Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #11

Orang Tua Juga Pernah Menjadi Anak

Aku lama percaya bahwa orang tua adalah titik awal dari segalanya. Sumber dari segala benteng yang kubangun, sumber diam yang mencekik, dan muara dari aturan-aturan kaku yang tak pernah dijelaskan tapi wajib ditaati.

Malam itu, di kamar lamaku yang lembap, aku menarik sebuah kardus karton dari bawah ranjang kayu. Di sana, di antara tumpukan buku sekolah dan kertas ujian yang menguning, ada sebuah album foto bersampul kulit buatan yang sudah terkelupas sudut-sudutnya. Bau debu tua dan lem kering menyengat hidung saat aku membuka lembar pertamanya.

Di lembar awal, ada sebuah foto hitam-putih yang pinggirannya bergerigi. Seorang pemuda belia berdiri kaku di depan papan nama bengkel kecil. Kaos oblongnya lusuh, jemarinya bernoda hitam—bekas oli yang seolah telah meresap permanen ke bawah jaringan kulitnya. Pemuda itu tidak tersenyum. Matanya menatap kamera dengan tatapan waspada, seolah dunia adalah arena tempat ia bisa diserang kapan saja.

Itu Ayah. Ayah sebelum ia memiliki rumah ini, sebelum ia memiliki aku.

Di lembar berikutnya, ada foto seorang gadis remaja berpita kain. Ia duduk di bangku kayu perpustakaan, memangku tumpukan buku yang tebal. Wajahnya bersih, tetapi bahunya tertarik melengkung ke dalam—sebuah gestur tubuh yang khas dari seseorang yang terbiasa mengecilkan volume keberadaannya agar tak memancing perhatian.

Itu Ibu.

Melihat foto-foto kusam itu terasa seperti membalik arah pandang. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi melihat mereka sebagai dua tembok tebal yang mengurungku, melainkan sebagai lorong panjang yang dulu pernah gelap, lembap, dan tak berlampu. Di lorong itu, aku mulai melihat bayangan dua anak kecil yang berjalan gontai, tersandung, dan ketakutan pada dunia yang tak pernah memberi mereka jeda.

Dari cerita-cerita samar yang pernah terlontar di meja makan kakekku dulu, aku mencoba merangkai potongan masa muda Ayah. Di bengkel pinggiran terminal itu, Ayah dipaksa menjadi lelaki sebelum sempat menikmati rasanya menjadi anak muda. Tangannya yang masih belia sudah akrab dengan kunci inggris, palu, dan derak mesin tua.

Lihat selengkapnya