Aku tidak pandai berbicara saat marah.
Tapi aku mahir dalam diam.
Diam adalah bahasa pertamaku ketika sesuatu terasa terlalu rumit untuk dijelaskan. Diam adalah pagar. Diam adalah cara tercepat untuk menghentikan percakapan sebelum aku harus mengakui bahwa ada sesuatu di dalam diriku yang goyah.
Aku dulu percaya:
diam akan menyelesaikan masalah. Dia adalah solusi untuk segala persoalan.
Nyatanya, diam hanya menunda kehancuran.
Aku dan Aprilia duduk berhadapan di meja makan apartemenku. Lampu putih menggantung rendah, jatuh rata, tanpa sudut gelap untuk bersembunyi. Bayangan kami menempel di meja, nyaris bersentuhan tapi tetap terpisah seolah menjadi penanda jarak.
Pendingin udara bekerja tanpa cela, dingin dan terukur. Di luar jendela, malam merambat lambat. Lampu jalan menyala satu per satu, klakson terdengar sekejap, lalu lenyap—seperti dunia yang terus berjalan tanpa menunggu kami.
Cangkir kopi di depannya dingin, ia tidak menyentuh. Aku tidak menawarkan. Aroma pahitnya bercampur dengan bau furnitur dan malam yang mulai tua. Kami duduk tegak, tangan di tempat semestinya, napas dijaga—seperti dua orang yang sepakat bersikap dewasa, meski tidak tahu harus melakukan apa dengan sisa perasaan.
Ironisnya, apartemen yang dulu terasa sempit saat tertawa, kini luas dan netral. Tidak ada yang mendorong bicara. Tidak ada yang memaksa diam. Dan karena ketertiban yang sempurna itulah, sesuatu di antara kami perlahan mulai menghilang—bukan dengan ledakan, tapi dengan dingin yang presisi.
Aprilia menatapku lama. Terlalu lama.
“Kamu kenapa?” tanyanya akhirnya.
Aku mengangkat bahu. Gerakan kecil, hampir tidak terlihat.
“Nggak kenapa-kenapa.”
Ia menghela napas. Bukan keras. Justru terlalu pelan—seperti orang yang sudah sering mendengar jawaban itu dan tahu betul artinya.
“Kamu selalu jawab begitu,” katanya. “Padahal jelas-jelas ada sesuatu. There’s something wrong. I know it.”
Aku menunduk, menatap meja. Serat kayunya membentuk garis-garis tak beraturan. Aku fokus ke sana, seolah jika cukup lama menatap, aku bisa menemukan jalan keluar.
Diam.
Aprilia bergeser di kursinya. Kakinya menyentuh kaki meja. Ada bunyi kecil. Ia menyilangkan tangan di dada—posisi bertahan.
“Kamu tahu,” katanya lagi, suaranya berusaha tetap tenang, “dalam psikologi, diam itu juga bentuk agresi.”
Aku mendongak. Alisku sedikit terangkat.
“Agresi pasif,” lanjutnya. “Bukan teriak, bukan marah. Tapi bikin orang lain menebak-nebak, merasa bersalah, merasa sendirian.”
Aku ingin menyangkal. Ingin bilang aku hanya butuh waktu. Ingin bilang aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Tapi kata-kata itu menumpuk di kepalaku tanpa jalan keluar. Mulutku terasa kaku.
Diam.
Aprilia tersenyum tipis. Senyum yang bukan bahagia.
“Kamu tahu rasanya bicara sama tembok?” tanyanya. “Aku merasa seperti itu tiap kali kamu begini.”
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Dadaku sesak. Ada dorongan untuk bangkit, untuk memeluknya, untuk berkata, aku di sini. Tapi tubuhku tidak bergerak. Ada suara lama di kepalaku—suara yang sangat kukenal.
Kalau kamu bicara, semuanya bisa jadi lebih buruk.