Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #12

Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Pulang

Kereta malam melaju kencang, membelah kegelapan seperti ingatan yang dipaksa dipanggil kembali. Rel bergetar ritmis di bawah kaki baja. Di luar jendela kaca yang dingin, sisa rintik hujan memantulkan cahaya pendar lampu jalanan, pecah menjadi jejak-jejak air yang meluncur deras sebelum hilang diterpa angin.

Di dalam gerbong, sebagian besar lampu dimatikan. Penumpang di sekitarku terlelap dalam posisi canggung. Aku tetap terjaga, menatap bayangan wajahku sendiri yang kabur di kaca jendela—gurat lelah tertempel kaku di bawah mataku. Kota yang kutinggalkan bertahun-tahun lalu kini merambat mendekat, bukan sebagai muara dari rasa aman, melainkan sebagai tumpukan pertanyaan yang tak pernah berani kuucapkan nyaring-nyaring.

Di kursi seberang, seorang anak kecil tertidur di bahu ibunya. Tangan kecil itu menggenggam ujung baju sang ibu erat-erat, seolah takut dunia akan mencurinya saat ia terlelap. Anak itu enggan melepaskan walau sekejap bahkan dalam mimpinya. Anak itu jelas bergantung pada ibunya. Aku menelan ludah. Aku tak ingat pernah menggenggam seerat itu. Pernahkah? Atau sejak awal aku belajar melepaskan sebelum sempat menggenggam? Ada rasa getir yang menyelinap: mungkin aku tumbuh dengan tangan yang selalu kosong, tanpa kesempatan merasakan dunia seaman genggaman kecil itu.

Stasiun kecil itu menyambutku dengan bau karat, semen basah, dan keheningan malam yang menggantung. Papan nama kota masih berdiri miring di tempatnya, catnya mengelupas seperti kenangan yang terlalu sering diasingkan.

Satu jam kemudian, aku berdiri di depan gerbang rumah masa kecilku. Pagar besi tua itu berderit bising saat kudorong—bunyi nyaring yang dulu selalu menandakan Ayah pulang kerja. Malam ini, bunyi berdecit itu terdengar seperti rintihan engsel yang sudah lama dilupakan.

Pintu kayu depan terdorong terbuka bahkan sebelum aku sempat mengetuk untuk kedua kalinya. Ibu berdiri di sana.

“Kamu kurusan,” katanya datar, menyodorkan kalimat yang seolah sudah disiapkan di tenggorokannya sejak beberapa hari lalu.

Ayah muncul di belakangnya, berdiri kaku di ruang tengah. “Kereta tepat waktu? Istirahatlah dulu.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada jeda yang cukup longgar untuk mengizinkan rasa rindu melintas. Hanya pemeriksaan berkala atas fisik dan logistik.

Aku melangkah masuk. Aroma rumah ini tak pernah berubah—campuran minyak kayu putih, kayu tua yang lembap, dan sesuatu yang tak bisa kudefinisikan. Televisi di ruang keluarga menyiarkan Berita Dunia dengan volume rendah, memancarkan cahaya kebiruan yang memantul kusam di ubin. Meja makan kayu persegi masih bertengger kaku di tempat yang sama.

Ibu bergerak cekatan di dapur, menyajikan lauk tanpa suara berlebih. Ayah menanyakan soal pekerjaanku di kota, dan aku memberikan jawaban-jawaban formal yang aman. Kami bertiga duduk melingkari meja, memerankan kembali skenario tua yang sudah dihafal luar kepala.

Aku memperhatikan tangan Ayah yang memegang sendok. Jari-jarinya tebal dan kapalan, kuku jarinya menyimpan garis hitam samar yang tak pernah benar-benar hilang. Ia tidak pernah belajar bahasa selain bekerja, dan aku—aku terlatih untuk tidak pernah belajar bahasa selain diam.

Selesai makan, Ibu menyusun piring-piring kotor dengan gerakan mekanis yang cepat. Aku berdiri, melangkah mendekatinya di samping wastafel yang mulai menyemburkan air.

Lihat selengkapnya