Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #19

Mengurai Serpihan Amarah

Gelas air yang tadi bergetar dihantam telapak tanganku kini benar-benar tenang. Permukaannya licin mendatar, memantulkan pendar pucat lampu kafe yang mulai dipadamkan satu per satu oleh pelayan.

Di depanku, kursi tempat Aprilia duduk beberapa menit lalu sudah menganga kosong. Meninggalkan cangkir porselennya nyaris kosong dan keheningan yang jauh lebih ganas daripada teriakan terkeras yang pernah kulontarkan.

Kopi hitam yang tak sempat ia selesaikan menyisakan aroma pahit yang mengendap di udara, beradu kaku dengan ubin dingin dan sisa embun di luar jendela. Ruangan kecil ini mendadak berubah menjadi panggung reruntuhan tanpa suara; piring-piring porselen dan cangkir keramik di etalase tampak seperti fosil bisu yang menonton kekalahanku. Bekas genggaman jemari Aprilia di tepi meja seolah masih meninggalkan jejak hangat yang menguap pelan, digantikan oleh hawa dingin yang perlahan mengepung dada. Aku telah menghancurkan tempat ini—bukan dengan membakar dindingnya, melainkan dengan memadamkan seluruh cahaya kepercayaan yang dengan sabar ia bawa ke hadapanku.

Aku duduk sendirian di meja itu selama hampir setengah jam. Tubuhku gemetar pelan—bukan karena dinginnya udara pendingin ruangan yang menusuk kulit, melainkan oleh rasa syok yang menjalar kaku di dalam aliran darah.

Napas yang kutarik terasa patah-patah, menyumbat di tenggorokan seperti pecahan kaca kusam. Di telapak tanganku, denyut panas bekas hantaman ke atas kayu meja masih menyengat perih, meninggalkan warna kemerahan yang perlahan memar kusam.

Aku baru saja berteriak.

Kalimat itu berulang-ulang menghantam dinding kepalaku dengan kekuatan sebuah martil berat. Aku—pria yang dilatih bertahun-tahun untuk tidak pernah membuat kegaduhan, anak penurut yang dipuji guru-guru karena tidak pernah membuat repot orang tua—baru saja memukul meja, membentak, dan meledakkan amarah secara brutal di depan umum.

Pelayan kafe melintas di samping mejaku, langkah kakinya melambat mendadak. Ia menatapku dengan sudut mata yang menyimpan rasa waspada, seolah aku adalah binatang buas yang baru saja melepaskan rantai pengikatnya dan bisa menyerang kapan saja.

Aku menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk merapikan dompet di atas meja demi menutupi rasa malu yang mendadak membakar pipi. Namun rasa malu itu seketika kalah oleh rasa takut yang jauh lebih pekat: aku takut pada diriku sendiri.

Lagu-lagu yang tadi diputar di pemutar musik kafe nyaris tak terdengar karena volumenya semakin pelan, digantikan oleh deru angin malam yang menyusup lewat pintu kaca yang terbuka. Aku berdiri dari kursi, melangkah keluar meninggalkan tempat itu.

Lihat selengkapnya