Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #9

Bertengkar Tanpa Suara

Aku tidak pernah pandai berbicara saat marah. Tapi aku adalah arsitek yang mahir dalam membangun diam.

Bagi orang lain, diam mungkin sekadar ketiadaan suara. Bagiku, ia adalah bahasa pertama. Ia adalah benteng, selot pintu, dan cara paling cepat untuk memadamkan percakapan sebelum aku dipaksa mengakui bahwa ada bagian dalam diriku yang rapuh dan siap runtuh.

Dulu aku percaya diam adalah cara paling arif untuk merawat hubungan. Nyatanya, ia hanyalah cara pengecut untuk menunda kehancuran.

Malam itu, aku dan Aprilia duduk berhadapan di meja makan kosku. Lampu gantung berpendar putih pucat, melempar cahaya rata tanpa menyisakan sudut gelap untuk bersembunyi. Bayangan tubuh kami menempel kaku di atas permukaan meja kayu yang mengilap—terlihat nyaris bertaut, tetapi sejatinya dipisahkan oleh jarak yang mahaluas.

Pendingin udara mendesir halus, terukur, dan dingin. Di luar jendela kaca, kota merambat dalam remang. Cangkir kopi di depan Aprilia sudah lama mendingin, meninggalkan lingkaran hitam samar di atas meja. Bau pahit kopi bercampur dengan aroma pembersih lantai dan keheningan malam yang kian pekat.

Kami duduk tegak, napas dijaga, bahu menegang—seperti dua diplomat yang berpura-pura bersikap dewasa di tengah negosiasi yang menemui jalan buntu.

Aprilia menatapku lama. Matanya jernih, namun menyimpan kilat ketegangan yang tertahan rapat.

“Kamu kenapa, Ru?” tanyanya akhirnya. Suaranya tipis, hampir menyatu dengan desir air conditioner.

Aku mengangkat bahu pelan. Sebuah refleks pertahanan otomatis. “Nggak kenapa-kenapa.”

Aprilia menghela napas panjang. Bukan embusan amarah, melainkan hela napas lelah dari seseorang yang sudah berulang kali menabrak dinding yang sama.

“Kamu selalu jawab begitu,” bisiknya, suaranya mengandung retakan yang nyata. “Padahal jelas-jelas ada yang salah. Aku bisa merasakannya, Aruna. Jangan perlakukan aku seperti orang asing.”

Aku memilih menunduk, mengamati serat-serat kayu meja makan seolah di sana tertulis jawaban ajaib untuk meloloskan diri. Aku mengunci mulut rapat-rapat.

Aprilia bergeser di kursinya. Ia melipat kedua tangannya di dada—sebuah posisi rapat untuk melindungi dirinya sendiri.

“Kamu tahu rasanya bicara sama tembok, Ru?” cecarnya pelan, tapi setiap katanya meluncur tajam seperti sembilu. “Kamu nggak teriak, kamu nggak maki-maki aku. Tapi kamu mengunci diri dan membiarkan aku berteriak sendirian di luar. Itu jauh lebih menyakitkan daripada kamu marah meledak-ledak.”

Aku mengepalkan tangan di bawah meja hingga buku-buku jariku memutih. Dadaku sesak oleh tumpukan kata yang saling berbenturan di tenggorokan. Aku ingin meraih tangannya, ingin bilang bahwa aku hanya takut merusak segalanya jika aku bersuara. Namun, doktrin tua dari meja makan rumah masa kecilku mendadak menggema nyaring: Jika kamu bicara, situasi akan memburuk. Jika kamu diam, tidak akan ada api yang menyambar.

“Aku capek, Aruna,” ucap Aprilia lagi. Jemarinya yang bergetar tipis meremas ujung jaketnya. “Aku capek menebak-nebak isi kepalamu. Aku ini pasanganmu, bukan cenayang yang harus selalu membaca pikiranmu.”

Lihat selengkapnya