Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #15

Cerpen dalam Potongan Koran

Liburan kali ini tidak meninggalkan bekas manis bagi siapa pun di rumah ini. Pertengkaran paling hebat yang pernah muncul dalam hidup keluarga ini, yang terjadi kemarin pagi meretakkan sisa-sisa kepura-puraan kami, meninggalkan hening jenis baru yang menggantung di udara—seperti debu halus yang enggan mengendap meski badai sudah reda.

Rumah masih berdiri di tapaknya, tidak bergeser barang sedikit pun. Dinding krem kusam tidak mendadak berubah warna menjadi lebih cerah, dan kursi-kursi rotan tetap bertengger kaku di tempatnya. Namun, ada sesuatu yang pecah tanpa suara. Serpihan emosi yang meledak kemarin kini tersebar tipis di sela-sela taplak meja, meja makan yang selalu tersedia makanan, dan pada setiap helaan napas yang ditahan lebih lama dari seharusnya.

Pagi itu, aku terbangun sebelum matahari benar-benar terbit. Dari balik pintu kamar, suara batuk pendek Ayah di teras depan terdengar samar, disusul denting pelan sendok Ibu yang beradu dengan gelas porselen di dapur. Bunyi-bunyi domestik itu terdengar jauh lebih pelan dari biasanya—seolah benda-benda mati di rumah ini pun sepakat untuk menahan diri agar tak memicu ledakan baru.

Hari ini aku harus kembali ke kota. Langkah kakiku terasa berat saat membereskan pakaian ke dalam ransel. Di atas meja belajar kecilku, tergeletak selembar potongan koran minggu lalu yang sengaja kubawa dari kota. Sebuah cerpen sederhana tentang anak laki-laki dan ayahnya yang terbiasa saling meniadakan.

Aku menatap potongan kertas kusam itu lama. Tatapanku tertambat pada satu paragraf di bagian tengah yang sengaja kuberi garis pensil tipis:

"Di sudut kertas gambar itu, ia melukis sosok abu-abu tanpa rupa. Ketika gurunya bertanya siapa gerangan bayangan samar tersebut, anak itu hanya menjawab pelan: 'Ini Ayah... tapi aku lupa bagaimana cara menggambar wajahnya.' Ayah tidak pernah benar-benar pergi dari rumah, ia hanya memilih menjadi bayangan yang tak tersentuh."

Aku melipat kertas itu menjadi dua, lalu membawanya ke ruang makan.

Meja kayu persegi itu masih berdiri di sana—dingin, kaku, menyimpan gema bentakan dan isak kemarin. Aku meletakkan potongan koran itu tepat di samping asbak tanah liat milik Ayah dan cangkir kopi hitamnya yang baru saja dituang Ibu. Tidak ada catatan tambahan. Tidak ada garis bawah tebal yang provokatif. Ini adalah cara terakhirku berbicara tanpa harus berteriak—sebuah percakapan yang kutitipkan pada huruf-huruf milik orang lain.

Ayah melangkah masuk dari teras tepat saat aku menarik resleting ranselku. Langkah kakinya terhenti sejenak di ambang pintu. Pandangan kami bertumbukan di udara. Wajah Ayah masih menyisa garis keras, tetapi di balik kacamata bacanya, ada keletihan yang amat dalam—rupa seorang pria tua yang perisai ketegarannya baru saja ditelanjangi habis-habisan.

“Berangkat sekarang?” tanyanya. Suaranya datar, tetapi kehilangan ketajaman perintahnya yang biasa.

“Iya, Yah. Kereta jam sembilan.”

Ayah mengangguk tipis. Tidak ada nasihat panjang tentang kerja keras. Tidak ada permintaan maaf. Hanya jeda panjang yang menggantung kaku di antara kami berdua.

Lihat selengkapnya