Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #17

Aku Belum Sembuh

Hari-hari berikutnya tidak lantas berubah menjadi cerita manis yang tanpa celat. Memperjuangkan sebuah hubungan usai pertempuran emosional terasa seperti berjalan menyusuri lorong remang dengan pijakan kaca yang retak. Retakan yang pernah ada tidak hilang begitu saja hanya karena kami telah mengucap janji untuk saling jujur.

Aku mulai belajar mengeja perasaanku. Ketika kelelahan kerja menumpuk atau saat bayangan bentakan Ayah kembali mengetuk ingatanku sewaktu hujan sore turun, aku memaksakan jemariku mengetik pesan singkat padanya: “Kepalaku agak penuh hari ini, Pri.” Atau sekadar: “Aku lagi bingung, boleh telepon sebentar?”

Aprilia menyambut perubahan itu dengan sabar. Namun, membuka diri setelah puluhan tahun membisu adalah proses yang gagap dan menyiksa. Setiap kali rasa takut akan penolakan itu mendadak meluap, refleks bertahanku kerap mengambil alih secara liar. Saat rasa rentan di depan Aprilia terasa sangat menghimpit dan menakutkan, lidahku mendadak kelu untuk bercerita padanya.

Anehnya, di titik-titik buntu itu, aku justru refleks lari mengadu pada Elara.

Sebab bersama Elara, tidak ada risiko pertaruhan perasaan yang besar. Elara adalah ruang aman yang netral—sebuah persinggahan tanpa tuntutan di mana aku bisa tumpah-ruah bercerita tentang keraguanku menjadi pasangan yang layak bagi Aprilia. Tanpa kusadari, aku sedang membagi diriku menjadi dua: kejujuran mentahku yang terkelam kutitipkan pada Elara, sementara versi diri yang mulai berbenah kusodorkan pada Aprilia. Aku membodohi diriku sendiri dengan menganggap ini adalah caraku "menjaga" Aprilia dari kotornya beban mentalku.

Namun, perempuan yang mencintaimu memiliki ketajaman intuisi yang tak bisa dibohongi.

Beberapa minggu kemudian, di sebuah sudut kafe yang berbeda saat malam mulai larut dan udara terasa menusuk kulit, ganjalan itu akhirnya meledak.

Aprilia meletakkan ponselnya ke atas meja kayu dengan ketukan yang sedikit lebih keras dari biasanya—bunyi tak pendek yang bergema mengancam.

“Aku merasa kamu jauh lebih terbuka kalau bicara sama Elara,” kata Aprilia tanpa basa-basi. Kalimat itu meluncur tenang dari bibirnya, tetapi di dalamnya tersimpan kilat cemburu dan rasa tidak aman yang teramat jernih.

Aku terpaku seketika, darah di dadaku berdesir cepat oleh arah pembicaraan yang tak kuduga ini. “Pri, Elara itu cuma—”

“Aku pacarmu, Aruna!” sela Aprilia cepat, menatap mataku lurus-lurus tanpa berkedip. “Kenapa orang lain yang lebih dulu tahu kapan dadamu sesak? Kenapa aku selalu jadi orang terakhir yang membaca isi kepalamu?”

“Ini bukan soal siapa yang lebih penting, Pri,” balasku canggung, berusaha menenangkan arus air yang mendadak keruh. “Elara cuma... dia netral. Sama dia, aku nggak membawa risiko apa-apa.”

Lihat selengkapnya