Rumah kami selalu punya aroma yang sama tiap pukul tujuh malam: tumisan bawang putih yang gurih, uap nasi setengah hangat, dan aroma minyak kayu putih yang menguap dari kamar Ayah.
Meja makan kayu persegi di tengah ruang belakang berdiri kaku, seperti dermaga tua yang tak pernah disinggahi kapal dengan benar. Di atasnya, semangkuk sayur bening oyong dan potongan ikan goreng tersaji tanpa asap. Lampu gantung menyinarkan pendar kuning pucat, melempar bayangan kepala kami bertiga ke ubin krem yang mulai kusam.
Ibu duduk paling dekat dengan wastafel. Jemarinya bergerak cekatan merapikan sendok dan garpu, menciptakan denting keramik pendek yang memutus hening. Ayah duduk di sudut seberang, menyendok nasi dengan gerakan teratur dan kaku. Matanya tertambat lurus pada piringnya sendiri, seolah di sana tertulis peta yang melarangnya menoleh ke mana-mana.
Selama bertahun-tahun, meja ini adalah panggung bagi latihan kebisuan paling disiplin. Kami mengunyah, menelan, dan menghabiskan piring masing-masing tanpa perlu membuang suara.
Namun malam ini, tenggorokanku terasa kering oleh rasa berat yang menuntut dilepaskan. Aku teringat bayangan piring pecah di dapur masa kecilku—suara retakan kaku yang dulu selalu dibalas dengan kepura-puraan bahwa tak ada apa pun yang terjadi. Aku tidak ingin lagi memelihara piring retak di balik lemari kaca.
Aku meletakkan sendokku. Bunyinya beradu pelan dengan piring porselen.
Ayah tak mendongak, tetapi gerakan tangannya mengambil potongan ikan mendadak berhenti sepersekian detik. Ibu menahan napasnya tipis, jemarinya membeku di tepi taplak meja.
"Ayah... Ibu...," suaraku meluncur pelan, memotong desir tipis angin malam dari jendela yang renggang. "Aku boleh tanya sesuatu?"
Ibu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang dilapisi lingkaran hitam lelah menatapku dengan tatapan waspada yang canggung. Ayah berdehem pendek, membetulkan posisi duduknya tanpa melepaskan pegangan pada gagang sendok.
"Tanya apa?" suara Ayah berat, serak oleh kebiasaan jarang dipakai bicara di meja makan.
"Hari ini... apa yang paling bikin Ayah lelah?"