Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #7

Pintu yang Terkunci Dari Dalam

Perubahan itu tidak terjadi dalam satu ledakan besar. Ia merayap halus seperti jamur di dinding lembap—tak bersuara, tetapi pelan-pelan merusak fondasi.

Seminggu setelah hari-hari hangat yang kami lewati bersama, benteng pertahananku yang sempat melunak kembali mengeras secara otomatis. Setiap kali Aprilia mencoba melangkah satu senti lebih dekat, ada sirine bahaya di kepalaku yang menjerit nyaring. Aku mulai menarik diri lewat hal-hal kecil yang kekanak-kanakan: membalas pesannya dengan jeda berjam-jam, memilih jawaban-jawaban aman yang formal, atau sengaja mematikan ponsel dengan alasan "fokus kerja".

Aku tahu aku sedang menyakitinya, tetapi ketakutan untuk terlihat rentan jauh lebih menguasai diriku.

Suatu sore, sebelum kami naik ke balkon kedai, kami sempat berjalan menyusuri trotoar menuju tempat parkir. Aprilia mencoba menggandeng lenganku—sebuah gestur alami dari seseorang yang merasa hubungan kami sudah cukup intim. Namun, tubuhku bereaksi kaku. Bahuku menegang, dan secara tak sengaja langkahku melambat hingga genggamannya terlepas begitu saja.

Aprilia menatap tangannya yang mengambang di udara, lalu menatapku. Ada kilat kecewa yang ditahannya rapat-rapat.

"Kamu kenapa, Ru?" tanyanya pelan, mencoba tersenyum meski senyum itu terasa dipaksakan. "Dua hari ini kamu kayak jauh banget. Ada masalah di kantor?"

"Nggak ada," jawabku cepat, terlalu cepat. "Cuma agak capek aja. Pekerjaan lagi menumpuk."

"Kamu bisa cerita, lho. Kamu nggak harus menanggung semuanya sendiri."

"Aku aman, Pri. Beneran. Nggak ada yang perlu diceritakan."

Pola jawaban itu—latihan bertahun-tahun dari rumahku—meluncur mulus tanpa cacat. Aku menawarkan dinding beton bertuliskan 'Aku Baik-baik Saja', tempat Aprilia dipaksa membenturkan kepalanya berulang kali.

Lihat selengkapnya