Aku menatap layar ponsel yang menyala di kegelapan kamar. Ibu jariku menggantung lama di atas layar kaca yang dingin, ragu menekan tombol kirim. Di sana, tiga kata sederhana berbaris rapi: “Aku baik-baik saja.”
Sebuah kebohongan yang dirancang dengan sangat presisi. Selalu begitu. Selalu aku yang memadamkan api sebelum sempat menjadi hangat, memoles dinding tebal di sekeliling dada, lalu menonton orang-orang yang berusaha mendekat dari balik celah sempit—merasa aman, namun digerogoti sepi.
Di luar jendela, malam merayap lambat. Lampu-lampu jalan memantulkan warna kuning kusam di atas aspal yang basah oleh sisa hujan sore. Kilau itu menyerupai luka lama yang sengaja ditutupi bedak tipis agar tampak sembuh.
Aku paham betul pola ini. Begitu sebuah hubungan mulai mengikis batas intim, bayangan bahaya langsung menyergap. Saraf-sarafku bereaksi refleks: mengambil satu langkah mundur, mengunci selot pintu, dan membiarkan orang lain mengetuk sampai jemari mereka lelah.
Setiap hubungan selalu mengetuk pintu dengan janji yang manis. Harapan yang begitu sederhana: percakapan yang mengalir tanpa perlu ditimbang bobotnya, tawa yang lepas tanpa rasa takut dihakimi, atau sekadar duduk berdua menyaksikan senja tanpa keharusan mengisi hening dengan kata-kata. Seperti cangkir porselen berisi kopi hangat di sore yang tidak tergesa.
Lalu, Aprilia hadir.
Pertama kali aku melihat Aprilia, ia sedang berdiri di sudut kafe tempat Elara biasa menghabiskan akhir pekan. Cahaya sore jatuh miring menimpa rambut panjangnya yang berkilau. Ia memiliki tawa yang vokal—ringan, renyah, tetapi punya ketajaman yang sanggup melintasi bising suara mesin espresso. Matanya bergerak jernih, seolah mampu membaca tumpukan keraguan yang kusembunyikan di balik lipatan kemeja.
Elara memanggilku, menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
“Aruna, kenalkan. Ini Aprilia.”
Aku mengulurkan tangan. Saat jemari kami bertaut, telapak tangannya terasa lembut namun mengejutkan: dingin. Dingin yang merayap cepat lewat pergelangan tanganku, menjalar halus hingga ke tengkuk. Aprilia menatapku lurus, melepas senyum tipis yang mendadak mengacaukan ritme napasku.
“Kopi hitam tanpa gula?” tanyanya, melirik cangkir di depanku seakan ia sudah membaca seluruh kebiasaanku sebelum aku sempat bersuara.
Pertemuan pertama itu berlangsung singkat, namun ia meninggalkan riak yang mengganggu. Sore itu, kami bertiga duduk melingkari meja kayu kecil. Aprilia bicara tentang buku sastra terjemahan yang sampulnya mengelupas, tentang aroma cetakan kertas tua, dan bagaimana ia benci rasa minuman yang terlalu manis. Setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak terdengar seperti basa-basi; ia mengucapkannya dengan intensitas yang utuh.
Hari-hari berikutnya, Aprilia mulai sering hadir di tepian hidupku. Kadang lewat pesan singkat di jam-jam tak terduga—menanyakan judul lagu asing yang samar-samar terdengar di radio kafe, atau sekadar foto konyol kucing jalanan yang tertidur di atas kap mobil. Ada ketidakberjarakan yang ia tawarkan, sebuah keterbukaan yang membuatku kagum sekaligus terancam.