POV Aprilia
Ada jenis keheningan yang tidak membawa tenang, melainkan menyumbat paru-paru. Keheningan itulah yang selalu dibawa Aruna ke mana pun ia melangkah.
Aku duduk di sudut tempat tidurku, menatap layar ponsel yang perlahan meredup lalu padam sepenuhnya. Pesan singkatku tiga jam lalu—hanya sebuah pertanyaan sederhana: “Sudah makan malam, Ru?”—masih menggantung dengan dua centang abu-abu yang dingin. Tidak ada balasan. Tidak ada penjelasan. Hanya jeda panjang yang dipelihara dengan ketelitian seorang arsitek.
Aku menghela napas panjang, melempar ponsel ke atas kasur, lalu menyandarkan kepala pada dinding kamar. Udara malam merayap masuk lewat celah ventilasi, membawa aroma hujan yang belum sepenuhnya reda dan bau minyak kayu manis dari lilin aromaterapi yang kubakar di sudut meja.
Dulu, saat pertama kali mengenal Aruna di kafe tempat Elara biasa menghabiskan akhir pekan, aku mengira diamnya adalah bentuk ketenangan yang matang. Di mata orang asing, Aruna tampak seperti pria yang telah selesai dengan dirinya sendiri: kemeja rapi, tutur kata yang tertata, dan ketenangan ajaib yang tak mudah digoyang oleh kebisingan kota. Ada pesona yang memikat dari cara pria itu mendengarkan orang lain tanpa pernah menyela.
Namun, mencintai Aruna ternyata mirip dengan berdiri di depan pameran museum, menatap sebuah patung porselen indah di balik etalase kaca tebal. Aku bisa melihat garis wajahnya, aku bisa memperhatikan setiap gerak-gerik tubuhnya, tetapi setiap kali aku mengulurkan tangan untuk menyentuh perasaannya, jariku hanya menghantam permukaan kaca yang dingin dan licin.
Kaca itu tebal, kedap suara, dan terkunci rapat dari dalam.
"Kamu terlalu sabar, Pri," kata Siska, teman satu kosku, suatu malam ketika melihatku menatap layar ponsel selama setengah jam hanya demi menunggu balasan satu kata dari Aruna. Siska saat itu sedang mencatok rambutnya, membuang asap tipis ke udara. "Pria yang membiarkanmu menebak-nebak isinya itu bukan pria misterius. Dia cuma tidak mau repot-repot membagikan dunianya padamu."
Aku hanya tersenyum tipis malam itu, membela Aruna di dalam hati. Aku memberi alasan bahwa Aruna hanya butuh waktu. Bahwa Aruna dibesarkan dalam lingkungan yang tidak membiasakan percakapan emosional. Aku menghibur diriku dengan meyakini bahwa aku bisa menjadi orang yang memegang kunci untuk membuka selot pintunya.