Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #5

Hubungan yang Selalu Gagal di Tengah Jalan

Aku menatap layar ponsel dengan jari yang ragu menekan tombol kirim. Pesan itu hanya bertuliskan, “Aku baik-baik saja.” Tapi aku tahu itu dusta. Selalu begitu. Selalu aku yang menahan diri, selalu aku yang menatap orang-orang dekat dari balik tembok yang kubuat sendiri.

Di luar jendela, malam merayap pelan. Lampu jalan memantul di aspal yang masih basah oleh hujan sore, menciptakan kilau kuning kusam seperti luka lama yang dipoles agar tampak sembuh. Aku tahu pola ini. Selalu sama. Aku menarik diri tepat ketika sesuatu mulai terasa dekat. Aku membangun tembok, lalu berdiri di belakangnya, menonton orang-orang yang kucintai dari kejauhan—aman, tapi kesepian.

Setiap hubungan selalu dimulai dengan harapan. Harapan yang sederhana: tawa yang mengalir tanpa dihitung, rasa aman yang datang tanpa diminta, percakapan ringan yang membuat dada terasa hangat. Seperti sore yang tidak tergesa. Seperti kopi yang tidak perlu gula.

Lalu, Aprilia datang.

Aku pertama kali bertemu Aprilia di kafe tempat Elara selalu duduk membaca buku. Dia datang dengan rambut panjang berkilau, tawa yang ringan tapi tajam, dan mata yang seperti bisa menebak pikiran orang lain. Elara memperkenalkan kami:

“Aruna, ini Aprilia. Aprilia, ini Aruna.”

Aku menyambut uluran tangannya: lembut dan dingin. Dinginnya seolah menular lalu dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhku. Aprilia menatapku dan tersenyum. Sederhana, tapi menggetarkan sesuatu di dalamku.

“Kamu suka kopi hitam?” tanyanya, seakan sudah tahu jawabanku sebelum kutanggapi.

Pertemuan itu singkat, tapi menyisakan getar yang aneh. Kami duduk di sudut kafe, berbicara tentang hal-hal kecil: lagu yang sedang didengar, film yang baru ditonton, bahkan rasa teh yang terlalu manis. Semua terasa seperti rahasia yang hanya kami yang tahu.

Hari-hari setelahnya, Aprilia mulai sering muncul. Kadang dengan alasan yang dibuat-buat, kadang tanpa alasan sama sekali. Jalan sore di trotoar yang dipenuhi daun gugur. Pesan-pesan singkat yang tidak selalu penting, tapi cukup untuk membuatku menatap layar lebih lama dari seharusnya.

Suatu sore, kami bertemu di kafe kecil dekat stasiun—tempat kereta lewat setiap tiga puluh menit, meninggalkan suara besi yang beradu seperti keluhan panjang. Aprilia menirukan gaya barista yang salah menyebut nama pelanggan.

“Aruna… atau Aruni? Arunika? Aru—”

“Tidak lucu,” potongku.

Dia pura-pura merajuk, menautkan bibir. “Kamu memang susah dibuat tertawa.”

Aku tersenyum tipis, meski tidak mengakuinya. Ada hangat yang diam-diam tumbuh dari kegagalannya membuatku tertawa.

Di lain waktu, kami duduk di taman kota. Aprilia menunjuk patung burung merpati yang sayapnya patah.

Lihat selengkapnya