Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #11

Potongan Koran

Liburan ini tidak seindah yang diharapkan oleh siapapun. Pertengkaran itu mengguncang rumah, meninggalkan retakan yang tak terlihat namun terasa di setiap sudut. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya kini menggantung di udara, seperti debu yang belum sempat turun.

Rumah itu masih berdiri seperti biasa. Dindingnya tidak berubah warna. Kursi-kursi tetap pada tempatnya. Tapi udara di dalamnya berbeda. Ada sesuatu yang pecah tanpa suara dan kini serpihannya menyebar ke setiap sudut: di sela taplak meja, di antara siaran televisi yang dibiarkan menyala, di napas yang ditahan lebih lama dari seharusnya.

Pagi itu aku bangun lebih cepat dari biasanya. Ayah sudah di teras, batuknya terdengar pendek-pendek. Ibu di dapur, bunyi sendok beradu dengan gelas terdengar lebih pelan dari hari-hari lain—seolah bahkan benda-benda pun sepakat untuk tidak menambah suara. Aku bersiap kembali ke kota. Langkah-langkahku terasa berat, seolah setiap gerakan adalah perpisahan yang belum selesai. Di meja kamarku, ada potongan koran yang sejak kemarin kusimpan. Isinya sebuah cerpen yang menurutku menarik—sepotong kisah yang entah bagaimana mencerminkan kehidupanku semasa kecil. Aku menatapnya lama, lalu membawanya ke ruang makan.

Meja kayu persegi itu masih sama: dingin, kaku, menyimpan gema pertengkaran semalam. Aku meletakkan potongan koran di atasnya, hati-hati, seperti menaruh pesan rahasia. Aku sengaja melakukannya, berharap ayah akan membacanya. Cerpen itu bukan sekadar cerita; ia adalah jendela kecil yang mungkin bisa membuka percakapan yang selama ini terkunci.

Ayah masuk dari teras ketika aku sedang menarik resleting tas. Pandangan kami bertemu sekilas. Ada sisa keras di wajahnya, tapi juga sesuatu yang lain—lelah, mungkin.

“Berangkat sekarang?” tanyanya.

“Iya.”

“Kereta jam berapa?”

“Jam sembilan.”

Ia mengangguk. Tidak ada tambahan nasihat. Tidak ada permintaan maaf. Hanya jeda yang terasa lebih panjang dari kalimatnya.

Ibu keluar membawa segelas air. Ia menyodorkannya tanpa menatapku terlalu lama.

“Hati-hati,” katanya.

Satu kalimat itu terdengar seperti jembatan rapuh yang dibangun di atas sungai yang belum tenang.

Aku mengangguk. “Iya, Bu.”

Di ambang pintu, aku menoleh. Ayah berdiri dekat meja makan. Matanya sempat melirik ke arah potongan koran itu. Hanya sepersekian detik, tapi aku melihatnya.

Ia melihatnya.

Aku membayangkan ayah duduk di ruang makan, akhirnya membuka lipatan koran itu. Membaca cerpen yang kutinggalkan. Mungkin ia akan menemukan dirinya di antara baris-baris cerita itu. Mungkin ia akan merasa ditelanjangi oleh kata-kata orang lain. Atau mungkin ia akan menutup koran itu dengan cepat, menolak untuk mengakui bahwa ada kesamaan.

Atau mungkin—hanya mungkin—ia akan berhenti pada satu kalimat dan merasa sesuatu yang tak pernah sempat ia beri nama.

Aku tidak punya kendali atas itu.

Yang kutahu, potongan koran itu adalah cara terakhirku untuk berbicara tanpa suara. Sebuah percakapan yang kutitipkan pada huruf-huruf orang lain.

Di perjalanan menuju stasiun, rumah itu terus berjalan bersamaku. Pagar besinya, bau minyak kayu putih, suara televisi yang tak pernah benar-benar dimatikan. Dan kalimat semalam berputar lagi di kepalaku.

“Hidup itu dijalani, bukan diungkit-ungkit.”

“Aku cuma bilang aku terluka.”

Dua kalimat itu seperti dua rel kereta yang tak pernah bertemu, tapi selalu berjalan berdampingan. Mungkin kami memang dibesarkan dengan bahasa yang berbeda. Ayah dengan bahasa ketahanan. Aku dengan bahasa perasaan yang terlambat menemukan ruang.

Kereta datang dengan suara logam yang beradu. Aku duduk dekat jendela. Sawah bergerak mundur perlahan, seperti halaman-halaman lama yang ditutup satu per satu.

Di tas ranselku, tidak ada lagi potongan koran itu.

Yang tertinggal hanyalah harapan kecil—nyaris tak masuk akal—bahwa suatu pagi, ketika rumah itu kembali sunyi, ayah akan duduk sendirian di meja makan. Membuka lipatan kertas yang kutinggalkan. Membaca tanpa ada yang melihatnya.

Potongan koran itu bukan sindiran. Bukan tuntutan. Ia hanya jembatan kecil yang kubangun dari kertas tipis—rapuh, mudah sobek, tapi tetap sebuah upaya.

Aku sadar, itu masih caraku berbicara tanpa benar-benar berbicara.

Lihat selengkapnya