Sore itu, kamar kosku terasa lebih sempit dari biasanya. Udara menolak bergerak, seperti sengaja menjebak sisa panas siang di antara empat dinding kusam. Cahaya matahari menyusup dalam garis-garis pucat, menelanjangi debu-debu kecil yang menari bebas di udara. Mereka tidak punya beban, tidak punya keharusan untuk terlihat tegap.
Aku duduk di lantai, bersandar pada rangka ranjang kayu yang seprainya kusut. Punggungku menempel pada ubin yang dingin. Untuk waktu yang lama, aku tidak melakukan apa-apa. Tidak memikirkan pekerjaan. Tidak mencoba mencari pelarian. Aku hanya ada.
Dan untuk pertama kalinya, tanpa seorang pun yang mendengarnya, aku mengucapkan kalimat yang bertahun-tahun tersangkut di tenggorokan:
"Aku lelah."
Kalimat itu jatuh begitu saja ke udara. Tanpa susulan rencana, tanpa pencerahan instan, tanpa doa. Hanya pengakuan spontan—seperti bekas luka yang akhirnya dicopot perbannya, bukan untuk diobati, melainkan sekadar dibiarkan bernapas.
Aku menunggu sesuatu terjadi setelahnya. Kelegaan ajaib, mungkin? Atau kesedihan meluap-luap? Tapi tidak ada. Yang tersisa hanya hening yang kikuk, seperti dua orang asing yang dipaksa duduk berhadapan di ruang tunggu tanpa tahu harus memulai percakapan dari mana.
Ponsel di samping paha bergetar pelan, memecah hening dengan kilatan cahaya layar yang menyengat mata. Sebuah nama rekan kerja tertera di sana.
“Bro, aman kan? Jangan lupa draf laporan buat besok ya.”
Dulu, tanganku punya refleks yang sangat lihai. Tanpa perlu berpikir, jemariku akan menari cepat di atas keyboard mengetikkan pertahanan palsu yang sudah dihafal luar kepala: “Sip, aman bro! Nanti malam dikirim.” Sebuah kebohongan kecil yang sopan demi menjaga citra manusia tangguh yang tak pernah kewalahan.
Namun sore ini, jemariku membeku di atas layar. Ada kelelahan yang kelewat berat, menahan ibu jariku untuk berpura-pura. Aku mengetik balasan pendek.
“Masih tak pikirin bro, kepala rada berat.”
Balasan darinya datang cepat, tipikal orang kota yang selalu dikejar tenggat.
“Waduh, kenapa tuh? Kurang kopi apa kurang liburan? Haha. Tapi draft aman kan diselesaiin malam ini?”
Pertanyaan itu terasa seperti dorongan kecil di tepi jurang. Ia tidak benar-benar bertanya bagaimana keadaanku; ia hanya butuh kepastian bahwa pekerjaanku tidak akan mengganggu pekerjaannya. Dan di titik itulah, pertahananku yang kaku retak. Aku mengetik, menghapus, melipat rasa ragu, lalu menekan tombol kirim sebelum keberanianku habis.
“Jujur, aku lagi nggak baik-baik aja, bro.”
Pesan itu terkirim. Seketika, penyesalan langsung menyergap dada. Aku merasa lebay, merasa telanjang, merasa baru saja melakukan kesalahan fatal dengan menurunkan benteng pertahanan di hadapan orang lain.