Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #13

Aku Marah, dan Itu Tidak Salah

Aku mulai belajar marah.

Beberapa kali, pertengkaran dengan Aprilia selalu berakhir damai. Tapi hari ini, sesuatu berbeda. Aku merasakan panas di dada, sesuatu yang sudah lama terpendam, yang kini keluar begitu saja tanpa peringatan. Kata-kata yang tadinya kutelan, kini meluncur tak terkendali.

POV Aprilia :

Aku menatapnya, dan ada yang menakutkan di matanya. Seperti aku mengenal pria ini, tapi juga tidak. Aruna—yang dulu diam, berhati-hati, penuh strategi dalam kata—sekarang tiba-tiba meledak. Marah, kecewa, sedih, semua bercampur. Suaranya tinggi, tapi bukan sekadar teriak; itu adalah bunyi orang yang menahan dirinya selama puluhan tahun, lalu akhirnya dilepas begitu saja.

Kami duduk di kafe, lampu kuning pucat menerangi wajahnya. Lagu Angel-nya Sarah McLachlan terdengar melantun memenuhi udara café. Aruna menggerakkan tangan, menunjuk sesuatu yang ia anggap salah, tapi aku tidak bisa memahami logikanya. Kata-katanya tajam, tapi terasa jujur.

“Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” Ia menuntut, suaranya sedikit bergetar. “Kenapa harus nunggu sampai semuanya pecah di kepala aku?”

Aku menelan ludah. “Aku… aku takut,” jawabku, tapi itu terdengar begitu lemah. Aruna tertawa, tapi itu bukan tawa hangat. Itu tawa pahit yang memotong udara di antara kami.

“Takut? Seperti aku dulu? Kamu dulu memintaku untuk tidak takut. Kini? Aku capek! Capek dibiarkan menebak-nebak! Aku merasakan apa yang kamu rasakan dulu!” Suaranya meninggi. Orang-orang di sekitar kami menoleh, tapi ia tak peduli. Tak pernah peduli.

Aku mulai merasa tersudut. Setiap kali ia marah, ia selalu mengingatkan bahwa itu yang aku mau.

Hari demi hari, pertemuan kami berubah menjadi siklus emosi: satu jam tawa, dua jam diam, kemudian ledakan kemarahan atau tangis yang tak terkendali. Aku mulai menyadari, Aruna tidak lagi diam misterius; ia kini terlalu terbuka, terlalu nyata, terlalu mendikteku dengan kemarahan dan kesedihan yang ekstrem.

Aku bingung. Aku dulu jengkel karena ia diam, tapi sekarang? Sekarang ia marah terlalu cepat, terlalu keras, terlalu sering. Aku merasa seperti menatap orang yang baru keluar dari penjara—bebas, tapi brutal dengan kebebasan itu. Setiap pertengkaran meninggalkan bekas: kata-kata yang menusuk, amarah yang mengguncang. Aku merasa bersyukur telah kehilangan Aruna lama, tapi juga takut pada Aruna baru.

Malam itu, setelah pertengkaran tentang sesuatu yang kecil—keterlambatannya membalas pesan—ia meledak. Ia menghantam meja dengan telapak tangannya, membuat gelas air bergetar. “Kamu memintaku tidak diam tapi bagaimana sekarang!?” teriaknya. Suara itu tidak seperti Aruna yang aku kenal. Itu Aruna yang baru, yang memaksa aku menatap wajahku sendiri: takut, lelah, dan tersudut.

Aku menunduk, menahan napas. “Aku nggak tahu lagi harus gimana,” bisikku.

Ia menatapku lama, mata membara. “Ya, itu yang selalu aku rasakan! Aku capek menunggu kamu paham! Capek menunggu kamu hadir! Capek menunggu kamu jadi manusia yang bisa aku percayai!”

Kalimat itu seperti air yang tumpah ke lantai: tak bisa diambil lagi. Aku merasa dirinya menenggelamkanku dalam kesedihan yang bukan milikku sepenuhnya, tapi aku harus merasakannya.

Pertemuan demi pertemuan menjadi seperti ini. Ketika ia marah, aku terdiam. Ketika ia menangis, aku menahan diri untuk tidak lari. Tapi semakin lama, aku mulai takut. Takut bahwa Aruna terlalu cepat berubah—dari pria yang belajar aku pahami menjadi orang yang hampir tidak bisa aku kenali. Dan aku mulai menyadari bahwa kami tidak bisa terus seperti ini.

Malam itu, setelah argumen yang terakhir, aku berdiri. Matanya memerah, dada bergetar, suara masih keras meski hampir hilang. Aku tahu sesuatu akan pecah. Bukan kata-kata, bukan pertengkaran kecil, tapi sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan menentukan apakah kami bisa bertahan atau tidak.

Lihat selengkapnya