Kita Pernah Menyebutnya Rumah

Tini Ubadipura
Chapter #4

Rahasia Papa Terbongkar

"Papa main judi?" batinku.

Kata-kata yang keluar dari mulut Keenan menggantung di udara, terasa lebih dingin dan tajam daripada tetesan hujan di luar.

​Mama melepaskan pelukannya pada Keenan. Beliau mundur satu langkah, menatap Keenan dengan tatapan tak percaya, lalu beralih menatap Papa.

Keheningan yang tercipta setelahnya begitu pekat, sampai-sampai suara detik jam dinding di ruang tamu terdengar seperti dentuman.

​"Keenan ... kamu ngomong apa?"

Suara Mama bergetar, separuh berbisik, seolah takut jika ia berbicara terlalu keras, kebenaran pahit itu akan benar-benar menjadi nyata.

​Keenan tidak menjawab. Matanya yang merah dan berkantung tebal tetap tertuju lurus pada Papa.

"Tanya sama Papa, Ma. Tanya uang yang selama ini buat bayar cicilan rumah itu dari mana. Tanya kenapa Papa selalu pulang larut malam dengan baju bau asap rokok dan tampang kusut, padahal katanya habis rapat sama klien."

​"Keenan! Cukup!" bentak Papa. Suaranya menggelegar, namun ada nada panik yang kentara di sana. Wajah Papa yang tadi pucat kini memerah padam.

​"Kenapa, Pa? Takut Nara sama Mama tahu?" Keenan tertawa sinis, air mata akhirnya luruh di pipinya yang kotor.

"Awalnya aku memang niat kabur, tapi ... aku mendadak penasaran sama papa. Aku nyari Papa ke kantornya karena nomor Papa gak aktif. Dan tahu apa yang aku temuin di sana? Satpam bilang Papa sudah di-PHK sejak enam bulan lalu!"

​Mendengar itu, lutut Mama lemas. Beliau hampir terjatuh jika saja aku tidak segera menahan lengannya. Tubuh Mama gemetar hebat.

​"Enam bulan ...?" gumam Mama lirih.

"Papa ... itu gak bener, kan? Tiap pagi Papa tetap pakai kemeja, tetap bawa tas kerja ..."

Lihat selengkapnya