Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #10

Kita Mencintai Seperti Cara Kita Dibesarkan

Angin sore menggesek dedaunan tua di atas kepala kami dengan bunyi desis yang halus, nyaris seperti bisikan yang enggan didengar. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, melempar pendar kuning kusam ke atas permukaan kursi besi dingin yang kami duduki. Di sekitar kami, taman kota perlahan berganti wajah—tawa anak-anak yang mengejar bola mulai surut, digantikan oleh gema derit roda sepeda dan aroma tanah basah yang menyengat sisa gerimis.

Namun di sudut kecil ini, dunia seakan menyempit.

Elara menatap lurus ke depan, tidak ke arahku. Ia sengaja melipat jarak, memberiku ruang—dan anehnya, keheningan yang ia tawarkan justru membuat dadaku sesak oleh kata-kata yang menuntut keluar.

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana, El,” kataku akhirnya. Suaraku serak, kaku, menyerupai engsel pintu tua yang jarang dibuka.

“Mulai dari yang paling kecil,” jawab Elara, suaranya datar namun presisi. “Mulai dari yang paling jujur.”

Aku menghela napas panjang. Udara dingin menyengat tenggorokanku.

“Aku takut,” bisikku.

Elara menoleh pelan. Matanya jernih, bebas dari kilat penghakiman. “Takut apa? Semua orang menyimpan takut di kepala, di dada mereka.”

“Takut kalau aku mulai bicara, aku kehilangan kendali. Takut dianggap cuma bikin susah. Takut kalau orang-orang tahu betapa berantakannya aku di dalam, mereka memilih pergi.”

Elara menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum lelah yang tidak berusaha menenangankanku, melainkan sekadar mengakui keberadaanku. Ia membetulkan posisi duduknya, menyilangkan kaki, lalu menyandarkan punggungnya pada besi kursi yang dingin.

“Dewasa itu bukan tentang lihai menahan semuanya sampai dadamu sesak, Aruna,” sela Elara pelan. “Kadang dewasa itu cuma soal keberanian mengakui bahwa kamu nggak sanggup. It’s normal.”

Ia menunduk sebentar, memainkan gantungan kunci rumah di jarinya—sebuah gestur kecil yang memperlihatkan gurat keletihan di sudut matanya. Ada batas tegas yang selalu dipelihara Elara; ia ada di sana untuk mendengarkan, tetapi ia bukan jaminan keselamatan bagi siapa pun.

Aku menunduk menatap sepatu ketsku yang kusam. “Peta itu yang kukenal dari rumah,” kataku lirih. “Di meja makan kami, kalau ada masalah, pilihannya cuma diam. Bicara sama saja membuka pintu buat pertengkaran, dan pertengkaran cuma bikin segalanya berantakan. Itu hal yang tertanam di kepalaku.”

“Dan sekarang kamu sudah dewasa, tapi kamu masih pakai peta yang sama untuk menyusuri jalan yang berbeda,” potong Elara tanpa ragu. “Kamu bukan lagi anak kecil di meja makan itu, Ru. Kamu sendirian di luar sana. Itu faktanya.”

Kalimat itu meluncur tanpa balutan belas kasihan yang berlebihan, tetapi tepat mendarat di pusat kesadaranku.

Hening kembali merayap di antara kami. Di kejauhan, seorang ibu memanggil anaknya dengan suara yang melengking tinggi, menembus desir angin malam yang kian dingin. Aku menggenggam jemariku sendiri, menekannya erat hingga buku-buku jariku memutih.

Elara membiarkan diam itu bertahan beberapa saat sebelum ia kembali bersuara.

“Kamu menyesal?” tanyanya pelan.

Lihat selengkapnya