Tiga bulan setelah malam ketika Aprilia berjalan pergi membelakangi kemarahanku di kedai kopi itu, aku memutuskan untuk naik kereta malam menuju kampung halaman.
Aku pulang bukan karena rindu yang membuncah, bukan pula karena dendam yang tersisa. Rindu, bagiku, masih berupa kata yang kabur dan sulit dilukiskan. Aku pulang sederhana karena aku lelah terus-terusan berjarak dengan bayanganku sendiri.
Rumah masa kecilku berdiri di tapaknya dengan cara yang sama persis seperti saat kutinggalkan. Pagar besi berkarat yang berdecit nyaring saat didorong, pot-pot tanah liat dengan retakan halus di pinggirnya, dan pendar lampu teras berwarna kuning pucat. Tidak ada yang berubah dari bangunan ini. Akulah yang berubah—atau setidaknya, sedang tergagap mencoba berubah.
Langkah kakiku mengendap masuk lewat pintu samping. Ibu sedang berada di dapur. Wajan berdesis pelan di atas kompor gas, memercikkan aroma gurih minyak mentega dan bawang tumis. Tangannya bergerak cepat, cekatan, dan teratur—seperti mesin tua yang dipaksa bekerja tanpa pernah diberi hak untuk beristirahat.
Aku berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan detil yang bertahun-tahun selalu luput dari mataku: garis-garis halus yang memetakan punggung tangannya, kulit jari yang makin menipis, dan lingkaran gelap di bawah matanya yang menyerupai malam tanpa akhir. Beberapa kali, dengan gerakan canggung, ia mengusap pelipisnya memakai punggung lengan—entah menghalau uap masakan atau menyapu bulir keringat yang menyengat.
"Aku pulang, Bu," kataku pelan, memecah deris tumisan.
Ibu menoleh sebentar, matanya mengerjap kaget sebelum kembali fokus pada wajan. Ia mengangguk tipis. "Sudah sampai? Makan dulu. Lauk sudah siap di meja, tinggal Ibu buatkan sambal."
Pertanyaan itu sederhana, bahkan klise. Namun, di sinilah Ibu selalu menyembunyikan cintanya selama ini: di antara uap nasi hangat, tumpukan piring bersih, dan lauk-pauk yang jarang ia nikmati secara utuh untuk dirinya sendiri. Ia selalu memasak dalam porsi besar untuk kami, tetapi porsinya sendiri selalu yang paling sedikit dan diselesaikan paling akhir.
Aku tidak lagi membalasnya dengan gumaman dingin. Aku melangkah mendekati meja makan kayu persegi itu, lalu duduk mengamati hidangan yang tersaji. Tanpa diminta, aku meraih mangkuk keramik di samping wastafel, mengisinya dengan sayur bening yang baru diangkat Ibu, lalu menatanya pelan di tengah meja. Sebuah gestur kecil, tetapi bahu Ibu yang tegang mendadak mengendur satu sentimeter saat melihat tanganku bekerja.
Di ruang tengah, Ayah duduk di kursi rotan kebesarannya. Layar televisi menyiarkan berita malam dengan volume rendah. Ayah tidak benar-benar menonton. Tatapannya lurus menembus layar, tetapi tubuhnya tetap dipaksa tegak—seolah jika ia bersandar sedikit saja, dunia akan melihat betapa lelahnya pria tua itu. Di samping kursinya, sandal kulit kerjanya tergeletak rapi. Solnya yang menipis dan retakan tipis di bagian pinggirnya bicara banyak tentang ribuan kilometer yang ia tempuh tanpa pernah mengeluh.
"Ayah," sapaku sambil menarik kursi di seberangnya.
Ayah berdehem pendek, membetulkan letak kacamata bacanya. "Kapan sampai?"
"Tadi sore, Yah. Naik kereta yang jam satu."
Ayah mengangguk. Hanya itu. Namun malam ini, aku menolak menilai diamnya sebagai penolakan atau perisai dingin. Aku bertahan duduk di sana, membiarkan keheningan merayap di antara kami tanpa rasa panik.
Di dinding ruang tamu, cat krem tampak mengelupas tipis di sudut-sudut atas. Bingkai foto keluarga kami tergantung sedikit miring. Di foto itu, senyum kami bertiga tampak begitu rapi—terlalu rapi bila dibandingkan dengan kenyataan yang kami jalani.
Malam itu, bayangan pertengkaranku dengan Aprilia kembali berkelebat. Aku teringat bagaimana aku menuntut hangat, menuntut hadir, dan memintanya mendengarkan suaraku yang meledak-ledak. Aku selalu memimpikan bentuk cinta yang bising: yang diekspresikan lewat pelukan erat dan kalimat-kalimat eksplisit yang menenangkan.