Kita Pernah Menyebutnya Rumah

Tini Ubadipura
Chapter #2

Debt Colector

Sepertinya Keenan ada di atas, karena suara musik di kamarnya terdengar sampai ke bawah.

Aku berlalu tanpa sepatah kata, menaiki anak tangga dengan gontai. Mama dan papa masih sibuk saling menyalahkan.

“Papa mau jual rumah ini.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Keenan saat sarapan. Sendok di tanganku berhenti bergerak.

Mama yang sedang menuang teh langsung menoleh cepat. “Keenan!”

“Apa?” Keenan bersandar santai di kursinya. “Aku denger sendiri semalam.”

Papa yang duduk di ujung meja makan perlahan mengangkat kepala. Tatapannya dingin.

“Jangan bicara kalau nggak tahu apa-apa!”

“Oh, jadi aku bohong?”

“Nggak ada yang bilang begitu.”

“Tapi memang mau dijual, kan?”

Suasana mendadak beku. Aku memaksa kerongkonganku menelan nasi goreng baso yang menjadi tak berasa, mendengar perdebatan ayah dan anak laki-lakinya yang tak biasa.

Sarapan pagi ini terasa hampa, hanya suara kipas angin tua di sudut ruang makan yang terdengar berdecit pelan.

Aku menatap satu per satu wajah mereka. Mama tampak pucat, papa menggenggam cangkir terlalu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Dan, adik laki-lakiku itu menatap Papa dengan mata penuh amarah yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya.

“Aku capek pura-pura nggak tahu apa-apa di rumah ini,” katanya pelan.

“Semua orang bohong.”

“Keenan.” mama mulai panik.

“Sudah, makan dulu.”

“Aku nggak lapar.” Ia berdiri kasar hingga kursinya bergeser nyaring.

BRAK

“Kalau rumah ini dijual, bilang aja sekalian! Biar aku nggak usah pulang lagi!”

“Keenan!” Mama membentak untuk pertama kalinya.

Namun Keenan sudah pergi. Pintu depan dibanting keras.

Dan ... lagi-lagi rumah kami dipenuhi sunyi yang terasa lebih bising daripada pertengkaran.

Papa mengembuskan napas panjang lalu berdiri tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun.

“Papa berangkat duluan.”

Mama tidak menjawab. Begitu juga denganku.

Yang tersisa hanya suara motor papa yang menjauh dari halaman rumah.

Setelah itu… hening, kesunyian mengunjungi tempat ini lagi.

Mama duduk perlahan di kursi sambil memijat pelipisnya. Aku belum pernah melihat wajahnya setua itu di pagi ini.

“Mama …” aku membuka suara hati-hati.

Mama tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan.

“Kamu kuliah jam berapa?”

Aku tahu itu artinya beliau tidak ingin membahas semuanya.

Dan entah kenapa, itu justru membuat dadaku semakin sesak.

Akhirnya aku pergi tanpa pamit.

Hari ini hujan turun lagi. Bandung seperti tidak pernah benar-benar kering belakangan ini.

Tapi aku tetap kuliah, kali ini papa tidak mengantarku, tapi ... beruntungnya aku, Dian menjemputku ke rumah.

Hingga siang menjelang, informasi jam kosong lebih riuh daripada jam istirahat.

Aku pulang lebih cepat karena dosen membatalkan kelas sore. Begitu membuka pagar rumah, aku menangkap sesuatu yang aneh.

Pintu depan terbuka sedikit, lampu ruang tamu mati. Di rumah sepi seperti tak berpenghuni.

“Mama?”

Tidak ada jawaban. Aku masuk perlahan.

Tas sekolah Keenan tergeletak di lantai ruang tamu. Salah satu sepatunya bahkan masih berada dekat sofa.

Aku mengernyit. “Keenan?”

Tetap tidak ada jawaban.

Langkahku berhenti ketika mendengar suara pelan dari dapur. Suara seseorang menangis.

Aku berjalan cepat ke sana. Mama duduk di lantai dapur sambil memegang beberapa lembar kertas. Bahunya bergetar pelan.

“Mama!”

Beliau buru-buru menghapus air mata dan mencoba tersenyum ketika melihatku.

“Kamu udah pulang?”

Aku berjongkok di depannya.

“Ada apa?”

“Nggak apa-apa.”

Lihat selengkapnya