Elara dibesarkan di sebuah rumah yang tak pernah benar-benar mengenal sunyi, tetapi selalu berhasil membuat setiap penghuninya merasa hidup berjauhan. Suara ada di mana-mana—derit pintu, denting sendok, bunyi televisi yang tak pernah dimatikan sepenuhnya—namun tak satu pun mampu menjembatani jarak yang diam-diam tumbuh di antara orang-orang di dalamnya.
Ayahnya seorang pegawai kecamatan. Setiap petang ia pulang membawa aroma keringat yang melebur dengan bau kertas arsip yang telah lama kehilangan warna. Di balik meja kantornya yang temaram, ia adalah tempat bersandar bagi rekan-rekan kerja yang gemar melempar tanggung jawab. Kekesalan demi kekesalan dikunyahnya sendiri hingga larut malam, tetapi tak pernah sempat menjelma percakapan di rumah.
Ibunya adalah guru sekolah dasar. Di ruang kelas, suaranya sanggup menenangkan puluhan anak yang gaduh. Namun, begitu melepas sepatu di teras rumah, kata-kata seolah luruh dari bibirnya. Ia menjadi perempuan yang lebih sering menghela napas daripada menyusun kalimat.
Di meja makan keluarga mereka, percakapan selalu hadir seperti laporan administrasi yang harus segera ditandatangani: harga beras yang naik, nilai murid yang menurun, jadwal pembayaran listrik, atau kabar tetangga yang sekadar lewat. Tak ada yang keliru dari semua itu. Hanya saja, tak ada satu pun yang benar-benar menyentuh hati siapa pun. Kalimat-kalimat menggantung di udara, seperti perahu yang terus diombang-ambingkan ombak karena tak pernah menemukan dermaga tempatnya bersandar.
Suatu malam, ketika usianya baru delapan tahun, Elara terbangun oleh bunyi keramik pecah dari arah dapur.
Prak.
Pendek. Kering. Nyaris tanpa gema.
Bunyi itu terdengar seperti napas yang dipatahkan di tengah jalan.
Tidak ada bentakan. Tidak ada suara tinggi yang saling mengejar. Yang tersisa hanyalah gema piring retak yang beradu dengan lantai, lalu keheningan yang perlahan mengembang memenuhi seluruh rumah, lebih berat daripada suara apa pun.
Lewat celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Elara melihat ibunya berdiri membelakangi meja makan. Bahu perempuan itu bergetar nyaris tak terlihat.
Di hadapannya, ayah Elara berdiri kaku dengan kedua tangan menggantung di sisi tubuh, seperti seseorang yang ingin menyerah, tetapi tak pernah diajari bagaimana caranya.
Dada Elara berdegup begitu keras hingga ia takut bunyinya akan terdengar keluar kamar. Jantung kecilnya menghantam rusuk dengan irama yang membuat tenggorokannya sesak.
Yang paling menakutkan ternyata bukan kemarahan.
Yang paling menakutkan adalah ketika kemarahan telah kehilangan suaranya.