Aku bingung …takut kalau emosiku tidak valid.
Takut kalau apa yang kurasakan terlalu berlebihan untuk dunia yang sudah lelah mendengar keluhan.
Takut kalau, setelah aku bicara mereka akan pergi. Takut tidak ada yang mau tinggal.
Angin menyentuh dedaunan di atas kami. Bunyi gesekannya halus, nyaris seperti bisik. Kursi besi panjang yang kami duduki tampak berat, cat hitamnya mulai pudar di beberapa bagian, menyisakan guratan karat tipis di tepi sandaran. Permukaan dudukannya dingin, sedikit kasar, dan berderit pelan ketika tubuh mereka bergeser. Pohon pule di atasnya menjuntai lebar, daunnya bergoyang perlahan tertiup angin sore, menebarkan bayangan bercak-bercak di wajah kami.
Di sekitar kami, taman tetap hidup. Anak-anak berlari di kejauhan, suara tawa bercampur dengan bunyi sepeda yang melintas di jalur setapak. Lampu taman mulai menyala satu per satu, menambahkan cahaya kekuningan yang jatuh di permukaan kursi besi. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi samar bunga yang tumbuh di tepi jalan setapak.
Namun di kursi besi panjang ini, dunia seakan menyempit. Kursi besi menjadi saksi, dan percakapan kami menjadi pusat gravitasi yang menahan waktu sejenak.
Elara menatap ke depan, tidak ke arahku. Ia memberi ruang—dan anehnya, ruang itu justru membuat dadaku sesak.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kataku akhirnya. Suaraku serak, seperti berarti sesuatu yang sudah lama tidak digunakan.
“Mulai dari yang paling kecil,” jawabnya. “Yang paling jujur.”
Aku menghela napas. Lama. Terlalu lama.
“Aku takut,” kataku.
Elara menoleh. Tidak terkejut. Tidak menghakimi.
“Takut apa? Semua orang takut pada awalnya.”
“Takut kalau aku bicara, aku kehilangan kendali. Takut jadi orang yang menyusahkan. Takut… nggak cukup dewasa.”
Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak berusaha menenangkanku, hanya mengakui keberadaanku.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “dewasa itu bukan soal bisa menahan semuanya. Kadang justru soal tahu kapan harus bilang, ‘aku nggak sanggup.’ It’s normal.”
Ia menunduk sebentar, seolah mengingat sesuatu yang belum selesai dalam dirinya. “Aku sendiri masih sering gagal melakukannya.”
Aku menunduk. Kalimat itu terasa sederhana, tapi seperti batu pipih yang dilempar ke permukaan air tenang—batunya melompat-lompat, riakannya menjalar jauh ke samping.
“Aku belajar dari rumah,” kataku. “Kalau ada masalah, diam. Kalau bicara, ribut. Kalau ribut, semuanya jadi lebih buruk. Masalah tidak selesai dengan pertengkaran justru akan membuatnya membesar. Itu yang aku tahu. Atau setidaknya sesuatu yang kuyakini.”
Elara mengangguk. “Dan sekarang kamu dewasa, tapi masih pakai peta yang sama. Kamu sendirian di luar sana bukan lagi bersama orang tuamu. Itu faktanya.”
Kami duduk tanpa bicara beberapa saat. Kursi besi panjang di bawah pohon pule terasa dingin menempel di paha, cat hitamnya sudah mulai terkelupas di beberapa sudut. Tapi diam kali ini tidak seperti sebelumnya. Tidak menekan. Tidak mengancam. Diam yang membiarkan napas kembali ke tempatnya.
Angin semilir menghantam wajah kami berkali-kali, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang bergesekan di atas kepala. Bayangan pohon pule jatuh bercak-bercak di wajah Elara, membuat ekspresinya sesekali tampak samar, sesekali jelas.