Aku berada dalam kebimbangan yang belum usai, keraguan dan pengingkaran akan mama dan papa.
Keenan belum pulang. Padahal jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi pintu rumah tetap tertutup rapat tanpa suara langkah, tanpa bunyi pagar, tanpa pesan.
Mama duduk di ruang tamu sejak satu jam lalu. Masih memakai baju yang sama masih memegang ponsel yang layarnya terus menyala lalu mati.
Papa mondar-mandir, tak karuan. Sementara aku hanya diam di dekat jendela, memandangi hujan yang belum juga berhenti sejak sore.
Rumah kami terasa lebih dingin dari biasanya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut keluarga kami tidak akan bisa kembali seperti dulu.
"Papa telepon teman-temannya?” tanyaku pelan.
Papa mengangguk singkat.
“Nggak ada yang lihat.”
Mama langsung menutup wajahnya.
“Aku takut dia kenapa-napa …”
“Jangan ngomong sembarangan,” potong papa cepat.
Namun nada suaranya sendiri terdengar tidak yakin, suasana hening kembali.
BRUK!
Suara sesuatu jatuh dari dapur. Mama tersentak.
“Apa itu?”
Papa langsung berjalan cepat ke belakang rumah. Aku mengikuti di belakangnya.
Lampu dapur masih mati. Hanya cahaya samar dari luar jendela yang masuk bersama suara hujan.
Papa menyalakan lampu, dan kami langsung membeku.
Seekor kucing kurus melompat turun dari meja dapur, membuat gelas jatuh lalu pecah di lantai.
“Hah …” Mama mengembuskan napas lega sambil memegangi dada.
Namun entah kenapa, aku masih merasa tidak tenang.
Perasaanku buruk, sangat buruk.
Pukul dua pagi. Keenan masih belum pulang.
Mama akhirnya tertidur di sofa karena kelelahan sambil menggenggam ponsel.
Papa duduk diam di meja makan dengan kepala tertunduk.
Aku belum pernah melihat beliau setenang ini.
Dan itu justru terasa menakutkan.
“Pa …”
Beliau mengangkat kepala perlahan.
“Papa tahu Keenan sering pergi ke mana?” tanyaku.
Papa diam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan, “Dulu dia suka ke warnet dekat terminal.”
“Dulu?” aku membuka mata.
Papa tersenyum kecil.
(“Sekarang papa bahkan nggak tahu lagi makanan favorit anak sendiri.”)
Dadaku terasa sesak mendengarnya. Aku duduk di kursi seberang beliau. Untuk beberapa saat kami hanya diam mendengarkan hujan.
Sampai akhirnya Papa bicara lagi.
“Dulu waktu kalian kecil …” suaranya rendah, “Papa pikir kerja keras aja cukup buat bikin keluarga bahagia.”
Aku menatapnya.
“Ternyata nggak sesederhana itu.”
Mulutku berhenti bicara. Karena di depanku sekarang bukan lagi sosok ayah yang selalu terlihat kuat.
Melainkan lelaki lelah yang perlahan kehilangan semuanya.
Keesokan paginya, rumah terasa kosong.
Mama bangun dengan mata sembab. Papa pergi sejak subuh tanpa bilang ke mana.
Dan Keenan ... masih belum pulang.