Di lantai empat belas gedung perkantoran berdinding kaca ini, udara selalu beraroma dingin yang seragam: campuran pembersih karpet beraroma lemon buatan, uap kopi dari pantry, dan pendingin udara yang bekerja tanpa henti.
Aku duduk di balik bilik kerjaku. Dua layar monitor menyala terang, memancarkan deretan angka, tabel spreadsheet, dan surat elektronik yang mengantre untuk dibalas. Jemariku menari cepat di atas papan ketik, menghasilkan irama ketukan yang rapi dan ritmis: takk-takk-takk.
Di dunia profesional, kebiasaanku menahan diri tidak pernah dinilai sebagai cacat. Justru sebaliknya, ia menjelma menjadi keahlian yang sangat dihargai.
"Aruna itu tenang sekali, ya," puji Pak Seno, manajer divisi kami, dalam sebuah rapat evaluasi proyek kuartal dua. Ia menunjuk slide presentasi di layar proyektor dengan pulpennya. "Di tengah deadline mepet dan krisis vendor kemarin, dia sama sekali tidak panik. Selalu fokus pada solusi, tidak pakai emosi."
Beberapa rekan kerja menoleh padaku, melempar senyum kagum atau anggukan setuju. Aku membalasnya dengan senyum simetris yang sudah dihafal luar kepala oleh otot-otot wajahku. Sebuah senyum formal yang cukup hangat untuk terlihat ramah, namun cukup tegas untuk mencegah siapa pun mengajukan pertanyaan pribadi.
"Terima kasih, Pak," jawabku pendek dan santai. "Sudah kewajiban."
Mesin Tanpa Cacat
Mereka melihat seorang karyawan teladan, seorang pekerja tangguh yang sanggup menampung tumpukan dokumen dan tekanan target tanpa pernah mengeluh. Namun, tidak ada yang tahu bahwa ketenanganku bukanlah bentuk ketabahan yang dewasa, melainkan mekanisme pertahanan diri yang sudah karatan. Aku tidak panik bukan karena aku pandai mengelola stres, melainkan karena aku sudah melatih diriku untuk mati rasa sejak usia delapan tahun.
Bagi sistem di kantor ini, aku adalah mesin yang sempurna. Aku tidak pernah membawa masalah pribadi ke meja kerja, tidak pernah terlibat drama antardivisi, dan selalu menyetujui lembur tanpa debat. Aku menyediakan diriku sebagai wadah penampung beban, tempat orang-orang melemparkan tugas-tugas sulit karena tahu aku tidak akan protes.
Namun, di balik fungsionalku yang tampak mengagumkan itu, ada ruang kosong di dadaku yang kian hari kian membengkak.
Sekitar pukul empat sore, ketika sinar matahari barat menyusup miring menembus kaca luar gedung dan melempar bayangan tiang-tiang beton ke atas karpet abu-abu, Elara melintas di depan bilik kerjaku. Ia membawa sebuah map manila tebal dan gelas termos stainless steel.
Ia menghentikan langkahnya, bersandar santai pada dinding pembatas ruang kerjaku.
"Laporan audit internal sudah selesai, Aruna?" tanyanya pelan. Suaranya tidak terlalu kencang, pas dengan batas kesopanan ruang kantor.