Aku lama percaya bahwa orang tua adalah titik awal dari segalanya.
Sumber luka.
Sumber diam.
Sumber norma-norma yang tidak pernah dijelaskan tapi harus ditaati.
Butuh waktu bertahun-tahun sebelum aku berani membalik arah pandang—melihat mereka bukan sebagai tembok, melainkan sebagai lorong panjang yang juga pernah gelap, lembap, dan tak diberi lampu. Di lorong itu, aku mulai melihat bayangan anak-anak mereka, berjalan perlahan, tersandung, dan takut pada dunia yang tidak menunggu kesiapan.
Ayah, Masa Muda
Di bengkel kecil dekat terminal kota, ayah belajar menjadi lelaki sebelum sempat menjadi remaja. Bau oli dan besi panas menempel di kulitnya seperti identitas, telah merampas masa remajanya. Tangannya yang masih belia sudah akrab dengan kunci inggris dan palu; jari-jarinya kapalan sebelum sempat menggenggam mimpi. Kuku-kuku di jari-jarinya menghitam, entah karena kotor atau bekas oli yang melekat lama.
Sore hari, ketika anak-anak lain seusianya berteriak mengejar bola di lapangan tanah, ayah mengejar waktu. Daftar pesanan digulung di saku celananya. Ia duduk di warung kopi bersama kawan-kawannya, tapi tubuhnya saja yang hadir. Tawa mereka meletup seperti petasan kecil; ayah menatap cangkirnya yang tinggal ampas. Tawa adalah kemewahan. Tidak untuknya. Selalu terasa berbahaya.
Ia tumbuh dari rumah yang miskin kata-kata. Kakekku jarang berbicara, kecuali untuk memberi perintah. Cinta tidak pernah disebutkan; ia disamarkan sebagai nasi di meja dan uang sekolah yang dibayar meski tidak selalu tepat waktu. Jika ayah kecil pernah menangis, mungkin tangisnya dipelankan oleh angin, bukan oleh pelukan.
Maka ketika ia dewasa, ia percaya hidup hanya bisa ditaklukkan dengan disiplin dan kerja tanpa henti. Dunia baginya adalah mesin: jika kau lengah, kau tergilas. Jika kau berhenti, kau tertinggal.
Ayah belajar mencintai seperti ia memperbaiki mesin—dengan keseriusan, dengan fokus, tanpa banyak kata. Ia adalah pohon keras di tengah badai: tegak, diam, tapi tak bisa bergerak untuk memeluk siapa pun.
Ibu, Masa Muda
Ibu menemukan tempat persembunyian di antara rak-rak buku perpustakaan sekolah. Bau kertas dan lem basah menempel di jari, tapi itu lebih aman daripada aroma rumah yang selalu tajam oleh bentakan. Di sana, suara keras di rumahnya tak bisa menembus dinding. Ia belajar bahwa dunia punya banyak kemungkinan selain bentakan.
Suatu sore, ia menulis puisi tentang hujan di kertas bekas laporan. Tentang atap bocor, tentang bau tanah basah, tentang seorang anak yang ingin menjadi awan agar bisa pergi ke mana saja tanpa dimarahi. Guru bahasa Indonesia membacanya keras-keras di kelas dan memuji keberaniannya. Guru menjadikannya contoh bagi anak yang lain. Ibu hanya tersenyum kecil.
Di rumah, puisi bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Yang penting adalah piring bersih, lantai disapu, suara tidak meninggi. Ia belajar bahwa keselamatan sering kali bersembunyi dalam diam. Kata-kata bisa memancing badai. Perempuan harus pintar mengurus rumah tangga, itulah tujuan hidup.
Maka ia tumbuh menjadi perempuan yang pandai menyembunyikan perasaan. Ia kuat dalam senyap. Ia mengerti bagaimana meredam api sebelum menjadi kebakaran. Jika ayah memercayai dunia sebagai mesin, ibu memercayainya sebagai cuaca: kadang cerah, kadang badai, dan kita hanya bisa bertahan. Ibu belajar mencintai dengan cara menenangkan. Dengan cara tidak menambah beban. Ia adalah air yang meredam bara, diam namun menenangkan.
Dua Cara Mencintai