Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #16

Hubungan yang Lebih Jujur

Selepas pertengkaran di rumah masa kecilku hari itu, ada sesuatu di dalam dadaku yang bergeser. Bukan sembuh seketika, bukan pula sebuah keajaiban ajaib yang serta-merta menuntaskan segalanya. Hanya bergeser—seperti engsel besi tua yang lama tersangkut lalu dipaksa berputar kembali. Rasanya masih ngilu, memicu gelombang tak nyaman yang menggigit di balik rusuk, tetapi ada kejujuran mentah yang akhirnya menembus tebalnya kulit pertahananku.

Dua hari setelah aku kembali ke kota dengan dada yang bergelombang, aku memandangi layar ponselku lama di kegelapan kamar kos. Ibu jariku menggantung di atas papan ketik, menimbang setiap huruf sebelum akhirnya memberanikan diri mengirim pesan singkat pada Aprilia:

“Boleh kita ketemu? Aku nggak mau lagi ngobrol setengah-setengah.”

Layar itu kembali pekat. Waktu berjalan menyiksa. Baru dua jam kemudian balasan darinya datang. Singkat, dingin, tanpa emotikon atau kehangatan gembira yang biasa ia obral murah hati:

“Kedai kopi biasa. Jam empat sore.”

Sore itu hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah dan genangan air pucat di atas aspal. Udara dingin menyelinap lembut setiap kali celah pintu kaca kedai terbuka. Di dalam, aroma sangrai biji kopi bercampur dengan hangat vanila yang samar. Meja kayu persegi kecil di sudut ruangan—tempat kami biasa tertawa lepas—kini terasa terlalu sempit dan menghimpit untuk kami berdua yang sama-sama membawa tumpukan sejarah ketakutan.

Aprilia sudah duduk di sana lebih dulu. Tubuhnya tegak kaku menyandarkan punggung ke kursi. Wajahnya yang biasa jenaka dan kaya ekspresi kini dilapisi jarak dingin yang ia susun rapi. Jemari lentiknya melingkari cangkir porselen putih yang tak lagi mengepulkan uap—kopi hitamnya sudah mendingin dibiarkan waktu.

Aku menarik kursi kayu di depannya, menimbulkan decit pelan di atas ubin.

“Apa kabar, Ru?” tanyanya pelan. Pandangannya tertambat pada cangkir, belum sudi menatap mataku utuh.

Aku menelan gumpalan pahit di tenggorokan. “Aku lagi belajar buat nggak jawab ‘baik-baik aja’ kalau nyatanya nggak,” kataku jujur.

Aprilia mengangkat alisnya tipis, lalu pelan-pelan mengalihkan tatapannya padaku. Ada kilat ketegangan yang tertahan rapat di sudut matanya. “Jadi?”

“Aku nggak baik-baik saja waktu kita terakhir ketemu,” akuku lirih, membiarkan pertahananku runtuh selapis. “Dan aku memilih lari.”

“Lari dari aku?” tanyanya, nada suaranya mengendur tipis, menyimpan kerapuhan yang coba ia tutupi.

“Dari diriku sendiri,” bisikku. “Tapi aku sadar... kamu yang harus menanggung lukanya.”

Lihat selengkapnya