Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #21

Menghentikan Siklus Warisan Luka

Malam itu, aku berdiri sendirian di kamar lamaku.

Bayanganku terpantul kusam pada cermin berbingkai kayu jati di dinding. Cermin tua itu menyimpan retakan tajam di sudut kiri atas—sebuah retakan bercabang mirip aliran sungai kering yang membelah dahi bayanganku menjadi dua. Ketika aku mengulurkan jari dan menyentuh garis retak itu, ada bunyi berderit tipis yang halus, sekecil gesekan gigi yang ditahan rapat.

Aku menatap mataku sendiri. Di sana, tidak ada lagi kemarahan berapi-api yang beberapa jam lalu kusemburkan ke hadapan Aprilia di kedai kopi, tidak pula tersisa kepasrahan dingin yang biasa kugunakan untuk melarikan diri. Yang tertinggal hanyalah rasa lelah yang amat telanjang.

Aku menunduk, mengamati sudut meja belajar kecil di bawah cermin. Kayunya terkelupas tipis di beberapa tempat, menyisakan serat-serat kasar yang menyengat ketika diusap. Bekas goresan itu sudah berada di sana sejak aku berusia dua belas tahun, lahir dari benturan ujung siku atau lemparan benda kaku yang tak pernah dicatat sejarahnya. Sama seperti kata-kata tajam yang belakangan meluncur bebas dari mulutku—ia merusak, meninggalkan bekas, dan tidak pernah benar-benar bisa ditarik kembali.

"Apakah ini semua murni salah mereka?" tanyaku lirih pada bayanganku di kaca.

Kalimat itu tidak terdengar sebagai pembelaan diri. Ia mengambang kaku di udara kamar yang berbau kain lembap dan kayu tua.

Selama bertahun-tahun, aku merasa menjadi korban yang paling terluka. Aku menyalahkan rumah yang dingin. Aku menyalahkan kebisuan Ayah yang tak pernah bertanya bagaimana hariku, dan kebiasaan Ibu yang mengunci rasa sakit di balik lipatan daster dan lauk pauk. Aku menjadikan luka masa kecilku sebagai benteng, dan menobatkan guncangan emosionalku sebagai perisai paling sah untuk menyakiti orang lain.

Lalu, ketika benteng itu runtuh, aku berubah menjadi bahaya jenis baru. Dulu aku terlalu diam, menelan segalanya sampai dadaku membusuk. Kini, aku meledak terlalu cepat, memuntahkan amarah dan kekecewaan secara brutal kepada Aprilia—seorang perempuan yang sebenarnya hanya minta diberi ruang untuk memahami. Aku menuntut Aprilia menampung seluruh sampah emosiku, persis seperti aku dulu menuntut Ayah dan Ibu menjadi figur hangat yang tak pernah mereka pelajari bentuknya.

Dua ekstrem yang sama-sama merusak. Dua cara melarikan diri yang sama-sama pengecut.

Aku menghela napas panjang. Udara malam yang menyusup lewat celah jendela terasa tajam di tenggorokan. Kenangan tentang ekspresi wajah Aprilia waktu itu kembali menghantam dadaku: matanya yang memerah, bahunya yang gemetar menahan takut, dan caranya melangkah mundur ketika suaraku meninggi. Ia tidak sedang melihat pria yang jujur; ia sedang melihat seorang tahanan lepas yang memukulkan rantai penjara ke sembarang arah.

"Saat kita merasa seluruh dunia bermasalah," bisikku kaku, "mungkin kitalah penyebab utamanya. Aku sendirilah masalahnya!"

Lihat selengkapnya