tanpa ensiklopedia untuk mengeja perasaanku sendiri.

Marah sering kusangka lelah. Sedih kusebut capek. Takut kujelaskan sebagai masuk angin. Semua rasa yang meluap di dada selalu kupilihkan nama pengganti yang lebih aman—yang lebih sopan, lebih dingin, dan lebih mudah diterima oleh orang-orang dewasa di sekitarku. Aku belajar menyederhanakan batin agar tidak merepotkan siapa pun, terutama diriku sendiri.

Sebab di rumahku, bahagia tidak pernah masuk dalam daftar kebutuhan pokok. Yang dihitung setiap akhir bulan hanya tiga hal: aman, cukup, dan tidak bikin malu keluarga.

"Yang penting kerja."

"Yang penting sehat."

"Yang penting tidak bikin masalah."

Bahagia terasa seperti kata asing dari bahasa lain yang terlalu mewah untuk diucapkan sehari-hari. Ia hanya sesekali lewat di balik layar televisi—keluarga yang tertawa utuh mengelilingi meja makan yang berlimpah makanan—lalu mendadak menguap begitu siaran berganti menjadi berita kriminal sore. Itu hanya rekaan di televisi, bukan sesuatu yang berhak ada dalam kenyataan. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya pulang membawa cerita lalu disambut pertanyaan tulus, "Hari ini kamu kenapa?" Yang ada hanyalah, "Nilaimu berapa?" atau "Kamu tidak bikin ulah di sekolah, kan?"

Maka aku belajar mencintai dan menjalani hidup dengan rumus yang sama: irit emosi, serba hati-hati, dan selalu siap menahan diri.

Cangkir Bergoyang dan Tembok Dingin

Saat kuliah, aku sempat dekat dengan seorang perempuan. Ia hangat, ekspresif, dan tidak punya benteng untuk menyembunyikan tangis atau rindunya. Berada di dekatnya membuatku kagum sekaligus canggung setengah mati.

Suatu sore di kedai kopi remang dekat kampus, ia menatapku lama dari balik cangkirnya. Cangkir keramik itu bergoyang pelan di jemarinya yang lentik, memantulkan pendar lampu kuning redup yang menggantung dari atap kayu. Aroma bubuk kayu manis dan uap espresso yang kental mengambang di antara kami, membentengi keheningan yang mendadak canggung.

"Kamu tuh baik, Aruna. Tapi jauh," katanya pelan.

Aku tertawa kecil, mencoba mengalihkan arah percakapan dengan lelucon hambar yang kurancang cepat. "Jauh bagaimana? Aku kan duduk persis setengah meter di depanmu."

Ia tidak ikut tertawa. Matanya menatap tepat ke manik mataku, menembus retakan-retakan kecil yang selalu berusaha kusembunyikan di balik kemeja rapi.

"Bukan fisikmu," sela perempuan itu, menggeleng tipis. "Ada tembok tebal di sekelilingmu. Rapi, dingin, dan sangat tebal. Kamu tidak pernah membiarkan siapa pun benar-benar masuk melintasinya. Kamu seperti... tidak pernah diajari cara mendengarkan perasaanmu sendiri."

Lihat selengkapnya