"Nara! Berani banget lo bikin malu Gue!" Bentak laki-laki bertubuh tinggi kurus sambil melempar foto-foto itu.
Aku tak mempedulikannya, aku lebih memilih terus berjalan ke halaman parkir kampus, lalu pulang. Dia terus mengejarku, tapi ... dia tak mendapatiku.
Akhirnya aku berhasil melarikan diri dari Si Tengil Raka yang menyebalkan itu. Meskipun malam-malam begini aku baru bisa pulang, setelah seharian bersembunyi di tempat kost Dian.
Raka, monster yang kutakuti saat ini, aku tidak akan pernah luluh padanya, laki-laki egois dan tak tahu malu, playboy kampungan!
"Lo yakin pulang sekarang? Udah malem loh, ini!" ujar Dian.
"Enggak sih, tapi gue pengin balik sekarang, gak tahu juga kenapa! Feeling aja."
"Ya udah gue anterin Lo, pake motor biar cepet!"
Dian perempuan, tapi aku tidak khawatir padanya meski harus mengantarku pulang di jam rawan begini.
Jurus burung gagak sangarnya pernah buat dua pencopet kehilangan gigi depannya. Tangkisan dan tendangannya cukup membuat mereka tunggang langgang.
Malam ini dinginnya kurang ajar sekali. Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda akan berhenti.
Jalanan kota yang basah, memantulkan cahaya lampu kendaraan seperti pecahan kaca yang berkilau di aspal hitam.
Aku menarik hoodie lebih rapat sebelum memasuki gang kecil menuju rumah.
Rumahku berada paling ujung. Rumah tua dua lantai dengan cat yang mulai mengelupas dan pagar besi yang selalu berderit setiap kali dibuka.
Namun malam itu ada sesuatu yang berbeda. Lampu ruang tamu masih menyala.
Jam di layar ponselku menunjukkan pukul 11.43 malam.
Mama biasanya sudah tidur sejak satu jam lalu.