Selepas pertengkaran di rumah itu, ada sesuatu dalam diriku yang bergeser. Bukan sembuh. Bukan pula selesai. Hanya bergeser—seperti tulang yang lama salah posisi lalu dikembalikan perlahan ke tempatnya. Masih ngilu, butuh waktu pulih tapi lebih jujur.
Aku mengirim pesan pada Aprilia.
“Boleh ketemu? Aku nggak mau ngobrol setengah-setengah lagi.”
Ia membalas dua jam kemudian.
“Ketemu di tempat biasa. Jam 4.”
Kami bertemu di sebuah kafe kecil dekat taman kota. Sore itu hujan baru saja reda. Udara basah. Meja kayu di sudut ruangan terasa terlalu sempit untuk dua orang yang membawa banyak sejarah.
Aprilia duduk tegak. Wajahnya tak lagi selembut dulu. Ada jarak yang ia pelihara rapi.
“Apa kabar?” tanyanya.
“Aku lagi belajar nggak jawab ‘baik-baik saja’ kalau memang nggak,” kataku.
Ia mengangkat alis. “Jadi?”
“Aku nggak baik-baik saja waktu itu. Dan aku lari.”
“Dari aku?”
“Dari diriku sendiri. Tapi kamu kena dampaknya.”
Hening. Suara mesin kopi mendesis seperti napas yang ditahan.
“Aku capek nebak-nebak isi kepalamu,” katanya pelan. “Kamu diam kalau marah. Diam kalau takut. Diam kalau cemburu. Aku nggak bisa mencintai tembok. Diammu menyakitiku.”
Kalimat itu tidak menampar. Ia menembus.
“Aku kira kalau aku diam, aku nggak akan melukai siapa pun,” jawabku. “Ternyata diam juga bentuk kekerasan.”
Aprilia tersenyum tipis. “Kamu baru sadar?”
“Baru berani.”
Ia menatapku lama. “Kamu pulang ke rumah, ya?”
Aku mengangguk.
“Dan kamu ribut?”
“Untuk pertama kalinya.”
“Apa rasanya?”
“Seperti buka jendela lama. Udara masuk. Debu juga.”
Aprilia terdiam. Jemarinya memainkan gelas. “Aku nggak butuh kamu sempurna,” katanya. “Aku cuma butuh kamu hadir. Kalau kamu takut, bilang takut. Kalau marah, bilang marah. Jangan menghilang.”
“Aku takut kamu pergi kalau lihat aku yang sebenarnya.”
“Aku pergi justru karena kamu nggak pernah benar-benar ada.”
Kami saling menatap. Untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk.
“Aku mau coba lagi,” kataku. “Tapi kali ini tanpa pura-pura kuat.”
Aprilia menghela napas panjang. “Aku juga nggak mau terus keras. Tapi kalau kita coba lagi, kamu nggak boleh menjadikan aku tempat pelarian dari luka orang tuamu.”
“Aku nggak mau lagi menjadikan siapa pun obat.”
“Bagus,” katanya. “Karena aku bukan obat. Aku orang meski mungkin sama-sama pahitnya.” Ia sedikit tertawa, barisan gigi mungil dan rapi nampak di tengah tawanya dan itu membuatku terpesona. Tak butuh waktu lama kami berjanji untuk mencoba memperbaiki hubungan.
Aku mencoba tertawa meski mungkin baginya terlihat kaku. Hanya belum terbiasa saja.
“Baiklah kalau begitu…. Sudah larut,” Aprilia menengok jam tangannya dan itu mengakhiri pertemuan kami.
Namun memperbaiki bukan berarti tanpa retak.
Seminggu kemudian, aku terlambat membalas pesannya. Bukan karena sibuk. Karena takut. Ia mengirim pesan pendek:
“Kamu menghilang lagi.”
Kami bertemu malam itu. Wajahnya lebih tegas.
“Kamu bilang mau jujur,” katanya malam itu. “Tapi kamu kembali sunyi.”
Kami duduk berhadapan, tapi rasanya seperti ada jurang selebar sungai di antara kami.
“Aku cuma butuh waktu mikir,” kataku.
“Kamu selalu butuh waktu mikir. Aku butuh kamu ngomong.”
“Aku nggak bisa langsung.”