Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia

Desto Prastowo
Chapter #25

Epilog : Pintu yang Membiarkan Cahaya Masuk

Kereta malam membelah kegelapan menuju kota dengan irama besi yang stabil dan menenangkan. Di balik kaca jendela yang dibasahi sisa gerimis, pendar lampu stasiun-stasiun kecil melintas cepat seperti kenangan yang meluncur mundur.

Aku menyandarkan kepala pada dinding gerbong yang dingin. Di dalam tas ransel kusam di pangkuanku, tidak ada lagi potongan cerpen koran atau tumpukan rasa bersalah yang dulu selalu menyeretku jatuh. Yang tersisa di dalam dadaku kini hanyalah sebuah ruang baru—ruang yang masih agak canggung dan berdebu, tetapi tak lagi terasa menyesakkan.

Percakapan di meja makan rumahku malam itu tidak mendadak mengubah Ayah menjadi pria yang pandai merengkuh, atau Ibu menjadi perempuan yang mengumbar kata-kata manis. Kami tetaplah tiga manusia yang dibesarkan dalam dingin.

Namun, ada satu hal yang bergeser secara permanen: kami telah berhenti menuntut rumah untuk menjadi tempat yang sempurna, dan kami telah belajar saling mengakui keletihan masing-masing.

Kota menyambutku esok harinya dengan deru kendaraan dan kerlap-kerlip lampu jalanan yang garang. Udara sore yang sejuk menyapu wajahku saat melangkah keluar dari peron stasiun bus.

Aku belum tahu bagaimana akhir dari percakapanku dengan Aprilia nanti sore di kedai kopi rel kereta. Aku tidak tahu apakah kata maafku yang jujur—tanpa pembelaan diri, tanpa menyalahkan masa kecilku—akan sanggup merajut kembali retakan di antara kami, atau apakah kami harus merelakan cerita itu selesai sebagai bentuk kedewasaan terbaik.

Ketakutan itu masih ada, bertengger tipis di sudut dadaku.

Namun, aku tidak lagi berniat lari atau bersembunyi di balik diam yang dingin.

Lihat selengkapnya