Keesokan harinya, di ruang makan yang sama. Meja kayu persegi berdiri seperti saksi bisu. Televisi menyala dengan volume minimalis, sekadar mengisi ruang tanpa benar-benar berbicara. Jam dinding berdetak seperti metronom yang tak pernah salah tempo—detaknya seakan menegaskan bahwa waktu terus berjalan, meski percakapan di rumah ini selalu tertunda.
Aku berdiri lebih lama dari biasanya. Ayah duduk di kursi rotan, membaca berita di ponselnya. Sesekali ia melirik ke arahku, lalu kembali tenggelam dalam layar. Ibu melipat baju yang selesai dijemur kemarin, di sofa. Semua bergerak seperti rutinitas yang sudah dihafal, tapi terasa asing.
“Ayah,” kataku.
Ia mengangkat kepala sedikit. “Hm?”
“Ayah pernah nggak… ngerasa rumah ini terlalu sepi?”
Alisnya berkerut. “Sepi? Kan tiap hari ada suara TV.”
“Bukan itu maksudku.”
“Habis itu apa?”
Aku menarik napas. Tanganku dingin. Keringat sedikit mengalir di keningku. Perasaan takut menyergap, tapi aku tahu harus melawannya.
“Ayah tahu nggak aku sering takut bicara di rumah ini?”
Ibu berhenti melipat baju, mendongak ke arahku.
“Takut apa?” tanya ayah, suaranya masih datar.
“Takut salah. Takut bikin ribut.”
Ayah tertawa pendek. “Kamu ini. Dari kecil nggak pernah kita apa-apain. Kau anak yang patuh. Aku bersyukur.”
“Itu dia,” kataku lebih cepat dari rencana. “Nggak pernah apa-apa. Tapi juga nggak pernah ngomong.”
Hening. Televisi menampilkan iklan tanpa suara karena ibu telah mematikan volumenya. Lampunya berkedip pelan, seolah ikut menahan kata-kata.
“Maksud kamu?” nada ayah mulai berubah.
“Kita nggak pernah ngomong soal apa pun yang penting. Soal keluarga ini. Soal kita.”
“Kita makan bareng tiap hari. Ayah jarang keluar rumah.”
“Itu bukan ngomong.”
Ibu berdiri. “Aruna, jangan dibesar-besarkan.”
“Aku nggak membesar-besarkan, Bu. Aku cuma… pengin tahu kenapa setiap ada masalah, kita pura-pura nggak ada apa-apa. Pura-pura baik-baik saja.”
Ayah meletakkan ponselnya di meja. Bunyi kecil itu terdengar keras, seperti tanda bahwa percakapan ini tak bisa lagi dihindari.
“Kamu pulang cuma buat protes? Itu yang kau dapat dari merantau?” tanyanya. Alisnya mengernyit ke atas. Hal yang jarang terlihat sebelumnya.
“Aku pulang buat ngerti.”
“Mengerti apa lagi? Semua sudah lewat.”
“Justru itu! Semua selalu ‘sudah lewat’. Nggak pernah dibahas.” Nafasku mulai tersendat, aku mencoba menguasai tubuh agar tetap tenang.
Ayah berdiri sekarang. Tubuhnya masih tegap, tapi sorot matanya tajam. Tubuhnya sedikit bergetar, mungkin karena tidak pernah mengira akan bertemu momen seperti ini.
“Hidup itu dijalani, bukan diungkit-ungkit.”
“Aku nggak bisa terus jalani tanpa ngerti!”
Suara kami meninggi. Tidak terlalu keras, tapi untuk rumah ini, itu sudah seperti gempa kecil.
Ibu masuk di antara kami. “Sudah. Jangan ribut.” Tangannya meraih pundakku, mengelusnya pelan.
“Aku cuma mau tahu,” kataku, napasku cepat. “Ayah dulu pernah takut nggak? Pernah ngerasa nggak cukup? Atau bahkan pernah menangis?”