Sore itu, kamar terasa lebih sempit dari biasanya. Bukan karena ukuran dinding yang berubah, melainkan karena udara di dalamnya seperti menolak bergerak. Tirai jendela setengah tertutup, membiarkan cahaya matahari masuk dalam garis-garis pucat yang jatuh di lantai. Debu-debu kecil menari di sana, seolah punya kehidupan sendiri—bebas, tanpa beban. Tirai itu tidak bergerak. Diam. Seperti sengaja menahan dunia agar tidak sepenuhnya masuk.
Aku duduk di lantai, bersandar pada ranjang kayu yang seprainya kusut. Punggungku menempel pada kayu yang dingin. Untuk waktu yang lama, aku tidak melakukan apa-apa. Tidak membuka ponsel, meliriknya pun tidak. Tidak memikirkan pekerjaan. Tidak mencoba menghibur diri. Aku hanya ada. Tirai tetap setengah tertutup, membiarkan cahaya masuk secukupnya—tidak terlalu terang, tidak terlalu gelap, seperti aku yang belum berani sepenuhnya terlihat.
Dan untuk pertama kalinya, aku mengucapkan kalimat yang selama ini seperti biji yang tersangkut di tenggorokan:
“Aku lelah.”
Kalimat itu jatuh begitu saja ke udara. Tidak diikuti doa. Tidak disusul rencana untuk langkaha berikutnya. Tidak ada niat untuk bangkit atau memperbaiki apa pun. Hanya pengakuan mentah—kasar, belum dipoles—seperti luka yang akhirnya dibuka perbannya, bukan untuk diobati, tapi sekadar dilihat. Tirai di jendela bergeming. Ia membiarkan kata itu mengendap, tidak terbawa angin ke luar.
Aku menunggu sesuatu terjadi setelahnya. Kelegaan, mungkin. Atau kesedihan yang lebih besar. Tapi tidak ada. Yang ada hanya hening, panjang dan kikuk, seperti dua orang asing yang duduk berhadapan tanpa tahu harus memulai percakapan dari mana. Hening itu terasa menebal, tertahan di antara aku dan tirai yang masih setengah menutup dunia.
Ponselku bergetar. Seorang teman mengirim pesan ringan, menanyakan kabar dengan basa-basi yang biasa. Biasanya aku akan membalas cepat, otomatis, tanpa berpikir. Tapi kali ini, jariku berhenti lama di atas layar. Cahaya dari ponsel memantul samar di kain tirai, seperti tanda tanya yang belum berani disebutkan.
Aku menulis, menghapus, lalu menulis lagi.
“Aku nggak baik-baik aja.”
Kalimat itu terasa aneh, seperti baju yang belum pernah kupakai—sedikit kebesaran, sedikit menakutkan. Setengah bohong karena aku masih bisa membalas dengan emotikon kecil, masih bisa tertawa singkat membaca candaan. Setengah jujur karena ada sesuatu di dalam dadaku yang retak perlahan, nyaris tanpa suara. Tirai tetap di posisinya, seolah mengerti bahwa kejujuran pun kadang butuh penutup tipis agar tidak terasa telanjang.
Malam datang tanpa peringatan. Lampu kamar menyala. Aku berbaring, memunggungi dinding. Bayangan tirai jatuh panjang di lantai, membentuk garis samar yang membelah ruang. Dan entah dari mana asalnya, air mata itu turun. Bulir air menetes satu persatu, perlahan. Tidak ada tragedi besar yang mendahului. Tidak ada ingatan dramatis yang menyerbu. Tangis itu muncul begitu saja, seperti hujan gerimis di hari yang sebenarnya tidak mendung.
Aku tidak terisak. Tidak ada suara keras, tidak pula sesenggukan. Air mata hanya mengalir, membasahi bantal, meninggalkan jejak hangat di pipi. Tubuhku seperti sedang mencoba sesuatu yang baru, sebuah eksperimen yang selama ini ditunda. Tirai tidak bergerak, tapi bayangannya bergoyang tipis, seolah ikut bernapas bersamaku.
Aku teringat kalimat dari buku psikologi yang pernah kubaca setengah hati :