Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #9

Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Pulang

Kereta malam melaju kencang seperti ingatan yang dipaksa segera kembali. Rel bergetar di bawah kaki-kaki baja, bunyinya ritmis—seperti detak yang tak sabar. Di luar jendela, hujan yang tertinggal di kaca memantulkan cahaya lampu jalan, pecah menjadi serpihan cahaya yang berlari bersama kereta. Bau besi dan hujan lama menempel di udara, seolah perjalanan ini bukan sekadar menuju kota, melainkan menuju masa lalu yang enggan selesai. Di dalam gerbong yang gelap, suasana terasa senyap karena nyaris seluruh penumpang terlelap. Mungkin hanya aku yang masih terjaga.

Aku duduk di dekat jendela, memandangi bayangan sendiri yang samar di kaca. Wajahku tampak asing. Lebih dewasa, mungkin. Atau hanya lebih lelah. Gurat penuaan kulit mulai terlihat jelas di kantung mata. Kereta ini telah melaju setidaknya enam jam perjalanan dan berhenti di banyak stasiun. Tinggal beberapa persinggahan stasiun lagi. Kota yang kutinggalkan bertahun-tahun lalu perlahan mendekat, bukan sebagai rumah, tapi sebagai pertanyaan yang belum selesai.

Di kursi seberang, seorang anak kecil tertidur di bahu ibunya. Tangan kecil itu menggenggam ujung baju sang ibu erat-erat, seolah takut dunia akan mencurinya saat ia terlelap. Anak itu enggan melepaskan walau sekejap bahkan dalam mimpinya. Anak itu jelas bergantung pada ibunya. Aku menelan ludah. Aku tak ingat pernah menggenggam seerat itu. Pernahkah? Atau sejak awal aku belajar melepaskan sebelum sempat menggenggam? Ada rasa getir yang menyelinap: mungkin aku tumbuh dengan tangan yang selalu kosong, tanpa kesempatan merasakan dunia seaman genggaman kecil itu.

Tak sampai satu jam kemudian, stasiun kecil menyambutku dengan bau karat dan hujan lama. Papan nama kota masih miring seperti dulu. Catnya memudar. Seperti kenangan yang terlalu sering disentuh. Kenangan yang terlalu sering dijenguk. Lampu stasiun redup, menyorot wajah-wajah lelah yang turun satu per satu. Di depan pintu keluar tampak beberapa orang menunggu. Aku sendiri memilih ojek daring untuk perjalananku selanjutnya menuju rumah.

Rumah kecilku mulai tampak dari kejauhan. Sampai juga akhirnya. Pagar besinya berderit ketika kubuka—suara yang dulu menandakan ayah pulang kerja. Hanya kali ini suara deritnya lebih keras. Mungkin saja tetangga sekitar ikut mendengar deritnya. Kini suara derit itu terdengar seperti keluhan tua yang tidak lagi ditanggapi, seperti suara gerbang besi yang telah lama tak dibuka.

Ibu membuka pintu sebelum aku mengetuk untuk kedua kalinya.

“Kamu kurusan,” katanya, seperti kalimat yang sudah disiapkan sejak lama. Ekspresinya masih tetap sama seperti biasa. Datar saja.

Ayah muncul dari ruang tengah. “Kereta tepat waktu? Istirahatlah dulu.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada jeda yang cukup panjang untuk menyebut rindu.

Hanya laporan kondisi.

Aku masuk. Bau rumah itu masih sama—campuran kayu lama, minyak kayu putih, dan sesuatu yang tak bisa dinamai. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Meja makan masih di tempat yang sama. Kursi yang dulu kutempati kini terasa lebih kecil. Aku duduk di sana dan merasa seperti tamu yang terlalu tahu rahasia rumah ini.

Malam datang cepat. Ibu menyajikan makanan dengan gerakan yang efisien. Ayah bertanya tentang pekerjaan. Aku menjawab singkat. Kami bertiga seperti aktor yang hafal peran masing-masing.

“Di sana sibuk?” tanya ayah.

“Lumayan.”

“Kerja itu ya begitu. Harus tahan banting.”

“Iya…”

Aku mengangguk. Kata-kata itu terasa seperti baut yang dikencangkan kembali pada mesin lama. Mesin yang terus dipaksa berputar, meski suaranya sudah serak, meski tenaganya sudah hampir habis. Aku duduk di meja makan itu, merasa seperti bagian dari mesin yang tak pernah benar-benar diperbaiki, hanya terus dipaksa berjalan.

Lihat selengkapnya