Pagi itu, meja kayu persegi di ruang makan berdiri kaku di tempatnya, bertindak sebagai pembatas tak kasatmata di antara kami bertiga. Suara pendar berita dari televisi mengalun dengan volume paling rendah—sekadar cara rutin untuk menyumbat keheningan agar kami tak perlu bersuara. Jam dinding tua berdetak ritmis, memukul udara dingin dengan ketukan yang sama persis sejak puluhan tahun lalu.
Ibu duduk di sofa, tangannya bergerak cepat dan mekanis melipat tumpukan pakaian yang dijemur kemarin. Bau sabun cuci bercampur aroma kain basah yang mengering samar menguar di udara. Ayah bertengger di kursi rotannya, menunduk menatap layar ponsel, tetapi ibu jarinya berhenti bergerak.
Aku berdiri menyandarkan punggung ke ambang pintu dapur, mengamati mereka. Telapak tanganku dingin, dibalut lapisan keringat tipis. Ada rasa bergetar di tenggorokanku—sebuah dorongan liar yang menuntut untuk dilepaskan, setelah bertahun-tahun dikunci di dalam dada.
“Ayah,” kataku pelan.
Suaraku tidak keras, tetapi sanggup memotong dengung televisi. Ayah mengangkat kepalanya tipis, matanya melirik dari balik kacamata baca. “Hm?”
“Ayah pernah nggak… merasa rumah ini terlalu sepi?”
Dahi Ayah berkerut tipis. “Sepi? Saban hari TV menyala. Suara motor juga ada.”
“Bukan sepi yang itu, Yah.”
“Lalu sepi yang mana?” Ayah menatapku dengan aneh.
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara basah desa menusuk paru-paruku. “Ayah tahu nggak, aku tumbuh di rumah ini dengan rasa takut tiap kali mau bicara?”
Gerakan tangan Ibu yang sedang merapikan lipatan daster mendadak berhenti. Ia mendongak, matanya menatapku lurus.
“Takut apa?” tanya Ayah, suaranya tetap datar, mempertahankan rupa tenang yang selalu ia kenakan. “Emang ayah pernah menakutimu?”
“Takut salah. Takut bikin kekacauan.”
Ayah terkekeh pendek—sebuah tawa kering tanpa humor. “Kamu ini ada-ada saja. Dari kecil tidak pernah dikasari, tidak pernah kekurangan makan. Kamu anak penurut. Ayah bersyukur.”
“Justru itu, Yah,” sela cepat, sebelum keberanianku menguap. “Tidak pernah ada apa-apa. Tapi juga tidak pernah ada percakapan.”
Ibu langsung meraih remote dan mematikan televisi. Layar kaca menjadi hitam pekat seketika. Cahaya kebiruan hilang, menyisakan lampu gantung pudar yang menerangi meja.
“Maksudmu bagaimana, Aruna?” nada suara Ayah mulai berubah, mengeras tipis.
“Kita tidak pernah bicara soal hal-hal yang benar-benar penting,” kataku, melangkah satu senti mendekati meja. “Soal perasaan kita. Soal apa yang mengendap di dada kita masing-masing.”
“Kita makan di meja yang sama tiap hari. Ayah tidak pernah keluyuran,” potong Ayah.